afi.unida.gontor.ac.id – Berbicara mengenai dunia, perlu kita ketahui tema penting yang meramaikan permainan intelektual Indonesia, yaitu benturan antara peradaban Barat dengan Timur. Tidak saja, berkisar pada persoalan politik-ideologis, melainkan juga pada problem epistemologi sebagai basis fundamental pembentuk peradaban. Selain itu, telah terjadinya kerusakan individual dan sosial ummat manusia dalam berbagai pandangan dan pemikiran yang melenceng. Namun, apa penyebabnya?

Hanya satu, tidak bertekad kuat menjawab semua persoalan yang ada, bukan penyebab utama, maka usahanya, mencakup tiga hal; Pertama, tidak patut kita berpangku tangan, intinya agar kita mampu membangun landasan bagi kehidupan manusiawi kita. Kedua, membantu orang-orang lain di jalan yang sama. Ketiga, mencegah pengaruh jahat pemikiran, ajaran, perilaku, perasaan, serta pandangan yang salah dalam masyarakat. Di sini, solusinya penting kita memastikan nilai-nilai tauhid dan manfaat akal manusia. Dengan demikian, pengorbanan positif atas beberapa masalah dunia tersebut di atas akan menjadi bermakna dan bisa diterima.

Dalam hal ini, terlihat bahwa permasalahan yang dihadapi dunia dan ummat manusia ini sudah sangat genting. Mungkin kalau dianalogikan dengan bencana alam, problem ini diibaratkan seperti rumah yang tertimbun lumpur hitam hanya tampak atap, yang terjadi tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA, di Kota Palu. Pada akhirnya, ajaran tauhid ini menjadi penting sekali dalam membangun epistemologi Islam.

baca juga BELAJAR EPISTEMOLOGI TAUHID DARI BUYA HAMKA

Di antara para tokoh yang terkenal dari kalangan filosof Barat ialah David Hume, Immanuel Kant, Auguste Comte dan para penganut positivisme lainnya. Dengan pandangan-pandangan mereka yang kacau itulah dasar-dasar kebudayaan Barat dibangun. Lalu “Siapa yang terjerat dan terkena imbasnya?” Kebanyakan para ilmuwan dari kalangan behavioris dalam disiplin psikologi sampai ke berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Penyebabnya, para intelektual tidak begitu mengenali persoalan yang primer dan para akademisi masih menganut pemikiran-pemikrian sempit terhadap realitas. Akibatnya, krisis pemikiran dan persoalan-persoalan besar di zaman ini belum dapat diselesaikan. Sementara modernitas yang menjanjikan kesejahteraan manusia lewat gagasan-gagasan kemajuan, kebebasan, egalitarian, dan humanisme misalnya gagal. Sebab, diiringi dengan berbagai krisis multi-dimensi yang menimpa ummat manusia.

Di media massa, perdebatan ilmiah, pembahasan dan diskusinya tidak bisa dijadikan solusi. Diskusi itu juga hanya mengupas permukaan persoalan, yang bersifat superfisial (dangkal), atomistik, terpilah-pilah, dan simplistik. Apalagi krisis yang lebih serius adalah krisis tauhid dan krisis eksistensial, sebab menyangkut hakikat dan makna kehidupan itu sendiri. Sehingga manusia modern mengalami kehampaan spiritual, bahkan juga menyebabkan lahirnya anak-anak krisis seperti krisis makna dan legitimasi hidup. Bagi Sayyed Hossein Nasr, krisis tauhid dan krisis eksistensial itu bermula dari pemberontakan manusia kepada Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus segera mengambil satu langkah tegas untuk menegakkan landasan bagi rumah ide-ide filosofis kita secara kuat. Kemudian baru kita bisa melanjutkan perjalanan ke tahapan-tahapan berikutnya. 

Dari mana istilah sekuler berasal?. Dari kata Latin yang berarti ruang dan waktu. Ruang menujuk pada pengertian duniawi dan waktu pada pengertian sekarang atau zaman now. Sebagaimana yang tertulis di Secularization, istilah sekularisme yang diperkenalkan oleh George Jacob sudah ada sejak tahun 1846 M. Berawal dari penerapan metode ilmiah yang berwatak rasional dan empiris, ternyata telah mengantarkan kehidupan manusia pada suasana modernisme. Sehingga, lahirlah rasionalisme, liberalisme, positivisme, materialisme, pragmatisme dan sekularisme. Bagi Frithjof Schuon corak pemikiran tersebut di atas telah terlepas dari ilmu pengetahuan suci atau filsafat keabadian.

baca juga Epistemologi Pendidikan Pancasila

Dalam papernya yang berjudul Pathologies of Epistemology, Gregori Bateson mengkritik epistemologi Barat modern yang telah mengkondisikan manusia terasing dari alam, dari sesamanya bahkan dari manusia sendiri. Kemudian ia menuduh epistemologi Barat sebagai fundamental error yang berujung pada kesengsaraan manusia itu sendiri.

Barat mengkampanyekan sebuah proyek modernisasi. Namun, sayangnya, proyek ini gagal mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan serta memberi makna terdalam di balik kehidupan ini. Sehingga, menyebabkan manusia kehilangan visi keilahian yang mengantarkan manusia menuju kehampaan spiritual.

Masyarakat Barat modern menekankan terhadap rasionalitas. Sehingga, mengakibatkan unsur-unsur non-rasional cenderung ditolak dan dikatakan sebagai halusinasi atau bayang-bayang. Dan akibat lain adalah muncul fenomena ateis pada sebagian ilmuan Barat yang sekuler. Mereka beranggapan bahwa gagasan tentang Tuhan hanyalah sebuah proyeksi dan pelarian manusia dari ketidakmampuan mereka mengatasi problem hidup. Serta hanya sebatas hipotesa sekadar untuk melengkapi penjelasan ilmiah, ketika sains gagal memberikan penjelasan yang koheren tentang alam semesta. Kini banyak ilmuan di Barat itu menolak otoritas agama dan memilih tidak bertuhan atau ateis. Bahkan pola berpikir para pemikir Indonesia banyak dipengaruhi oleh mereka.

Solusinya, kita harus memberikan bantahan atau kritik terhadap para ateis dari ilmuan-ilmuan besar Barat tersebut. Sebab, serangan-serangan mereka itu amat sangat radikal dan membahayakan keyakinan kita kepada Tuhan ini bermuara pada sistem epistemologi Islam, terutama sumber ilmu pengetahuan. Maka dari itu al-Faruqi mensyinyalir bahwa, “Pengetahuan itu bukan untuk menerangkan dan memahami realitas sebagai entitas yang terpisah dari Realitas Absolut (Tuhan). Melainkan, pengetahuan untuk melihat realitas sebagai bagian yang integral dari eksistensi Tuhan.

Ummat Islam ini sudah terkepung dari segala penjuru, sehingga mengalami kesulitan untuk menerobos keluar dari kepungan tersebut, karena ummat Islam tidak memiliki kekuatan untuk menandingi kekuatan lawan-lawannya yang sangat solid.

Apa penyebab yang sesungguhnya sehingga ummat Islam mengalami kemunduran? Adapun para pemikir Muslim yang menjadi sumber data dalam memberikan penyebab ini adalah Abid Al-Jabiri, M. Arkoun, Ismail Raji Al-Faruqi, Zaki Naqib Mahmud, Abdullah A. Naim, Abdul Karim Soroush, Hassan Hanafi, Ashgar Ali Engineer, Akbar S. Ahmed. Pada akhirnya, para pemikir Muslim sejauh ini dianggap belum berhasil dalam memberikan solusi alternatif yang jelas. Salah satu penyebab adalah yang dikemukakan oleh M. Arkoun, filsafat Islam lebih menekankan perhatiannya pada aspek aksiologis, daripada aspek ontologis maupun epistemologis, Sehingga jika terjadi kritik, maka kritik itu cenderung diarahkan pada materi yang disampaikan seseorang, bukan pada level pola pikir atau pendekatan-pendekatan keilmuan. Adapun Ismail Raji Al-Faruqi memberi solusinya, penyakit ummat hanya dapat diobati dengan suntikan epistemologis.

Apa solusi yang strategis agar kondisi ilmu keislaman tidak berlarut-larut tanpa penyelesaian? Tauhid dan epistemologis harus menjadi persoalan keilmiahan pertama yang harus mendapat perhatian serius dan harus segera diwujudkan. Solusi sebuah kemunduran ummat Islam sekarang ini, adalah agar kita mengembangkan epistemologi Islam. Tauhid dan epistemologi harus mendapat perhatian serius dan harus segera diwujudkan. Tanpa dekat dengan agama, mustahil muncul suatu kemajuan dalam kehidupan di dunia. Meski demikian, harus sadar juga ummat Islam khususnya intelektual Muslim segera membangun epistemologi yang dijiwai oleh nilai-nilai ketauhidan.

Akan tetapi, nilai-nilai tauhid tersebut harus berhubungan dengan kondisi kehidupan manusia, dan pentinglah kesungguhan keras dan ketelitian yang luar biasa, sehingga mudah menemukan perumusan yang luas dan lengkap tentang berbagai macam konsep ilmu pengetahuan yang dapat diterima oleh semua golongan. Konsep sekularisasi bertentangan dengan nilai-nilai tauhid karena memutuskan hubungan Tuhan dan manusia, faktanya agama dianggap tidak memiliki peran penting bagi ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, agar bangkit pengetahuan Islam prioritas utama perlu dilakukan kembali peninjauan wawasan makna tauhid dan epistemologi Islam yang bercorak spiritual dan amal. Wallahu A’lam bisshawab.

Pen : Alfi Huda
Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *