afi.unida.gontor.ac.id. Zaman ini, tantangan dari berbagai lini telah mengepung umat Islam, dari ranah yang paling teoritis yaitu intelektual dan pemikiran, maupun yang praktis-pragmatis seperti sosial/budaya, pendidikan, politik, dsb. Persoalan-persoalan intelektual atau pemikiran merupakan aspek yang lebih urgen meski terlihat tidak mendesak, berbeda dengan persoalan-persoalan kategori kedua yang terlihat langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga nampak begitu mendesak meski sejatinya kategori pertama tidak kalah urgen daripada persoalan ketegori kedua.

Dua kategori tadi tentu saja berimplikasi pada jenis solusi yang akan diberikan, solusi untuk mengatasi bidang pemikiran otomatis lebih ideal, berjangka panjang dan lebih efektif. Demikian karena, dimensi ini merupakan asas yang melatarbelakangi berbagai dimensi-dimensi praktis tadi. Maka, penekanan solusi yang berlebihan pada dimensi praktis, jika tidak dilengkapi dengan bekal dimensi pemikiran yang matang dan mapan sejatinya hanyalah sekedar bernilai superfisial saja, karena ibaratnya hal-hal tadi adalah gulungan bola salju dari problem pemikiran. Tanpa penanganan yang cukup untuk mengatasi sumber berbagai masalah tadi, maka sampai kapanpun dampaknya tidak akan pernah berhenti. Sebaliknya jika dilacak asal muasalnya, berbagai problem dimensional yang dihadapi umat muslim sekarang adalah berasal dari lengahnya pemikiran dan intelektual mereka yang sejatinya berfungsi sebagai antibody umat ini, jika ia kuat maka tubuh umat akan senantiasa kebal dengan berbagai penyakit.

Akidah harus Berbasis Keyakinan

Ada keterkaitan erat antara bidang pemikiran dan akidah. Para ulama sepakat bahwa akidah haruslah bebas dari segala kesangsian atau keraguan (la yatatarraqu ‘alaihis syakk), dengan kata lain akidah haruslah berbasis keyakinan. Maka sebenarnya akidah bukanlah sekedar kepercayaan dari imitasi buta terhadap suatu ajaran, karena bahkan seseorang dapat mempunyai keraguan meski ia dalam posisi benar, keyakinan barulah muncul jika seseorang mempunyai ilmu, bahkan ilmu yang dimaksud juga bukan sekedar ilmu, terutama berdasarkan otoritas sumbernya, atau kualitasnya yang selaras dengan tilikan akal sehat. Bagi kaum muslimin tentu tidak ada keraguan atas kebenaran wahyu yaitu al-Quran dan al-Sunnah sebagai sumber dari syariat Islam, yang bahkan tidak hanya menjabarkan mengenai akidah tapi juga aspek yang lebih luas seperti ibadah, muamalah dan akhlak. Pada sisi ini setiap individu bisa kita katakan telah berakidah jika mereka sudah mempelajarinya secara proporsional dari dua sumber ajaran Islam ini. Akidah jenis ini bisa kita katakan juga sebagai akidah doktrinal (bukan dogmatis), yang hanya menekankan penerimaan secara hafalan (rote memorization), tanpa melibatkan penalaran akal lebih jauh. Dalam diskursus filsafat analitis, akidah inilah yang sebenarnya disebut dengan teologi (Theology) yang dibedakan dengan  teologi natural (Natural Theology) atau teologi analitik (Analytical Theology) yang dibangun berdasarkan logika dan pemikiran kritis.

Kalam bukan Teologi

Penting juga disini kita klarifikasi bahwa, disiplin kalam dalam tradisi intelektual Islam yang banyak orang menganggapnya sebagai (sekadar) teologi sebenarnya tidaklah tepat. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa poin, pertama secara metodologi dan kedua secara materi pembahasan (Subject Matter). Secara metodologi, para mutakallimun meski diawalnya berangkat dari argumen-argumen tekstual untuk sampai pada tujuannya, namun mereka tidak cukup berhenti disana, dimana selanjutnya  mereka mencoba mengartikulasikan dan menjelaskannya mengikut argumen logika dan penalaran. Hal ini bukan berarti mereka memanipulasi dalil-dalil teks sesuai dengan alur logika, namun mereka berprinsip bahwa semenjak awal wahyu tidak pernah melihat akal secara antagonistis, tentu ini bukan sekedar klaim tendensius saja, dimana bahkan secara gamblang baik dalam al Quran atau al Sunnah banyak menjelaskan akan peran penting akal sebagai instrumen untuk sampai pada hakikat kebenaran. Metodologi Mutakallimun ini berbeda dengan apa yang digunakan oleh para Falasifah, yang  menitikberatkan para penalaran dan logika diawalnya baru kemudian dipertemukan dengan argumen-argumen tekstual, karena itu pada banyak kasus ditemukan pelbagai penyimpangan dalam konklusi-konklusi mereka, karena mereka lebih mengutamakan dalil akal atau yang mereka sebut sebagai burhan.

Selanjutnya secara materi pembahasan, disiplin kalam sebenarnya tidak hanya membatasi diskursus pembahasannya pada teologi yang dikategorikan dalam topik Ilahiyyat atau juga disebut dengan Jalil al-Kalam, tapi juga fisika dan kosmologi (Tabi’iyyat) atau yang dikenal juga sebagai Daqiq al-Kalam, lebih dari itu para Mutakallimun juga banyak membicarakan mengenai epistemologi, logika, psikologi dan etika dalam kitab-kitabnya. Berdasarkan dua poin ini kita bisa melihat bahwa disiplin kalam secara metodologinya tidaklah bisa disamakan dengan teologi secara ketat, begitu juga secara materi pembahasannya, berangkat darisini para cendekiawan pun banyak mengistilahkan disiplin ini dengan berbagai nomenklatur seperti Analytical Theology, Speculative/Rational Theology, Philosophy of Kalam, atau bahkan Islamic Philosophy (Falsafah Islamiyyah). Menariknya, jika kita lihat lebih dalam lagi, kalam sejatinya menempati posisi yang sangat sentral dalam proses munculnya tradisi intelektual Islam, melalui tradisi kalamlah, bangunan metafisika dan epistemologi Islam kemudian mematang sehingga kemudian ia siap untuk berdialog dan berinteraksi dengan warisan-warisan pemikiran dan ilmu pengetahuan dari peradaban lain. Inilah kenapa Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam pengantarnya di buku Mawaqif yang baru saja diterbitkan karya Dr. Henri Shalahuddin mengatakan bahwa kalam adalah ilmu yang universal, dalam arti ia adalah induk dari ilmu-ilmu dalam tradisi intelektual Islam, berbeda dengan kasus peradaban Barat dimana akal murnilah (unaided reason) yang memainkan posisi induk tersebut, karena itu berbagai formulasi dan konstruk ilmu pengetahuan mereka sangatlah sarat dengan nilai-nilai sekular.  

Akidah dan Worldview

Kembali mengenai Akidah, adapun dari sisi kualitas ilmu, maka tidak semua orang bisa dikatakan telah berakidah dengan proporsional, hal ini dikarenakan sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan kedewasaan manusia, sedangkan kedewasaan tadi bukan diukur dari fisik atau umurnya tapi kematangan pikiran dan tilikan akalnya. Maka, sudah seharusnya kualitas ilmunya dibedakan dengan tahap-tahap pemula seperti halnya pada level kanak-kanak, yang dengan menghafal dan mengetahui pun sudah cukup, tanpa melibatkan penalaran yang lebih dalam. Semakin dewasanya pikiran seseorang, seharusnya ia bisa merasionalkan akidah yang ia miliki untuk bisa sejalan dengan logika dan alur berpikirnya, dalam arti akidah tadi bertransformasi menjadi konsep-konsep inti yang membentuk pandangan hidup dan paradigmanya yang berfungsi sebagai penafsir realitas dan kebenaran.

Inilah sebenarnya alasan kenapa kaum muslimin selalu dituntut untuk mencari ilmu, bahkan sampai di akhir hayat mereka. Karena, dengan kian berjalannya waktu derajat dan kompleksitas realitas sosial yang akan dihadapi anak manusia akan mengalami perubahan dan pergeseran, begitu juga dengan cobaan dan tantangan keimanan yang mereka hadapi tentu sangat berbeda dengan apa yang dialami dahulu, jika dimasa kecilnya anak-anak bisa merengek-rengek ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka, semakin dewasa seseorang akan sadar bahwa mereka harus berani berdiri sendiri menghadapi kenyataan yang ada. Hal ini mengisyaratkan bahwa, agar seseorang dapat bertahan di dunia, mereka harus mempersiapkan bekal yang cukup baik secara materi, intelektual, emosional dan terutama spiritual, sehingga ia bisa menyelesaikan perannya dengan baik entah sebagai hamba atau sebagai khalifahNya. Seperti halnya fase pertumbuhan sebuah pohon, semakin tua umur suatu pohon, maka akar yang menghujam ke dalam bumi harus semakin dalam dan kuat untuk bisa menahan beban batang dan ranting-rantingnya yang semakin meninggi dan membesar, bahkan semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang juga angin yang menghantamnya. Professor Wan Mohd Nor Wan Daud telah menyatakan dengan presisi akan hal ini dalam kesimpulan pidato profesorialnya bahwa “A person of adab can deal successfully with a pluralistic world without losing his identity; or deprive the due rights of others despite differences in worldviews and epistemic frameworks. Dealing with various levels of realities in the right and proper manner would enable him to attain the spiritual and permanent state of happiness here as well as in the Hereafter”. 

Urgensi Worldview dalam Konteks Tantangan Pemikiran

Lebih jauh, melihat berbagai tantangan pemikiran sekular yang saat ini begitu diterima secara luas dan bahkan telah menghegemoni sistem dan kurikulum perguruan tinggi kita, tentu hal ini menjadi problem tersendiri bagi para mahasiswa muslim, dimana seharusnya semakin ia belajar dan mencari ilmu, iman dan amalnya akan semakin baik, namun para realitanya yang terjadi justru sebaliknya. Pada banyak kasus, bahkan ditemukan alumni-alumni pondok pesantren yang semenjak masa SMP/SMA sederajat mempelajari agama, namun ketika ia masuk perguruan tinggi ia tidak lagi bangga dengan identitas Islamnya, mereka yang dulu selalu menjaga sholatnya lima dan tepat waktu, lambat laun semakin jarang sholat bahkan hanya seminggu sekali ke masjid. Para wanita muslimah, yang dulu setiap saat memakai hijab dengan sakral sebagai lambang kesholehan, lambat laun mereka mulai menganggapnya sebagai komoditas pasar untuk dipamer-pamerkan. Di level yang lebih ekstrim para muslim juga banyak yang menolak Syari’ah, entah itu dinilai tidak sesuai dengan HAM, Partriarkis, out of date dan sebagainya, sebagian juga mengatakan semua agama adalah benar, karena itu mereka tidak boleh mengklaim dirinya yang paling benar.

Disisi lain, tidak hanya di kalangan mahasiswa muslim tapi juga masyarakat muncul tren hijrah yang mengusung tentang kemurnian ajaran Islam, mereka begitu gencar dalam mengamalkan amalan-amalan praktikal, seperti membaca dan menghafal al-Quran, sholat, puasa, memanjangkan jenggot, tidak isbal dan memakai cadar bagi para perempuan. Mereka juga aktif dalam forum-forum kajian mengenai hadits, bahasa arab, dan fiqh dan terutama tentang pernikahan. Disatu sisi memang tren ini terlihat begitu Islami, namun sayangnya sebenarnya juga tidak lepas dari pengaruh sekularisasi. Hal ini bisa kita nilai dari beberapa indikasi, yaitu penekanan mereka yang berlebihan pada aspek keakhiratan sehingga membuat mereka terjebak dalam pandangan dualisme yang secara ketat memisahkan urusan agama dengan dunia, inilah yang menyebabkan kelompok ini kesulitan dalam berinteraksi dengan dinamika sosial di masyarakat. Disisi lain tren ini juga membawa pemikiran dikotomis yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dan umum. Pada prakteknya mereka hanya mengakui keabsahan ilmu-ilmu umum ini secara pragmatis saja, karena bagi mereka ilmu-ilmu ini tidak bisa dibandingkan dengan ilmu agama, konsep agama bagi mereka pun bukan dalam arti al-Din yang mencakup berbagai dimensi kehidupan baik intelektual, sosial, dan spiritual, namun hanya sebatas tataran normatif saja (fiqh) yang dibangun secara ketat melalui penafsiran tekstual.    

Berbagai carut marut ekstremisme baik yang kiri ataupun kanan tersebut, mengindikasikan kondisi akidah umat ini yang masih begitu rentan, banyak dari kaum muslimin yang akidahnya masih belum kompatibel dengan jalan pemikirannya. Akhirnya lahirlah manusia-manusia terpisah (Split Man) yang melihat dunia ini secara terbelah, dari persoalan edukasi sampai dekorasi, pemerintahan sampai lingkungan, spiritual sampai sosial yang mereka usahakan, semuanya menandakan ambiguitas dan kontradiksi, artinya unsur-unsur Islam dan sekuler masih saling berkelindan tumpang tindih didalamnya. Merupakan suatu kebutuhan mendesak bagi para mahasiswa secara khusus dan khalayak muslim dewasa secara umum untuk memahami hakikat agama Islam secara holistik, tidak terbatas pada tataran praktikal saja, terutama secara pandangan hidup dan paradigma. Karena itu dengan munculnya wacana “Islamic Worldview” di kampus-kampus Islam sekarang meski masih terbatas dibeberapa tempat, termasuk UNIDA Gontor, UIKA Bogor, UNISSULA Semarang, UMS Solo, dll, yang sudah dijadikan matakuliah wajib, merupakan suatu keniscayaan untuk membekali aspek keilmuan mereka, sehingga ketika mereka dipertemukan dengan konsep-konsep dari budaya atau peradaban lain yang terlihat begitu mapan dan canggih, mereka tidak latah dalam menghadapinya, entah itu ikut larut atau sebaliknya antipati terhadapnya. Kemudian, dalam konteks yang lebih besar yang menyangkut berbagai lapisan masyarakat, dengan melihat berbagai bentuk perpecahan dan keributan antar kelompok dan ORMAS, hal ini semakin mendesak kita untuk dapat menyajikan pemahaman Islam yang utuh dan integral mengenai Islam, yang hanya bisa dijelaskan melalui diskursus Islamic Worldview ini. Karena itu akan lebih baik jika arah kajian-kajian umum yang dapat dinikmati oleh mereka baik pekanan, bulanan atau saat ramadhan tidak hanya dilaksanakan secara kaku untuk mengkhatamkan suatu kitab atau dijalankan secara arbitrer, tentu akan lebih baik lagi jika pembahasan-pembahasan ini diatur secara sistematis untuk menjelaskan konsep-konsep inti dalam Islam untuk membangun cara pandang dan perspektif mereka yang komprehensif mengenai agama ini.

Terakhir, kita tidak bisa melebih-lebihkan fakta mengenai usaha para ulama agung kita dahulu dalam mengawal akidah dan pemikiran umat, yang selanjutnya memotivasi mereka untuk mengarang suatu kitab dengan susunan baru atau dalam bentuk syarah (Commentary) atau hasyiyah (Super Commentary). Semua itu mereka lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memformulasikan pemikiran umat ini sekaligus untuk merespon berbagai tantangan intelektual di zamannya. Tugas para cendekiawan muslim sekarang adalah untuk menggali warisan mereka untuk dimanfaatkan sesuai dengan kondisi dan situasi umat saat ini.

 Wallahu a’lam bis shawab, wa shallahu ‘ala nabiyyihi wa sallam wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Pen. Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam semester 5

Lihat Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *