Sufi identik dengan penggunaan intuisi, kaysf, musyahadah untuk mencapai sebuah kebenaran. Sedangkan Saintis yang difahami kebanyakan orang menggunakan ekperimen, positif,  empiris sekaligus rasional untuk mencapai kebenaranya. Selain itu, adanya persepsi kurang benar bahwa sufi harus hidup asketis bahkan ‘egoistik’. Sementara Sains selalu berinteraksi dengan dunia material dan sosial. Dari sisi “kontras” ini timbul pertanyaan Bisakah dua hal ini berintegrasi?.  Jika bisa diwilayah mana sajakah wilayah integratif?

Inilah salah satu permasalahan yang akan dianalisa oleh tiga dosen Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin,  Moh. Isom Mudin, S.Th.I., M.Ud (ketua),  Ahmad Farid Saifuddin, S.H.I., M.Ag,  dan Lailah Alfi, S.Th.I., M.Ag dalam program hibah penelitian litapdimas kemenag tahun 2019, dengan judul ” Wujud dalam Tasawwuf Filosofis al-Attas dan Relevansinya terhadap Pengembangan Sains Islam”.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang menjadi objek penelitian ini, menyatakan dengan jelas bahwa beliau akan mengambil dan mengembangkan sisi-sisi fundamantal dalam tasawwuf yang bisa dijadikan basis filsafat Sains.  Bahkan Syed menyatakan usaha ini belum pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh sebelumnya.

baca juga Ilmu Tasawuf

“In this brief chapter, I shall touch only upon an important aspect of tasawwuf which has not — to my knowledge — been treated before in the way I propose to do here. This Important aspect pertains to what can be developed into Islamic conceptualization and formulation of the philoshophy of science”

Dengan kata lain,  teori al-Attas ini memungkinkan seorang sufi sekaligus menjadi saintis, atau seorang saintis sekaligus seorang sufi. Tentu dengan memanifestasikan aspek fundamental kesufianya ke sisi sisi kesaintissanya.

Sufi-Saintis, Mungkinkah?

Oleh karena itu,  tim penguji proposal Prof. Dr. Umi Sumbullah M.Ag dan Dr. Fawaizul Umam, M.Ag, menyatakan “kita menunggu hasil penelitian anda”.

baca juga SEHARI BERSAMA RASA’IL DAN BADIUZ ZAMAN SA’ID NURSI; DARI A SAMPAI Z

Sementara komentar dalam aspek novelty itu secara umum disebutkan bahwa ini merupakan hal baru dalam tasawwuf : “Kajian ini potensial bisa memberikan perspektif baru dengan tasawuf jika dilakukan kajian secara kritis terhadap konsep al-Attas. Meskipun bukan hal baru, namun akan bisa memberikan sumbangan teoretik jika peneliti mampu  menganalisis dengan baik, tidak sekedar mendeskripsikan”.

Pen : Moh. Isom Mudin, M.Ud
Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam – UNIDA Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *