afi.unida.gontor.ac.id.- Bagaimana spiritualitas didalam Revolusi industri memasuki peradaban digital yang mengandalkan teknologi atau platform yang kian diperbaharui sebagai subjek utama untuk memudahkan hidup manusia?. Para ahli teknologi bersama aktivis ekonomi berlomba-lomba untuk merumuskan cyber system dan Internet of Things demi eksistensi dalam bidang yang digelutinya. Dapat disimpulkan bahwa kedepannya, sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah mereka yang memahami teknologi, mampu mengendalikan server, namun juga harus terbiasa dengan segala pembaharuan regulasi untuk kepentingan teknologi. Sehingga lambat laun, semua manusia akan mengikuti dan menyesuaikan diri dengan teknologi. Padahal, sejatinya teknologi itu adalah artificial intellegence atau kecerdasan buatan. Sebuah mesin atau robot tidak akan bisa melakukan sesuatu jika dari awal memang tidak di program untuk melakukan hal tersebut.

baca juga DEMISTIFIKASI NALAR DAN REALITAS, KAJIAN ANTARA SAINS DAN AGAMA

Rektor International Islamic University Malaysia (IIUM),  Prof. Dr. Tan Sri Dato’ Dzulkifli Abdul Razak, menyangkut hal ini juga berpendapat bahwa pada akhirnya, semua akan mempertanyakan kaum intelektual dari perguruan tinggi, institut-institut terkemuka, dan lembaga pendidikan lainnya: “Bagaimana cara memanusiakan manusia?” dengan konotasi “memanusiakan” yang berarti mengembalikan moralitas manusia yang ideal. Hal ini didasari oleh fenomena transformasi karakter para pengguna gawai yang bermuatan negatif: dari tidak memahami jadi mendalami, dari terlindungi menjadi terpapar, dan dari terisolasi menjadi terjangkit. Sementara kita semua sebenarnya menyadari bahwa konten-konten yang bertebaran bebas di internet dan pengunaan internet itu sendiri telah berdampak pada paham, pola pikir, dan kecenderungan yang menciptakan perubahan perilaku manusia. Tanpa terkecuali spiritualitas kaum Muslim. Sering kali, karena itu, revolusi digital ini dianggap memudahkan sekaligus merugikan. Fenomena ini kini ramai disebut sebagai cyber propaganda.

baca juga Manajemen Spiritual dibutuhkan di era RI 4.0

Umat Muslim perlu memahami bagaimana revolusi industri 4.0 mempengaruhi perilaku manusia dan hubungannya dengan segala bidang kehidupan secara universal. Terlepas dari kebutuhan akan kemudahan dalam bekerja, bantuan teknologi, dan serta peningkatan yang mencangkup multi-industry, kita seharusnya juga sadar dan paham akan kebutuhan hakiki dari pikiran, mental, dan hati kita. Karena realisasi daripada Islamisasi ilmu pengetahuan memerlukan pengetahuan  fundamental akan kedua hal tersebut: Islam dan ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu sendiri perlu melibatkan semua pihak, termasuk yang paling berkaitan dengan revolusi industri 4.0: para ahli teknologi. Sayangnya, sedikit dari mereka menyadari peran besar yang menjadi tanggung jawab mereka untuk memperbaiki peradaban dengan nilai-nilai Islam. Padahal, ada banyak hal yang dapat mereka lakukan dengan keahlian mereka untuk menjawab tantangan, sekaligus memanfaatkan peran dan pengaruh dari revolusi industri 4.0, antara lain dengan memfasilitasi dakwah digital, menciptakan start-up yang bermisi spiritualitas, serta masih banyak lagi.

Kitalah yang harus mengendalikan teknologi, mengarahkannya kepada sesuatu yang memuat kebenaran, mengingat pada disetiap zaman yang berevolusi, perubahan yang terjadi menjadi tantangan tersendiri bagi Islam. Kita semua sesungguhnya diberatkan untuk menguatkan pendirian kita sebagai umat Islam yang dapat dilakukan dengan menaruh perhatian besar pada pendidikan karakter dan ilmu pengetahuan yang dapat memperbaiki generasi muda untuk menghindari krisis moral dan disrupsi lainnya yang didasari oleh miss-epistemology atau kesalahpahaman akan tekonologi dan Islam, yang mana dapat berujung pada misinterpretation atau interpretasi yang salah.Jika kita terbiasa untuk menanamkan, membentuk, dan menerapkan amanah (strong faith) kapan dan dimanapun kita berada, dengan memahami dan meyakini bagaimana amanah tersebut memberikan manfaat dan memperingati diri kita, maka kita tidak akan mungkin begitu rentan terhadap pengaruh revolusi apapun, sekalipun teknologi kini mendominasi hidup manusia. Disamping itu, segala sesuatu yang kita ciptakan pun akan selalu memuat kebaikan dan spiritualitas

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Pen : Shafa Rania Maris
Mahasiswi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Sem I – Kampus Mantingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *