Oleh. Fardana Khirzul Haq, S.Fil.I, M.Si

Dalam bukunya berjudul Leviathan, Thomas Hobbes menjelaskan bahwa apa yang disebut sebagai finis ultimus atau tujuan tertinggi dan sumum bonum atau kebaikan terbesar, seperti yang dibicarakan dalam buku-buku para filsuf moral lama merupakan hal yang tidak nyata wujudnya.

Bagi Hobbes naluri atau hasrat manusia pada akhirnya hanyalah menginginkan kepuasan abadi. Untuk mengatur naluri tersebut, kontrak sosial merupakan solusi agar manusia bisa mendapatkan kepuasan sepanjang hidup.

Kepuasan itu akan terwujud manakala adanya perdamaian, karena manusia sejatinya takut terputus dari kepuasan abadi (kematian). Disinilah peran negara yang menjamin perdamaian asalkan manusia sebagai rakyat mematuhi kontrak sosial yang dibuat.

Sederhananya, menurut Hobbes jika anda menginginkan sesuatu anda harus melakukan sesuatu. Jika anda ingin damai, maka patuhi. Oleh karenanya, mereka yang melanggar kontrak, sudah siap untuk kehilangan kepuasan abadi tersebut.

Naluri menurut Sigmund Freud pada tingkat paling dasarnya bisa dikategorikan menjadi dua, yang bersifat konstruktif dan destruktif. Freud menyebut yang pertama dengan Eros (dewa cinta Yunani) sedangkan yang kedua, meski tidak pernah ditulis di bukunya, para pengikutnya menyebutnya dengan Thanatos (dewa kematian Yunani), sebutan yang dipakai oleh Freud dalam setiap perjumpaannya dengan pengikutnya. Menurut Freud, Eros dan Thanatos saling berhubungan dan saling melengkapi.

Eros adalah naluri kehidupan yang bersifat organis, kebalikannya adalah Thanatos, naluri kematian dan anorganis. Keduanya bersifat netral, karena dalam diri manusia, keduanya bercampur dan saling mencegah. Kebencian manusia pada sesuatu yang kemudian melahirkan cacian adalah bukti dari Eros yang mampu menahan Thanatos untuk berbuat yang mungkin bisa saja lebih dari sekedar cacian.

Setelah cacian terlontarkan, ada kepuasaan tersendiri ketika naluri tersebut terpenuhi, sebagaimana kelaparan yang konstruktif akan menghasilkan kepuasaan berupa kenyang setelah makan.

Sifat primitif manusia, cenderung untuk mengakomodir Thanatos yang akan menghasilkan kekerasan. Oleh karenanya, dibutuhkan aturan bersama untuk menjaga naluri manusia yang destruktif dan mengekangnya agar tidak membahayakan kesejahteraan dan kehidupan manusia (konstruktif).

Inilah awal mula dari peradaban menurut Freud, yang pada dasarnya mengekang kebahagiaan dan menghasilkan ketidakpuasan. Apa yang disampaikan oleh Freud bisa dibaca lebih jelas lagi dalam Civilization and its Discontents.

Mereka yang berusaha keluar dari jerat kekangan tersebut berarti berani keluar dari aturan dan menunjukan jati diri mereka. Kekangan naluri ini merupakan bayangan (Shadow), meminjam istilah Carl Jung dalam bukunya Psychology and Religion, yang menyatu dalam diri manusia, sehingga tidak perlu dimusnahkan, tapi bagi mereka yang mampu mengungkapkan dengan baik, maka dianggap telah mampu mencapai tingkatan aktualisasi diri yang disebut Nietzsche sebagai ubermensch.

Tindak dari kepatuhan terhadap naluri menurut Nietzsche menghasilkan dua mentalitas yang disebut dengan Apollonian (Apollo, dewa seni) dan Dionysian (Dionysus, dewa mabuk).

Dalam bukunya berjudul Birth of Tragedy, Apollonian digambarkan sebagai mereka yang patuh terhadap aturan, terstruktur dan penuh dengan hal-hal imajinasi. Sedangkan Dionysian adalah mereka yang keluar dari struktur, bahkan norma, penuh dengan hal-hal yang realis dan rasionalis, serta menolak kemapanan tersebut.

Bagi Nietzsche, kemapanan tersebut artinya adalah kematian. Dua hal yang bertentangan tersebut bisa disatukan melalui seni, yaitu musik. Bagi Nietzsche, seni merupakan sarana yang tepat dimana tragedi hidup bisa dinikmati dan ditransformasikan.

Seni yang menjadi jalur alternatif menggabungkan antara kepatuhan dan perlawanan, organis dan anorganis telah berkembang sangat jauh. Jika Nietzsche menyatakan bahwa musik mampu menyatukan hal tersebut, maka dewasa ini lelucon atau komedi yang mampu memberikan alternatif lain.

Komedi merupakan jalan untuk mengungkapkan ketidakpuasaan terhadap kemapanan dengan tidak melanggar aturan. Jika peradaban identik dengan kekuasaan pemerintah, ketidakpuasan rakyat berarti apa yang dihadapi sekarang ini.

Di Ukraina, seorang komedian bernama Volodymyr Zelensky mampu menjadi presiden, sebagai alternatif atas ketidakpuasan rakyat terhadap kemapanan yang terjadi dalam pemerintahan dan juga “tragedi” korupsi yang mewabah. Di Indonesia, sempat populer pasangan Nurhadi-Aldo yang menjadi sebuah alternatif baru dalam hiburan sebagai jawaban akan “tragedi” polarisasi yang meruncing.

Akhirnya terjawab sudah hubungan antara tragedi dengan komedi, sebagaimana karakter Joker yang diperankan Joaquin Phoenix berujar “I used to think my life was a tragedy, but now I realize it’s a comedy”.

Sayangnya, di sebuah negeri yang disebut sebagai tanah surgawi, para pemimpinnya gagal memahami ini, sehingga bukan tragedi dan komedi yang terjadi, tapi merekalah bentuk tragedi dan komedi bagi rakyatnya sendiri, ironi. Wallahu a’lam.
Post: Joko Kurniawan

One Comment

  1. Pingback: Untuk Meningkatkan Mutu Prodi, Dosen AFI Sambangi Fakultas Psikologi UMM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *