Tema “zauj” kerap menjadi bahan yang menarik dan menghasilkan beberapa fakta akan keharmonisan didalam berbagai lingkup pembahasan. Harmonisasi kehidupan, baik ditinjau secara spiritual, alam ataupun sosial mempunyai keterkaitan erat dengan nilai-nilai esensisal Al-qur’an.Al-qur’an adalah solusi atapun jawaban dari semua masalah yang muncul dimuka bumi ini.Maka, konsep “zauj” merupakan salah satu solusi dari masalah-masalah ketimpangan didalam problematik kehidupan.Akhir-akhir ini sains modern mengemukakan kemukjizatan al-qur’an didalam konsep “berpasangan” (zauj).Bahwasanya segala sesuatu diciptakan secara berpasang-pasangan.Karena eksistensi sesuatu adalah satu-satunya balancing power dari eksistensi pasangannya dalam membentuk harmonisasi kehidupan.[1] Dengan kata lain, berpasangan menjadi karakterisik terpenting dalam penciptaan sesuatu. Eksistensi  pasangan tersebut menjadi kebutuhan atau pembanding keberadaan suatu objek.

Al-Qur’an menyebut terma zauj dengan 21 bentuk sebanyak 81 kali didalam 72 ayat yang tersebar pada 43 surat yang berbeda. [2]Dari segi kebahasaan, kata “zauj” mempunyai bentuk jamak yang berarti “azwaaj”.Menurut pakar kebahasaan, Ar-Raghib Al-Asfahani, kata “zauj” digunakan untuk masing-masing dua hal yang berdampingan atau bersamaan.[3]Menurut tata bahasa, kata zauj merupakan bentuk muzakkar.Akan tetapi secara kontestual, kata ini tidaklah menunjukkan feminin ataupun maskulin.Bahkan pemakaianya bergantung kepada variable yang menyertainya, karena didalam Al-Qur’an menggunakan kedua bentuk tersebut, baik secara feminism ataupun maskulin dalam dimensi sosial.Akan tetapi dalam konteks satwa, tumbuhan ataupun keseimbangan alam, zauj berarti segolongan, sekelompok ataupun menjelasan tentang varian hal.Teori keberpasangan tersebut bisa akibat kesamaan dan bisa juga karena bertolak belakang bahkan dalam bentuk susunan.Seperti halnya dari satu realitas tunggal yang terdiri dari dua bentuk dengan perbedaan sifat, fungsi dan karakteristik.Akan tetapi kedua bentuk tersebut saling melengkapi dan berintegrasi sebagai satu substansi.

Al-Qur’an adalah petunjuk umat manusia yang tidak hanya mengatur dimensi batiniy didalam dinamika kehidupan.Akan tetapi Al-Qur’an juga mengatur tatanan sosial, keseimbangan alam, politik, ekonomi, moral, etika dan lain sebagainya.Sebagian ulama berpendapat, bahwa Al-Qur’an berisi dua peraturan pokok,[4] yaitu peraturan yang mangatur hubungan manusia dengan Allah SWT dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya serta alam dan sekitarnya.

Didalam Al-Qur’an terdapat banyak pemecahan masalah baik yang dzahir ataupun yang bathin.Maka dalam pemahaman Al-Qur’an, manusia membutuhkan peran keilmuan untuk mengungkap nilai-nilainya secara konstektual.Seperti halnya teori tentang “berpasangan (zauj) merupakan teori ilmiah yang akan selalu berkembang, karena pembuktianya akan selalu berproses melalui serangkaian penelitian.[5]Teori nya berlaku sepanjang zaman dan masa serta bersifat universal untuk semua umat manusia.Maka sebenarnya, Al-Qur’an telah membuktikan sekian banyak isyarat ilmiah dan sejalan dengan penemuan para ahli.

baca juga DR HAMID FAHMY ZARKASYI M.A M.PHIL : PROBLEM KONSEP ILMU MERUPAKAN TANTANGAN GENERASI MILLENIAL

Gagasan akan tema “zauj” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, jantan atau betina, maskulin atau feminim. Pasangan dengan lingkup lua, bukan hanya manusia ataupun satwa saja yang dijelaskan akan berpasang-pasangan. Namun semua makhluk juga demikian.Al-Qur’an menjelaskan bahwa terdapat keanekaragaman hayati didalam fauna yang tersebar di alam semesta ini. Bahkan tidak berhenti dilingkup mahluk hidup akan tetapi juga benda-benda langit, material ataupun benda mati. Seperti halnya alas kaki, sepasang sepatu (huffain) atau  sepasang sandal (na’lain). [6]

Konsep “zauj” didalam konteks manusia sangat kompleks sehingga mendapatkan perhatian dalam  porsi paling besar karena membutuhkan aturan yang mendetail. Semua aturan tersebut dimaksudkan untuk membentuk keseimbangan antar manusia sendiri sebagai mahluk sosial agar mampu berdampingan.Ide keseimbangan yang dimuat dalam penyebutan zauj adalah untuk menunjukkan bahwa setiap lini kehidupan manusia membutuhkan adanya keseimbangan. Bukan hanya kehidupan sosial manusia akan tetapi mencakup dinamika keseimbangan alam beserta seluruh komponen-komponen didalamnya.

Definisi Zauj

Dalam bahasa arab, kata zauj (pasangan)  berarti suami (ba’l) dan juga istri (zaujah); yang merupakan kebalikan dari kata fard  (seorang diri tanpa yang lain). [7]Zauj berarti dua (sepasang), baik laki-laki ataupun perempuan

Seperti firman Allah :
“Bahwasanya dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan” (QS. An-Najm 45)

Akan tetapi berpasang-pasangan disini bukanlah hanya konsep laki-laki dan perempuan.Allah telah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan.Baik secara materi ataupun non-materi.Pasangan yang diciptakan Allah bukan hanya sekedar menyangkut lawan jenis saja, melainkan mencakup aspek material yang lebih luas.Setelah dianalisis lebih mendalam ternyata materipun diciptakan secara berpasang-pasangan.[8]seperti electron dan proton, negative dan positive. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan Allah dalam firmannya :

“Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”(QS. Yasiiin 36)

Penciptaan semua hal yang ada dimuka bumi ini telah terencana dengansempurna dan tanpa cela.Penuh keseimbangan yang disertai fungsi yang berbeda-beda. Karena berpasangan bukan berarti didalam satu substansi yang sama, akan tetapi bisa diartikan sebagai bentuk kesatuan yang berbeda dengan fungsi yang saling berkaitan dan menunjang. Seperti halnya penciptaan siang dan malam, didalam kalam-Nya, Allah berfirman :

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS:Az-Zumar 5)

Konsep berpasang-pasangan telah diatur oleh dalam konsep yang sedemikian tersistem. Malam tidak akan pernah muncul jika siang tidak berakhir, begitupula siang tidak akan pernah berjalan dalam langkah yang sama dengan malam. Maka, siang dan malam adalah pasangan yang mempunyai fungsi yang berbeda dengan kelengkapan atribut  untuk melaksanaan perannya masing-masing. Kesistematisan hal ini telah diatur dalam penjagaan keseimbangan alam semesta.

Dari beberapa ayat yang lain menunjukkan makna lain dari zauj yang berarti macam atau jenis dari sesuatu

“…… dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”(QS. AlHajj : 5)

Keanekaragaman yang diciptakan Allah untuk menghiasi Bumi Allah tidak terhitung macamnya.Dari keanekaragaman hal itu akan tersirat betapa agungnya kekuasaan Allah. Allah menciptakan keanekaragaman jenis yang terlahir dari jenis-jenis yang lain. Sehingga terciptalah berbagai macam jenis yang saling berkaitan dan berkesinambungan.

ANALISIS AYAT-AYAT TENTANG ZAUJ
Ruang Lingkup Makna Zauj berdasarkan konteks penggunaan dalam Ayat Al-Qur’an

Zauj sebagai konsep Pernikahan

Setelah menilik beberapa ayat, maka beberapa ayat mengarahkan akan pentingnya pernikahan didalam Islam. Islam sangat mensucikan hubungan penikahan didalam Islam.Zawaj atau penikahan berarti ikatan yang amat suci dimana dua insan yang berlainan etnis dapat hidup bersama dengan direstui agama.Allah menciptakan makhluknya secara bersuku-suku agar saling mengenal. Konsep pernikahan didalam Islam sebagai salah satu cara untuk mengena calon pasangan hidup, seperti yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS:Al-Hujuraat 13)

Islam mengingatkan umatnya betapa pentingnya konsep pernikahan.Dimana dua insan yang mempunyai perbedaan latar belakang menjalani kehidupan bersama.Menjalani kehidupan bersama dengan latar belakang asal-usul yang berbeda dianggap menyusahkan bagi sebagian besar manusia.Akan tetapiAl-Qur’an telah melukiskan betapa indahnya hubungan pernikahan.Pernikahan adalah ungkapan sempurna yang hakiki dan suci.Islam mengisyaratkan hubungan manusia yang suci adalah dengan simbolisasi pernikahan yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

Dewasa ini, masyarakat mengenal akan konsep pernikahan yang membebani, meyusahkan dan mempersulit kehidupan manusia. Mayoritas kehidupan hedonis tidak mengenalkan konsep-konsep sosial yang telah diterangkan didalam Al-Qur’an. Sementara berkebalikan dengan Islam, Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa pernikahan mempunyai dampak positif baik secara jasmani ataupun rohani, didalam firman-Nya Allah menjelaskan :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”(QS: Ar-Ruum 21)

Pernikahan cenderung memberikan rasa ketentraman dan menumbuhkan rasa kasih sayang.Ketentraman dan kasih sayang tersebut berupaya mencukupi kebutuhan rohani dan jiwa manusia. Hal ini menggambarkan dalam pencapaian ketenangan dengan cara berteduh dengan jenis inividu lain dan saling memberikan bantuan dalam kesulitan.  Melalui proses yang sederhana; Ijab dan Qabul. Konsep pernikahan itumelalui sebuah proses yaitu Akad yang berarti perjanjian makhluk dengan Tuhannya.[9]

Berbeda dengan konsep kerahiban yang menentang pernikahan, Islam justru menyatakan bahwa pernikahan adalah fitrah manusia. Menikah adalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan jiwa setiap insan ciptaan-Nya. Didalam Kalam-Nya, Allah menjelaskan bahwa pernikahan adalah cara untuk mengembangkan keturunan dan menyairkan hasrat seksual secara halal.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Guna memelihara keturunan dan kehormatan diri orang beriman, maka Al-Qur’an menjelaskan tentang kufu’. Kufu’ yang berarti persamaan derajat bukan menjadi syarat dalam pernikahan akan tetapi tanpa kerelaan pihak istri atau walinya makaa pernikahan yang sudah dilangsungkan dapat dibatalkan. [10] Hal ini dijelaskan didalam QS An-Nur:3, yang berbunyi :

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

Persamaan derajat ini bisa disimpulkan dari berbagai macam sisi.Seperti halnya agamanya, wanita muslimah tidak sederajat dengan laki-laki non-muslim. Pernikahan berbeda agama seperti hal ini hanya akan membawa pengaruh buruk dipihak muslim. Oleh sebab itu, Islam telah mengantisipasi sebelumnya. Selain agama,kemerdekaan seseorang pun harus ditinjau darinya. Karena wanita yang merdeka tidak sederajat dengan budak.Kufu’ pun mempunyai cakupan dalam keluarga atau keturunan, kehormatan dan kesucian diri ataupun status sosial. Islam telah mengatur banyak sisi dari kehidupan sosial dengan baik dan sempurna.Sehingga semua berjalan secara baik dan seimbang.

baca juga ZAUJ DALAM AL-QUR’AN (Studi Tafsir Tematik)

Pernikahan didalam Islam, bukan hal yang dianggap memberatkan dan membuka lembar kesengsaraan baru.Rasul telah memerintahkan bagi para pemuda yang sudah akil baligh dan berpenghasilan besar ataupun kecil untuk menyegerakan menikah.[11] Akan tetapi tidak sedikit pemuda yang mampu akan tetapi mengelak untuk menikah. Karena takut tidak mampu untuk menghidupi keluarganya.Padahal Allah telah menjamin rezeki bagi orang yang sudah menikah. Didalam QS An-Nur 32 dikatakan :

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Zauj sebagai konsep keanekaragaman

Ruang lingkup zauj tidak hanya sebatas dicakupan konsep pernikahan saja, akan tetapi zauj mencakup konsep keanekaragaman dimuka bumi ini. Sungguh Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-ciptaan-Nya. Allah menciptakan apa yang ada diatas ataupun didalam permukaan bumi dengan berbagai bentuk makhluk dan bermacam jenisnya. Seperti halnya didalam QS Al-Hajj:5, dikatakan bahwa :

“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

Allah telah mengatur hal sedemikian rupa semata-mata untuk kebutuhan manusia. Jika ditelaah lebih lanjut maka akan difahami sebagai prinsip-prinsip dasar mengenai pelestarian alam. Penjelasan Al-Qur’an tentang keanekaragaman alam baik dari segi jenis ataupun genetikanya mengarahkan manusia kekuasaan Sang Pencipta Alam.

“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS. Thahaa : 53)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? (QS. Asy Syuara : 7 )

Melihat kepada keindahan alam, bukan hanya dengan mata dzahiri saja. Allah memerintahkan untuk memperhatikan alam semesta ini agar manusia mencapai pemahaman akan kemahabesaran-Nya dan mengetahui keagungan-Nya. Bukan untuk menunjukkan keeksistensian-Nya, karena Allah tidak memerlukan alam semesta dan semisalnya untuk menunjukkan keeksistensiannya.[12]Keanekaragaman flora dan fauna ini yang telah menunjukkan keanekaragaman alam yang bersifat materi.Sedangkankonteks pembicaraan Al-Qur’an mencakup pula dengan aspek-aspek yang bersifat tidak diketahui manusia karena keberadaannya yang gaib. Ataupun bersifat materi akan tetapi manusia belum mampu mengungkap keberadaanya.

Zauj sebagai konsep berpasang-pasangan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Allah menciptakan segala apapun yang ada di muka bumi dan didalamnya secara berpasang-pasangan. Zauj adalah salah satu dari kata didalam Al-Qur’an yang menjelaskan akan konsep berpasang-pasangan.

“dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan” (QS Al-Naba’ : 8)

“Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan” (QS Al-Rahman:52)

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yaasin:36)

Ayat pertama menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.Seperti halnya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan.Penciptaan hal ini oleh menggambarkan tentang keseimbangan hubungan sosial yang sehat dan baik. Karena, pada dasarnya laki-laki dan perempuan saling membutuhkan satu sama lain.[13]Laki-laki dan perempuan mempunyai peran dan fungsi yang berbeda-beda.Laki-laki tidak sanggup melakukan peran perempuan, begitu juga dengan perempuan.Karena, laki-laki dan perempuan mempunyai ruang lingkup yang berbeda. Maka, kedua makhluk ini mempunyai posisi yang sama didepan Allah jika melakukan tugasnya masing-masing tanpa mengambil alih dan peran lawan jenisnya. Jika laki-laki melakukan peran perempuan atau sebaliknya, maka akan terjadi ketidakseimbangan atau ketimpangan sosial.

Ayat kedua dan ketiga menjelaskan bahwa bukan hanya manusia yang diciptakan secara berpasang-pasangan.Akan tetapi satwa, flora, fauna serta alam ini diciptakan secara berpasang-pasangan pula.Konsep berpasang-pasangan didalam muka bumi ini sebagai penjaga kelestarian semesta.Sehingga terciptalah keseimbangan alam yang kita tempati ini.Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, akan adanya siang dan malam, darat dan laut, bumi dan langit. Bahkan berpasang-pasangan tidak hanya sebatas pasangan yang bersifat materi saja.Akan tetapi, pasangan yang non-materi atau tidak berwujudpun telah menjaga ketimpangan dari segala aspek kehidupan.Seperti halnya kaya dan miskin, pandai dan bodoh, baik dan buruk.Konsep keseimbangan ini sebagai landasan teologis tatanan dan struktural kehidupan.Kehidupan alam, manusia dan sekitarnya membutuhkan hubungan timbal balik.
Implikasi konsep zauj dalam penyeimbangan kehidupan

Implikasi konsep zauj dalam penyeimbangan kehidupan

Harmonisasi sosial

Dalam kehidupan sehari-hari, individu selalu melakukan hubungan sosial dengan individu lain. Berbagai segi kehidupan yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari akan membentuk suatu pola hubungan yang saling mempengaruhi sehingga akan membentuk suatu sistem sosial dalam masyarakat. Interaksi sosial merupakan wujud dari proses-proses sosial yang ada.Keragaman hubungan sosial itu tampak nyata dalam struktur sosial masyarakat yang majemuk.Maka, konsep zauj menjadi landasan teologis dalam menjaga keharmonisasian interaksi sosial.

Pernikahan berfungsi sebagai sarana dalam pengharmonisasian interaksi sosial.Islam tidak hanya menjadikan pernikahan sebagai sarana bersenang-senang, tapi sebagai tugas sosial dan kewajiban agama.[14]Pelaksanaan tugas sosial maupun kewajiban beragama harus seimbang, baik laki-laki ataupun perempuan harus melaksanakan keduanya secara seimbang.Demi terpeliharanya martabat laki-laki dan perempuan dalam pergaulan sehari-hari, maka Islam menentukan ketentuan yang universal.[15]Sehingga dapat dipastikan ketentuan ini dapat menguntungkan kedua belah pihak.Maka dengan ketentuan pernikahan secara sah, manusia dapat memelihara statusnya sebagai makhluk yang mulia dalam menyalurkan kebutuhan biologisnya. Selain itu telah dikatakan bahwa pernikahan merupakan cara terbaik untuk kelangsungan keturunan manusia itu sendiri. [16]Maka ketika ketentuan pernikahan tersebut dilakukan, manusia dengan sendirinya mengontrol moral dirinya, keluarganya sekaligus masyarakat disekelilingnya.

Pasangan suami dan istri dalam rumah tangga, masing-masing mempunyai peran dan fungsi yang berbeda-beda.Peran suami sebagai kepala keluarga dan bertanggungjawab penuh terhadap keluarganya harus diimbangi dengan peran istri yang mempunyai ketaatan terhadap suami.Perbedaan peranan tersebut bukanlah diskriminasi, karena kedua peranan tersebut sama-sama tunduk pada norma-norma agama dan etika.[17] Fungsi dan peran ini diciptakan dengan bentuk yang berbeda-beda akan tetapi saling melengkapi. Pembedaan peran ini perlu demi pemenuhan diri dari kedua jenis kelamin.Keseimbangan hak dan kewajiban didalam sosialisasi rumah tangga akan berdampak positif baik secara batiny ataupun dzahiri. Ketika pernikahan terjadi hanya karena didasarkan pada seks semata, maka dinyatakan sebagai pernikahan yang tidak lengkap dan sempurna.[18] Dari pernikahan akan melahirkan konsep masyarakat yang lebih luas dan kompleks, yang merupakan materi dari sebagian besar ketentuan moral. Maka lingkungan keluarga yang dilahirkan atau dibentuk dengan tata cara pernikahan yang baik akan menghasilkan komunitas masyarakat besar yang harmonis.

Allah telah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan baik dari segi materi ataupun non-materiil. Kaya miskin, sehat sakit dan lain sebagainya adalah hal yang bersifat non-materiil. Konsep berpasangan non-materiil pun mempunyai andil besar dalam tatanan kehidupan. Seperti adanya sikaya dan simiskin, Etika Islam dengan tegas melarang orang untuk mengemis, hidup sebagai benalu atas hasil kerja orang lain. Sesungguhnya, AlQur’an mencela keras para penggangur dan benalu masyarakat yang bertanggungjawab atas kehidupan sosial dan ekonomi yang menimpa diri mereka sendiri.[19] Islam telah mengatur hukum-hukum yang menyangkut akan kesadaran diri sendiri. Sadar akan mematuhi aturan dan peraturan, kesadaran diri yang akan berujung kepijakan akhlaq.

Seperti halnya kebajikan dan ketaqwaan adalah akhir dari semua pendidikan didalam Islam, karena Rasulullah sendiri diutus untuk melengkapi akhlaq karimah. Maka akhlaq karimah akan bersangkutan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan pemenuhan kebutuhan orang lain. Seperti halnya didalam Al-Qur’an dikatakan bahwa orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghardik anak yatim.[20] Seolah-olah dijelaskan bahwa orang yang mengaku dirinya muslim akan tetapi tidak memenuhi kebutuhan orang lain yang membutuhkan dianggap sebagai pendusta agama. Karena ketidakmampuanya dalam menyeimbangkan antara kebutuhan religiusitasnya sepadan dengan pemenuhan kebutuhan orang lain oleh dirinya. Keharmonisasian sosial-ekonomi akan terjalin dengan selaras ketika Sikaya menjalankan hak dan kewajiban dengan semestinya begitu juga pula dengan Simiskin. Karena kehidupan di bumi ini bisa menjadi bahagia atau sengsara tergantung pada sikap dan perbuatan manusia satu terhadap yang lain. Agama berusaha mendudukkan ekonomi pada norma-norma moralitas dan tanggungjawab[21] karena ekonomi manusia dapat menciptakan ataupun merusak kebahagiaan hidup dibumi ini.

Harmonisasi alam

Didalam Al-Qur’an, konsep keseimbangan ditekankan pada penjagaan tiga titik komponen lingkungan yaitu bumi, flora dan fauna yang saling bertautan. Memelihara bumi dapat dilakukan dengan memelihara apa yang ada diatasnya yang berarti juga harus memelihara komponen ainnya yaitu flora dan fauna, karena penciptaan bumi lengkap dengan gunung dan sungai diatasnya merupakan suatu sistem keseimbangan.[22] Pelestarian flora dan fauna dapat dilakukan dengan menjaga kelangsungan perkembangbiakan sesuai ukuran, yang diartikan manusia tidak boleh hanya melestarikan apa yang bermanfaat baginya saja tetapi juga melestarikan apa yang bermanfaat bagi kehidupan flora dan fauna tersebut. Semua makhluk adalah saling bergantung dan seluruh ciptaan berjalan lancar karena adanya keselarasan yang sempurna.Prinsip keseimbangan ekologi, dimana manusia modern baru menyadarinya melalui sains-sains modern.Sains-sains kealaman telah cukup membukakan sebagian daripadanya untuk memungkinkan imajinasi kita mampu menyusun sistem tersebut secara keseluruhan.

Harmonisasi alam mempunyai pengaruh dalam keseimbangan psikologi manusia. Alam yang kurang harmonis akan menghasilkan ketimpangan psikologi sosial. Allah menciptakan siang dan malam lalu memunculkannya secara bergantian dan tersistem rapi.Siang dan malam mempuyai fungsi, peran dan substantsi yang berbeda akan tetapi kehadirannya menjadi sepasang fenomena alam yang mengatur lini kehidupan manusia. Malam adalah waktu dimana manusia beristirahat dan menghentikan aktivitasnya pada siang hari.Sementara siang adalah waktu dimana manusia mencari karunia Allah.[23] Maka, manusia akan mendapatkan berbagai macam dampak ketika tidak memanfaatkan siang dan malam secara semestinya. Keduanya telah diciptakan Allah dan diatur Allah secara detail, rapi dan sistematis.Siang tidak akan pernah mendahului malam ataupun sebaliknya.

Konsep zauj yang dimaknai sebagai keragaman ciptaan-Nya pun menjadi salah satu dari sekian faktor keharmonisasian alam.Flora dan fauna yang bermacam-macam adalah salah satu isyarat agar manusia merenungkan kekuasaan Dzat Yang Maha Agung.Keanekaragaman alam tidak hanya terdapat didalam flora dan faunanya. Prof. Harun Yahya, menafsirkan tujuh lapis langit dengan menganologikan atmosfir sebagai wujud langit. [24]Setiap lapisan atmosfir dari yang paling bawah hingga lapisan yang teratas mempunyai batas-batas tegas.Selain itu tingkat suhu dan fungsi masing-masing lapis berbeda.Atmosfir mempunyai peran yang luar biasa besar dalam pengharmonisasian alam.Keanekaragam ciptaan Allah mempunyai andil dalam menciptakan keharmonisasian alam. Sementara hubungan alam yang harmonis akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial. Sebaliknya pula, interaksi sosial yang tidak pincang, akan berpengaruh terhadap keseimbangan dan kesehatan Alam. Semuanya mempunyai keterkaitan dan konsep-konsep yang saling mendukung satu sama lain.
Kesimpulan

Konsep zauj didalam alqur’an mempunyai banyak pengertian dan definisi yang berbeda-beda.Akan tetapi pengertian tersebut tidak terlepas dari konsep keseimbangan.Beberapa ayat menjelaskan bahwasanya zauj didefinisikan sebagai pernikahan, keanekaragaman dan berpasang-pasangan.Islam tidak memandang pernikahan sebagai sesuatu yang memberatkan dan menambah beban sosial. Justru dengan adanya ikatan pernikahan yang sah akan berpengaruh positif secara lahiriah atau batiniah. Hubungan antara laki-laki dan perempuan yang diikat dalam pernikahan dan sosial akan menghasilkan keluarga yang baik. Sementara keluarga adalah inti dari pembentuk masyarakat.Maka konsep zauj yang didefinisikan sebagai pernikahan adalah asas dari keharmonisasian sosial.

Zauj juga diartikan sebagai keanekaragaman ataupun konsep berpasangan, baik dari segi materi ataupun non-materiil.Keanekaragaman pertama adalah keanekaragaman yang bersifat flora dan fauna.Allah menciptakan bumi seisinya dengan berbagai macam keragaman bentuk dan fungsinya.Hubungan makluk hidup yang saling berkaitan mempunyai andil besar dalam penjagaan keharmonisan. Alam ini saling berkaitan dan menopang satu sama lain demi menghindari ketimpangan keharmonisasian alam. Keseimbangan yang diciptakan oleh alam mempunyai hubungan timbal balik dengan keseimbangan yang ada dilingkup sosial, politik ataupun ekonomi.

Didalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam  ini diciptakan secara berpasang-pasangan. Konsep berpasang-pasangan bukan hanya ditinjau dari sisi substansinya saja.Akan tetapi peran dan fungsi yang saling melengkapi.Keseimbangan sosial ataupun alam akan tercipta jika setiap pihak terkait menerapkan hak dan kewajibnnya masing-masing secara tersistem. Karena pada dasarnya, Allah telah mengatur segala sesuatu sesuai porsinya masing-masing tanpa terkecuali.Alam membutuhkan keberadaan manusia sebagai khalifah muka bumi untuk menjaga keseimbangannya.Kehidupan manusia yang harmonis adalah salah satu upaya untuk menjaga keharmonisan alam.

Pen : Nabila Huringiin, M.Ag
Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

DAFTAR PUSTAKA

Al-Asfahani, Al-ragib,  Mu’jam Mufradat Alfaz Al-Qur’an, (Beirut:Dar Al-Fikr)

Al-Qur’anul Karim

As-Sakandari, Ibnu Atha’illah, Al-Hikam-Untaian hikmah Ibnu Athaillah, (Penerbit Zaman:Jakarta)

Ensiklopedia pengetahuan Al-qur’an dan Hadist jilid 4, Kamil Pustaka-Jogyakarta

Ensiklopedia pengetahuan Al-qur’an dan Hadist jilid 6, Kamil Pustaka-Jogyakarta

Khalid, Amru, Menjadi Mukmin yang berakhlak, (Qisthy Press:Jakarta, 2005)

Mahdi Al-Istanbuli, Mahmud, Bekal Pengantin, (Aqwam Press:Solo, 2014)

Mustaqim, Abdul, Paradigma Tafsir Feminis : Membaca Al-Qur’an dengan optic perempuan: Studi pemikiran Riffat Hasan tentang Isu Gender dalam Islam, (Yogyakarta;Logung Pustaka, 2008)

Nabil Kazhim, Muhammad, Strategi Jitu menuju pernikahan, (Penerbit Samudra;Solo, 2007)

Nor Ichwan, Mohammad, Prof.M.Quraish Shihab Membincang Persoalan Gender,(Rasail:Semarang, 2013

Raji Al-Faruqi, Ismail, Tauhid, (Penerbit Pustaka:Bandung, 1988)

Rijal Hamid, Syamsul, Buku Pintar Agama Islam, (Cahaya-Salam:Bogor 2011) 

Salman Farhan Al-Atsari, Abu, Kado Cinta untuk Wanita, (Semesta hikmah:Yogyakarta,2013)

Sati, Pakih, Syarah Al-Hikam-kalimat-kalimat menakjubkan Ibnu ‘Atha’illah + tafsir dan motivasinya, (Divapress: Jogjakarta, 2013)

Wadud Muhsin, Amina Wanita di dalamal-Qur’an terj. Yaziar Radianti (Bandung;Penerbit Pustaa, 1994)


[1] Abdul Mustaqim, Paradigma Tafsir Feminis : Membaca Al-Qur’an dengan optic perempuan: Studi pemikiran Riffat Hasan tentang Isu Gender dalam Islam, (Yogyakarta;Logung Pustaka, 2008), hal. 47.

[2] Amina Wadud Muhsin, Wanita di dalamal-Qur’an terj. Yaziar Radianti (Bandung;Penerbit Pustaa, 1994), hal. 27

[3] Al-ragib al-Asfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz Al-Qur’an, (Beirut:Dar Al-Fikr) hal. 220.

[4]Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, Cahaya-Salam:Bogor 2011  hal 222

[5]Dalam sebuah situs mengenai Al-Qur’an induk dari IPTEK dikemukakan bahwa Al-Qur’an telah membuktikan kebenaran wahyunya melalui konsistensinya dan kesesuaiannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang ditemukan umat manusia pada masa jauh setelah Nabi Muhammad.Misalnya dari segi ilmiah terbukti bahwa muatan listrikpun berpasang-pasangan; positif dan negative.Demikian juga dengan atom, yang tadinya diduga sebagai unit terkecil dan tidak dapat dibagi. Ternyata ia pun berpasangan. Atom terdiri dari inti atom dan electron kemudian “inti atom” sendiri terbagi menjadi proton dan netron.Lihat.Al-Qur’an induk dari IPTEK.Akses: 18 Agustus  2015.

[6] Ar-Ragib al-asfahani, Mu’jam mufradat alfaz….., hal 220.

[7] Muhammad Nabil Kazhim, Strategi Jitu menuju pernikahan, Penerbit Samudra;Solo, 2007, hal. 20

[8] Ensiklopedia pengetahuan Al-qur’an dan Hadist jilid 4, Kamil Pustaka-Jogyakarta 2013

[9] Ensiklopedia pengetahuan Al-qur’an dan Hadist jilid 6, Kamil Pustaka-Jogyakarta 2013

[10] Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, Cahaya-Salam:Bogor 2011  hal 342

[11] HR Bukhori & Muslim dari Abdullah bin Mas’ud RA

[12] D.A. Pakih Sati, Lc. Syarah Al-Hikam-kalimat-kalimat menakjubkan Ibnu ‘Atha’illah + tafsir dan motivasinya, Divapress: Jogjakarta, 2013. Hal. 272

[13]QS Ar-Ruum : 21

[14] Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Bekal Pengantin, Aqwam Press:Solo, 2014, hal. xi

[15] Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, op.cit, hal 339

[16] QS. An-Nisaa:1

[17] QS. Ali-Imran: 195

[18] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid, Penerbit Pustaka:Bandung, 1988, hal. 139

[19] QS. An-Nisaa:97

[20] QS Al-Ma’un, 1-3

[21] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid, op.cit, hal. 17

[22] QS An-Naml:61

[23]QS.Yunus: 67

[24] Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, op.cit, hal 258

One Comment

  1. Pingback: Terapi Lapar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *