afi.unida.gontor.ac.id – Rabu, 4 september 2019, Mahasiswi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam semester lima Universitas Darussalam Gontor, berkunjung ke Yayasan Nur Semesta dan “Dersane” (Pusat Kajian) para Thullabun Nur Ciputat Jakarta Selatan, untuk mengkaji Rasa’il Nur Karya Badi’zzaman Sa’id Nursi dan pengaruhnya di Dunia Islam. Beberapa pejabat penting hadir dalam acara ini; Ustadz. Irwandi, Lc. selaktu direktur eksekutif dan  dan al-Ustadz. Hasbi Sen M.Hum. founder dan direktur utama Yayasan Nur Semesta.

Misi ditulisnya Risalah Nur ini adalah untuk menyembuhkan atau membalut segala bentuk penyakit (hati) dengan al-Qur’an, disebabkan adanya penyakit kronis yang melanda umat Islam Turki secara khusus dan dunia Islam secara umum. Dalam konteks ini, Rasail Nur berperan bagaikan “Air bagi orang yang haus, dan obat bagi orang yang sakit.” ucap Ustadz Irwandi. Dalam ibarat inipun beliau juga menjelaskan, layaknya tubuh yang membutuhkan makanan, hati pun juga membutuhkan nutrisi, disinilah peran Rasail nur.

Baca Juga: Forsima STAIDA Mengikuti Kajian Diskusi Mingguan Bersama Yayasan Nur Semesta Said Nursi

Tak sampai disitu, Ustadz Hasbi juga menjelaskan dengan sangat rinci mengenai biografi panjang perjalanan Said Nursi,  sejarah penamaan Risalah An-Nur, juga keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada Said Nursi. Sedikit dari penjelasan beliau, Said Nursi dengan memori fotografisnya mampu menghafalkan buku-buku dengan sekali baca. Tak hanya menghafal, Said Nursi juga memahami dengan detail apa yang telah dibacanya. Dengan kelebihan itu, beliau sudah menghafal dan memahami ratusan buku induk, yang diantaranya adalah kutub Sittah. Bahkan Jam’ul Jawami’ pun mampu dihapalnya dalam satu malam.

Adapun alasan penamaan Risalah An-nur adalah karena beberapa hal, antara lain para guru Said Nursi banyak yang bernama Nur. Selian itu Sa’id Nursi banyak terinspirasi dari surat An-Nur. Untuk itu beliau banyak sekali menggunakan kata “Nur” dan matahari sebagai analogi dalam kitabnya. Rasail Nur sendiri sebenarnya adalah kumpulan dari beberapa kitab yang ditulisnya; al-Kalimat, al-lama’at,  as-Syu’aat,  al-Matsnawi, Shaiqal Islam, al-Malahiq dan lain sebagainya.

Sehari bersama Rasa'il dan Badiuz Zaman Sa'id Nursi; Dari A sampai Z
Para mahasiswi Prodi AFI dalam Studi Pengayaan Lapangan (SPL) di Yayasan Nur Semesta

Selian itu Ustadz. Hasbi juga menceritakan tentang kehidupan Said Nursi sebagai seorang pejuang. Beliau pernah tiga kali di penjara, juga lima kali diasingkan selama 25 tahun lamanya, sebagai tahanan politik dan tahanan perang. Namun kehidupan penjara dan pengasingan tersebut justru semakin memantapkan pribadinya. Bahkan Said Nursi tidak menyebutnya sebagai penjara melainkan “Madrasah Yusufiyah”, nama yang diambil dari riwayat hidup nabi yusuf, yang merupakan nabi pertama yang dijebloskan kedalam penjara. Namun disitulah Said Nursi justru menciptakan banyak tulisan dan karyanya.

Baca Juga: TEOSOFI QUR’AN; MENEROPONG CORAK FILSAFAT NURSI

Diantara ribuan pembahasan dalam rasail,  salah satunya adalah mengenai makna kebebasan. Menurut Said Nursi “tidak ada kebebasan yang bersifat mutlak, melainkan terbatas oleh orang lain. Manusia bebas, tapi manusia itu ‘Abdulloh (hamba Allah) jadi tetap ada batasan dari syari’at Allah”  Ustadz Hasbi memaparkan.

Pemikiran Said Nursi yang sangat berpengaruh pada masyarakat Turki dan Dunia memberikan suatu efek atas keimanan yang haqiqi juga membentuk pribadi yang taat agama. Rasail Telah diterjemahkan ke dalam kurang lebih lima Puluh bahasa. Banyak Dersane yang berdiri dibelahan dunia termasuk di Inonesia.

Oleh : Nabila Rohmatillah
Mahasiswi Semester V Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam – Kampus Mantingan

One Comment

  1. Pingback: Sufi-Saintis, Mungkinkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *