Sebelum masuk lebih jauh dalam pemikiran Al-Farabi dan Ibn Rusyd. Satu hal penting adalah adanya paham kesatuan dan hierarki keilmuan dalam Islam. Maksudnya, ilmu-ilmu manusia, tidak peduli dari saluran mana dituntut, ia adalah satu kesatuan karena sumber utamanya adalah satu, yaitu intelek Ilahi. Akan tetapi, ilmu-ilmu tersebut tidak berada pada derajat yang sama, masing-masing berada pada posisi dan derajat yang berbeda. Artinya, di sini ada hierarki keilmuan, di mana suatu ilmu tertentu lebih mulia dibanding yang lain karena adanya perbedaan derajat objek dan subjek yang mengetahui. Dan pemikir yang merupakan guru besar di Georgetown University, USA, Osman Bakar, ini menyebutkan gagasannya tentang kesatuan ilmu-ilmu manusia sebagai satu kesatuan dari intelek Ilahi.

            Ide kesatuan ilmu yang disampikan oleh Osman Bakar tersebut lahir dari hasil penyelidikan tradisional terhadap epistemologi. Orang itu kalau meneliti pengetahuan, mau tidak mau ia akan mengkaji masalah asal dan sumber pengetahuan itu sendiri. Dalam pemahaman teologis Islam, sumber utama pengetahuan adalah wahyu (al-Qur’an atau firman Tuhan) dan alam (ayat-ayat-Nya). Hal inilah yang menjadikan Al-Farabi dan Ibn Rusyd berusaha keras mempertemukan wahyu dengan rasio dan agama dengan filsafat.

            Soal perbedaan pandangan dalam soal sumber pengetahuan antara Al-Farabi dan Ibn Rusyd inilah yang kemudian menjadi inti dari sumber pengetahuan. Oleh karena itu, soal sumber pengetahuan tersebut membutuhkan kajian filsafat Barat dan pandangan tersendiri yang khas yang dimiliki oleh Al-Farabi dan Ibn Rusyd. Pada laporan singkat ini, penulis hanya memfokuskan pada sumber-sumber pengetahuan dalam pandangan Al-Farabi dan Ibn Rusyd.

baca juga USTADZ. SHOHIBUL MUJTABA: BENARKAH ILMU PENGETAHUAN (SAINS) ITU NETRAL?

            Menurut Al-Farabi, kemampuan berpikir adalah kekuatan utama manusia untuk memahami suatu objek. Al-Farabi membagi kemampuan berpikir dalam dua bagian: teoritis (nazhari) dan praktis (amali). Kemampuan berpikir teoritis adalah kemampuan berpikir yang biasa digunakan untuk mengetahui eksistensi-eksistensi sedemikian rupa. Misalnya, angka tiga adalah bilangan ganjil dan angka empat adalah bilangan genap. Kita tidak bisa mengubah angka tiga menjadi bilangan genap dan mengubah angka empat menjadi bilangan ganjil. Hal ini berbeda sama sekali. Kemampuan berpikir praktis terbagi dalam dua bagian: sebagai bentuk keterampilan dan reflektif (fikriyah).

            Kemampuan berpikir praktis (amali) adalah sesuatu yang dimanfaatkan untuk membedakan sedemikian rupa sesuatu objek dengan yang lain. Contohnya, kita dapat lihat pada bidang-bidang keterampilan, seperti pertanian, pelayaran, dan pertukangan. Adapun bentuk atau daya reflektif (fikriyah) adalah kemampuan yang digunakan untuk mempertimbangkan hal-hal yang hendak dilakukan. Misalnya, kita ingin mengetahui apakah hal tersebut mungkin atau tidak, dan jika mungkin bagaimana caranya. 

            Menurut Al-Farabi, daya berpikir teoritis berfungsi untuk menerima bentuk-bentuk objek tertentu yang bersifat universal dan immaterial, yang disebut objek intelektual. Bentuk-bentuk objek tersebut yaitu: bentuk-bentuk universal yang diabstraksikan dari materi-materi dan bentuk-bentuk yang senantiasa terjaga aktualisasinya, yakni bentuk-bentuk yang tidak dan tidak pernah berwujud dalam materi. Jenis objek pengetahuan yang terakhir ini mengarah pada Sebab Pertama, setelahnya diikuti oleh intelegensi-intelegensi terpisah dan terakhir yaitu intelek aktif. Dengan demikian, objek intelektual Al-Farabi sangat luas. Karena itu, berikutnya tidak disampaikan di sini.

            Al-Farabi mengatakan, setiap manusia mempunyai “watak bawaan tertentu” yang siap menerima bentuk-bentuk pengetahuan universal seperti di atas. Watak disebut intelek potensial. Intelek berisi potensi-potensi yang akan mengabstraksikan bentuk-bentuk pengetahuan yang diserapnya setelah meningkat menjadi intelek aktual, tetapi proses abstraksi dari intelek potensial tidak akan terjadi kecuali ada “cahaya’ dari intelek aktif.  Yang proses aktualisasi subjek dan objek intelektual oleh intelek aktif tersebut, dalam diri manusia, terjadi lewat daya pikir, praktis maupun teoretis.

            Daya pikir praktis berkaitan dengan objek-objek partikular yang ada maupun tidak ada, sedangkan daya pikir teoretis berkaitan dengan segal sesuatu yang tidak dapat dijangkau daya pikir praktis. Al-Farabi mengidentifikasi intelek aktif dengan “ruh suci” atau Jibril. Intelek aktif adalah “gudang” sempurna bentuk-bentuk pengetahuan. Fungsinya, sebagai model kesempurnaan intelektual. Mencapainya, manusia harus mewujud sosok manusia hakiki. Yaitu, ketika intelek manusia dapat bertemu dan bersatu dengan intelek aktif sehingga ia dapat memperoleh bentuk-bentuk pengetahuan yang dilimpahkan kepadanya.  Dengan demikian, intelek aktif merupakan sumber pengetahuan dalam perspektif Al-Farabi.

            Ibn Rusyd mendefinisikan, ilmu sebagai pengenalan tentang objek dengan sebab dan prinsip-prinsip yang melingkupnya. Objek-objek pengetahuan yaitu: objek-objek indriawi dan rasional. Objek indriawi adalah benda-benda yang berdiri sendiri yang ditunjukkan oleh benda-benda tersebut, sedangkan objek-objek rasional adalah substansi dari objek-objek indriawi, yaitu esensi dan bentuk-bentuknya.  Oleh karena itu, dalam Dhamimah, Ibn Rusyd secara tegas menyatakan bahwa dua bentuk wujud objek itulah sumber pengetahuan manusia.

baca juga Filsafat Ilmu Islami : Manusia Bisa Tahu Yang Benar

             Dengan konsep seperti itu, Ibn Rusyd dikategorikan sebagai pemikir empirik. Beliau memberi peran yang signifikan bagi rasio. Menurut Ibn Rusyd, rasio bukan seperti botol kosong yang hanya siap untuk diisi pengetahuan, melainkan jiwa yang aktif untuk mencari pengetahuan.  Ibn Rusyd melihat objek pengetahuan tidak hanya bersifat material indriawi, tetapi juga non-material dan beliau berpikir objek justru dikaitkan dengan keyakinan dan peran aktif Tuhan. Dengan demikian, konsep sumber pengetahuan Ibn Rusyd merupakan pemikiran empiris yang rasional.

            Pengetahuan Ibn Rusyd berdasarkan atas realitas-realitas wujud dan juga atas sumber lain. Menurut Ibn Rusyd, realitas-realitas wujud yang ada dalam alam semesta ini tidak semuanya dapat ditangkap oleh rasio dan rasio manusia sendiri mempunyai kelemahan-kelemahan dan keterbatasan-keterbatasan. Misalnya, soal kebaikan dan keselamatan di akhirat. Dengan demikian, sumber pengetahuan dalam perspektif Ibn Rusyd yaitu: realitas-realitas wujud dan wahyu. Realitas wujud melahirkan ilmu dan filsafat, sedangkan wahyu memunculkan ilmu-ilmu keagamaan.

            Hubungan di atas ini selaras antara wahyu dan rasio, dapat dilihat pada posisi penting rasio dalam wahyu. Menurut Ibn Rusyd, rasio mempunyai peran besar dalam proses pemahaman terhadap wahyu dan realitas. Yaitu, ia bertindak sebagai sarana untuk menggali ajaran-ajaran dan prinsip-prinsipnya lewat metode tafsir atau takwil sehingga terjadi rasionalitas dalam ilmu-ilmu keagamaan. Rasionalitas ilmu-ilmu keagamaan didasarkan atas maksud dan tujuan sang legislator (maqashid al-syar’i), yaitu untuk mendorong kepada kebenaran dan kebajikan. Rasionalitas sains dan filsafat didasarkan atas prinsip-prinsip kausalitas alam. Dan doktrin dua bentuk sumber pengetahuan tersebut merupakan salah satu usaha Ibn Rusyd untuk menyelaraskan antara wahyu dan rasio, agama dan filsafat.

            Berdasarkan pemaparan yang ada dapat diketahui ada perbedaan pandangan antara Al-Farabi dan Ibn Rusyd dalam soal sumber pengetahun. Al-Farabi mendasarkan pada intelek aktif, sedangkan Ibn Rusyd pada realitas wahyu. Intelek aktif adalah sumber semua bentuk pengetahuan, baik yang rasional teoretis (ma’qulat) maupun praktis indrawi (mahsusat) dan wahyu dan realitas adalah dua sumber pengetahuan yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Daftar Pustaka

Al-Farabi, Aphorisme of the Statesmen, terj dan ed. DM. Dunlop (Cambridge: Cambridge University Press, 1961).

Al-Farabi, Mabadi’ Ara Ahl al-Madina al-Fadhila (One the Perfect State), terj dan ed. Richard Walzer (Oxford: Clarendon Press, 1985).

Al-Farabi, Uyun al-Masa’il.

Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, II.

Ibn Rusyd, Dhamimah al-Mas’alah.

M. Imarah, al-Madiyyah wa al-Mitsaliyyah fi Falsafah Ibn Rusyd (Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th)

Pen : Alfi Huda
Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Sem V – Kampus Siman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *