afi.unida.gontor.ac.id- Tidak seperti kajian kajian fokus sebelumnya, ada yang menarik pada kajian fokus terakhir hari ini, Ahad, 6 oktober 2019 yang bertempat di Masjid Atiq Kampus Gontor Pusat. Pasalnya Al Ustadz Moh. Isom Mudin, M.Ud selaku kaprodi AFI Unida Gontor menyampaikan sekilas paparan buku Rosail An Nur karangan Said Nursi Badii’ uzzaman. Walaupun peserta yang sedikit dan waktu yang terbatas tidak menyurutkan semangat beliau dan para peserta untuk mengkaji apa itu Rosail An Nur dan siapa itu Said Nursi Badii’uzzaman.

Singkatnya Al Ustadz Moh. Isom Mudin, M.Ud membagi cerita beliau bagaimana awal mula mempelajari Said Nursi dan faktor faktor yang membuat beliau tertarik untuk mempelajari si Badii’uzzaman. Menurutnya seorang Said Nursi merupakan ulama kontemporer yang kemampuan intelektualnya, kekuatan hafalan dan akhlaqnya dapat dikategorikan setara dengan Hujjatul Islam, Syaiku Al-Akbar dan Syaikhu Al-Islam. Mengapa demikian? Karena beliau mampu menghafalkan kitab kitab hadist ( Kutubu As Sittah ) diluar kepala dan menghafalkanya dengan waktu yang singkat. Selain itu beliau merupakan seorang hafidz sejak umur 7 tahun dan penguasaanya terhadap bahasa turkey, Persia dan arab tidak diragukan lagi. Menurut kajian yang diberikan oleh Ustadz Moh. Isom Mudin bahwa kecerdasan Said Nursi diwariskan oleh ibunya yang senantiasa menyusuinya dalam keadaan bersuci sekaligus membacakan ayat ayat Al Qur’an ketika itu.

Baca juga: Pemimpin Idaman Ala gontor

Kemudian Ustadz Moh. Isom Mudin memaparkan paparanya mengenai bagaimana penulisan kitab Rosail An Nur dan menariknya buku tersebut bagi beliau. Buku ini ditulis oleh Said Nursi beberapa jilidan seperti Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Penulisan dimulai pada masa perang dunia pertama dan runtuhnya khilafah islamiyah turki menuju sekularisme. Hal tersebut menjerumuskanya ke penjara, walaupun sedemikian tidak menyurutkan semangatnya untuk meneruskan tulisanya tersebut. Sehingga munculah pernyataan yang menggambarkan kesengsaraanya, yaitu rojulun la baita lah, syaabbun la zawjata lah, wa mayyitun la qobro lah. Menurut Ustadz Isom Mudin bahasa dan penulisan Rosail An Nur memiliki gaya yang berbeda dengan kitab kitab modern, karena seorang Said Nursi mampu menggunakan balaghoh yang tinggi untuk menuliskan karyanya tersebut, serta buku ini berisi berbagai macam ilmu seperti tafsir, falsafah, tasawwuf, isu isu kontemporer, kalam, ma’rifah dan lain sebagainya. Ilham yang didapatkan Said Nursi merupakan kecerdasanya dalam memahami Al Qur’an. Dengan kehebatanya mengarang buku tersebut Said Nursi tetap mengutip pemikiran dan karya ulama terdahulu.

kajian ini merupakan momentum yang sangat berharga bagi para pendengar, mengapa? Selain dihadiri oleh kaprodi AFI, ini adalah fokus penutupan di awal tahun. Singkatnya waktu bukanlah suatu masalah yang besar, karena itu semua tergantikan dengan pembicara yang interaktif dan materi yang sangat edukatif sekaligus tidak menimbulkan rasa bosan untuk mengkajinya lebih dalam lagi.

Pen: Ahmad Farkhan Abdau, Yazid Zidan Prabowo (Mahasiswa AFI UNIDA Gontor)

Baca juga: Menegaskan Kembali Makna, Urgensi dan Agenda Islamisasi Ilmu: Catatan Diskusi Bersama Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *