Oleh: al-Ustadz. Moh. Isom Mudin, M.Ud
Kepala Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

UNIDA Gontor -, Sufiterapi saat ini menjadi kajian yang menarik. Para sufi menawarkan dimensi spiritual dalam pengobatan jiwa. Diantara terapi yang digunakan adalah terapi lapar. Terbukti terapi ini memiliki efek yang luar biasa terhadap tingkah laku keseharian manusia.

Menjaga perut itu penting. Inilah satu kesan saat membaca sub judul memecah dua syahwat (kasr as-syahwatain), pembahasan mengenai hal-hal yang bisa merusak jiwa (muhlikât), yang merupakan bagian integral dari sebuah karya monumental ihyâ ulûmuddin. Untuk menyikapi dan mengendalikan syahwat yang berasal dari perut dan kemaluan, teranyata Imam al-Ghazali menawarkan terapi lapar.

Sebagaimana penemuan beliau, penampung makanan dalam tubuh itu perlu disikapi dengan bijak. Membiarkanya terisi penuh bisa menjadi sumber malapetaka, muara syahwat negatif, juga penyebab berbagai macam penyakit. Efeknya mulai dari sulitnya mengendalikan nafsu seksual, lalu muncul keinginan kedudukan, dilanjutkan menumpuk harta untuk berfoya, diteruskan berbangga dengan diri sendiri lupa siapa yang memberi, permusuhan dan hal-hal buruk yang lain. Semuaya berawal dari kekurang perdulian terhadap pengaturan wadah makanan tersebut.

Baca Juga: Jangan Bosan Menjadi Orang Shaleh

Dengan menahan lapar, perjalanan darah yang menjadi kendaraan para setan untuk ternyata bisa dipersempit. Satu hadits Nabi, sesungguhya setan benar-benar lewat dalam diri manusia dengan jalan darah, maka persempitlah jalanya dengan lapar” (HR. Bukhari Muslim). Maka, perut yang terlalu kenyang sama saja dengan membukan jalan bebas hambatan bagi para setan itu. Sangat mungkin, mereka bertepuk tangan berteriak hore.

Imam Al-Ghazali menuliskan beberapa efek positif lapar terhadap jiwa. Diantaranya, hati menjadi suci sehingga penglihatan mata batinya menjadi cemerlang. Jika hatinya bersih maka ia akan merasakan manisnya berdzikir dan beribadah. Bisa menambah untuk merasakan kelemahan manusia di hadapan Allah. Selalu teringat ujian sekaligus siksasaan Allah. Lebih bersemangat melakukan kebaikan-kebaikan. Meningkatkan kehusyu`an dan ketenangan dalam beribadah.

Seorang ulama dan ahli Ibadah, As-Syibly juga menceritakan pengalaman menariknya ketika lapar. Beliau menemukan pengetahuan-pengatahuan baru yang belum pernah dijumpainya. Katanya Aku tidak lapar karena Allah kecuali aku melihat sebuah pintu yang terbukan dalam hatiku, berupa hikmah dan Ibrah yang belum pernah aku temui. Demikian juga nasehat Luqman al-Hakim kepada putranya ”wahai anakku, jika wadah makanan itu penuh maka pikiran pun tertidur, hikmah terhalangi, anggota badan duduk malas beribadah”.

Baca Juga: Konsep Jauz Di Dalam al-Qur’an

Efek yang paling dahsyat adalah melemahkan syahwat untuk berbuat maksiat. Syahwat bukan hanya menyangkut seksualitas, tetapi “dorongan nafsu untuk selalau bersenang-senang” (tawâqân an-nafs ilâ al-mustaladzzât), apapun itu (Kasyyâf Ishtilâhat funûn, 1044). Kecenderungan umum bahwa, kesenangan itu dicari dengan jalan tidak direstui. Juga, kebanyakan tindakan buruk manusia disebabkan mengikuti keinginan hawa nafsunya. Nutrisi pembangitnya adalah terlalu banyak makan. Sehingga, dengan mengkondisikan perut dalam keadaan lapar berarti telah menutup salah satu sumbernya.

Syahwat kemaluan adalah salah satunya. Ternyata, disinalah rahasia himbauan Puasa oleh Rasulullah kepada para pemuda-pemudi yang belum cukup bekal menikah. Melihat sunnah Rasul ini, bisa dipastikan masalah seks bebas yang diimpor barat ke dunia timur sebenarnya bisa diatasi. Perlu dicoba menjadi agenda pemerintah.

Namun, yang perlu diperhatikan. Lapar disini bukan berarti tidak memasukkan makanan dan minuman sama sekali ke dalam tubuh. Karena tubuh itu juga memilik hak untuk diberi kekuatan. Tanpa memberinya asupan bergizi berarti termasuk bagian kedzaliman. Syari`at sangat melarang mengkebiri perut. Oleh sebab itu, shaum ad-dhar; puasa siang malam secara terus menerus tidak mendapatkan pahala malah mendakpat dosa.

Baca Juga: Membaca Maqamat Dalam Islam

Yang diharapkan adalah mengatur dan memajemen perut dengan baik. Caranya adalah dengan makan secukupnya dan tidak berlebihan. Terlalu banyak makan menyebabkan malas beribadah, kelaparan juga membuat hati sibuk sehingga tidak khusyuk. Pun tidak kelaparan yang bisa menyebabkan kekurangan gizi. Sebenarnya, Tujuan makan hanyalah menjadi modal penguat untuk melakukan ibadah. Jika, ini sudah bisa dicapai maka makan itu sudah cukup.

Bila dilihat dari sejarah, lapar adalah aktifitas istimewa Nabi, kelaurganya dan orang Shalih. Abu Hurairah bercerita bagaimana aktifitas keluarga untuk urusan makan; “Nabi dan keluarganya tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut hingga wafat” (HR. Muslim). Untuk mensiasatinya, batu kecil diikatkan pada bagian perutnya itu. Ketika ada makanan pun, Belaiu akan makan ketika lapar datang dan akan berhenti sebelum kenyang.

Sebagaimana kesimpulan KH. Hasyim Asyari dalam Adabul Alim. Dalam Sejarah, beliau tidak menemukan adanya orang-orang pilihan, imam yang menjadi panutan, para wali dan orang shalih yang makan dengan kenyang. Hal ini dikarenakan, makan kenyang adalah aib dan bisa menjatuhkan kewibawaan dan martabat tinggi mereka. Jikalau memang ada, sepertinya maka masih tergolong awam. Wallahu a’alam.

One Comment

  1. Pingback: Untuk Meningkatkan Mutu Prodi, Dosen AFI Sambangi Fakultas Psikologi UMM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *