afi.unida.ac.id¬- Ahad, (22/09/19) yang lalu, DEMA  Kampus Mantingan 1 berhasil melaksanakan kajian rutin mingguan yang diadakan di Aula Aisyah dengan pembicara Al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya S.Th.I, M.Ag dengan tema “Exclusivsm in Cyber Space: A New Challenge in Interfaith Communication”. Peserta yang mengikuti kajian tersebut berasal dari berbagai macam prodi serta fakultas.

Didalam kajian yang berlangsung sekitar satu jam ini, beliau memaparkan tentang bagaimana paham Exclusivism atau yang bisa kita sebut juga, paham yang menganggap bahwa hanya kelompoknya lah yang benar. Paham ini cenderung menutup diri dari dunia luar atau dunia yang selain dunia mereka. Kemudian bagaimana paham ini berkembang di dunia maya dan apa tantangannya dalam hubungan antar agama atau lebih luas lagi antar suku, ras dan budaya. Beliau menjelaskannya secara singkat padat dan jelas.

baca juga MENEGASKAN KEMBALI MAKNA, URGENSI DAN AGENDA ISLAMISASI ILMU: CATATAN DISKUSI BERSAMA USTADZ DR. HAMID FAHMY ZARKASYI

Bahwa sebagaimana kita ketahui, pengguna internet di bumi ini khususnya Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dan perlu kita ketahui juga bahwa media social Facebook masih menjadi aplikasi dengan pengguna terbanyak dibandingkan akun-akun media social lainnya. Ini menandakan intensitas komunikasi para manusia di zaman ini, lebih banyak dihabiskan di dunia maya daripada di diunia nyata.

Para aktivis media social inilah yang kemudian mengkotak-kotakan diri sehingga terciptalah suatu komunikasi yang didalamnya hanya terdapat satu arah pemikiran, mereka akan menganggap bahwa perbedaan adalah sebuah kesalahan. Dari sini, maka efek sampingnya adalah orang akan semakin mudah menjelek-jelekkan orang lain.

baca juga Bergerak di Tengah Banalitas Diskriminasi (Studi Mengenai Kader Anak Muda Dalam Menantang Eksklusivisme di Partai Politik Kota Malang)

Di akhir penjelasannya, Ustadz Yuangga Kurnia Yahya menjelaskan bahwa Untuk mengatasi adanya ekslusifisme ini, maka kita sebagai generasi muda islami seharunsya lebih bisa membuka wawasan. Don’t judge the book by the cover, kita harus mau berinteraksi dengan orang yang berbeda dengan kita, dan yang paling penting adalah memandang suatu permasalahan dari semua sudut pandang agar tercapai suatu pemahaman yang hakiki.

Rep : Anggita
Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Sem V – Kampus Mantingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *