afi.unida.gontor.ac.id – Apakah itu maqamat? Abu Nasr Al-Sarraj Tusi (penulis kitab al-luma’fi’il-tasawwuf) berkata bahwa maqamat adalah istilah sufi yang menunjukkan arti nilai etika yang akan diperjuangankan seseorang sufi dalam praktek ibadah melalui mujahadah secara berangsur-angsur dari suatu tingkatan perilaku batin menuju pencapaian tingkatan berikutnya dengan sebentuk amalan mujahadah tertentu. Maqamat menurut Imam Al-Qusyairi (penulis Ar-Risalatul Qusyairiyah) adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam kepada-Nya dengan macam-macam upayanya. Diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Dalam Tasawuf, kedudukan seorang hamba dihadapan Allah SWT, yang diperoleh dengan melalaui peribadatan, mujahadat, dan lain-lain, latihan spiritual serta (berhubungan) yang tidak putus-putusnya dengan Allah SWT.

 Firman Allah SWT: “Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku” (QS Ibrahim (14): 14).

Abu Nasr Al-Sarraj Tusi mengatakan, “Ada tujuh maqamat yang menjadi puncaknya pembebasan hati dari segala ikatan dunia. Nah, apa saja tujuh maqamat menurut Abu Nasr Al-Sarraj Tusi tersebut?

baca juga Maqamat

 Pertama, taubat; yakni, orang yang jauh dari Allah, kemudian mendekatkan diri kepada-Nya. Sesungguhnya taubat itu membersihkan diri dari segala dosa. Fungsi taubat sebagai syarat mutlak dan syarat yang pertama agar dapat dekat kepada Allah. Para sufi menetapkan istighfar sebagai salah satu amalan yang harus dilakukan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali dalam sehari agar ia bersih dari dosa. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, saya memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari.” (HR Bukhari).

Kedua, zuhud. yakni, meninggalkan kehidupan dunia serta kesenangan materil karena dorongan kecintaan kepada Allah bukan karena takut akan masuk neraka di akhirat. “Dan orang yang beriman itu berkata, “Hai kaumku! Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

Nabi SAW bersabda, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusiapun akan mencintaimu.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, wara’. yakni, meninggalkan apa saja yang tidak baik dan tak berguna dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas persoalannya baik yang menyangkut makanan, pakaian, maupun perkataan. Nabi SAW bersabda, “Dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR Sunan Tirmidzi). Dan, ciri-ciri orang wara menurut Imam Syafi’I adalah tak akan memperdulikan kejelekan orang lain, karena disibukkan oleh aibnya sendiri, ibarat orang sakit, ia tak mungkin menghiraukan penyakit orang lain, karena sibuk memperhatikan penyakitnya sendiri.

baca juga MENJERNIHKAN HATI DENGAN TASAWUF MODERN BUYA HAMKA

Keempat, fakir. yakni, orang yang memalingkan segala pikiran dan perbuatan yang mengakibatkan pikirannya berpaling kepada Tuhan. Orang ini sibuk dalam perjalanan rohani menuju makrifat pada Tuhan. Dengan tujuan memutuskan segala persangkutan dengan dunia, sehingga hatinya terisi dengan penghayatan makrifat pada zat Tuhan. 

Kelima, sabar. yakni, orang yang mencapai maqam fakir hidupnya akan dilanda berbagai penderitaan, harus melangkah ke maqam sabar. Tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati) atau tabah (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dalam tasawuf, menerima segala sesuatu yang menimpa dirinya dengan sopan dan rela.

Keenam, tawakkal. yakni, pasrah secara bulat kepada Allah setelah melaksanakan suatu rencana dan usaha. Allah berfirman: “Dan Dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”  (QS at-Talaq (65): 3).

 Ketujuh, ridha. yakni, ajaran menanggapi penderitaan, dan mengubah kesusahan menjadi kegembiraan dan kenikmatan. Selain itu, ridha adalah engkau berbuat sesuatu yang membuat Allah senang dan ridha, dan Allah meridhai apa yang engkau perbuat. Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah. Sedangkan ridha Allah kepada hamba berarti Dia melihat dan menyukai hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, ridha merupakan salah satu factor yang menyebabkan hidup Muslim menjadi damai, gembira, nikmat, tenang, tenteram, tidak diliputi keresahan dan kegalauan. Ridha kepada Allah itu menuntut hamba untuk selalu taat dan bertaqwa kepada-Nya.

Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat mengamalkan ketujuh maqamat tersebut di atas sehingga dapat meraih perubahan perasaan dan pengalaman jiwa dalam menempuh perjalanan rohani. Aamiin

Pen :  Alfi Huda
Peneliti Dewan Mahasiswa, UNIDA Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *