Oleh:
Alfi Huda (Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam 5)
Alfian Nurdin (Mahasiswa Studi Agama-Agama 5)
Mohammad Afham Bin Zulkifli (Mahasiswa Studi Agama-Agama 5)

Al-Qaramithah ini merupakan bagian dari pengikut Syiah Ismailiyah[1] yang tersebar di banyak negara, seperti Afganistan, India, Pakistan, Suriah, Yaman, serta beberapa negara Barat, yakni Inggris dan Amerika Utara.[2] Aliran sesat, Al-Qaramithah ini muncul pada tahun 278 H di masa Khalifah Abbasiyah Al-Mu’tadhid Ahmad bin Al-Muwaffiq Thalhah.[3]

Tulisan ini akan mencoba menjelaskan tentang apakah yang dimaksud dengan “Al-Qaramithah” itu? Bagaimana penyebaran Al-Qaramithah di Indonesia? Bagaimana aqidah dan pemikiran Al-Qaramithah? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan coba dijawab dalam tulisan berikut ini.

Makna Al-Qaramithah

Di bawah kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M), gerakan bawah tanah Syiah banyak yang melawan terhadap pemerintahan yang sedang berlangsung. Di antara mereka yang paling banyak menganut mazhab Ismailiyah, mayoritasnya, ada di Salamiyah (Suriah/Syiria), telah sukses besar di Khuzestan (Barat Daya Persia). Dalam akhir cerita tersebut, mazhab Ismailiyah saat itu dipimpin oleh al-Husayn al-Ahwazi. Ketika Husayn sedang berjalan-jalan dia bertemu dengan Hamdan, kemudian oleh Husayn diberikanlah julukan Qarmat kepada Hamdan setelah ia menganut Ismailiyah ini.

Singkatnya, Al-Qaramithah[4] itu bukanlah sebuah dinasti/bangsa, melainkan salah satu cabang dari gerakan Ismailiyah yang menguasai Arab Timur dan Arab Tengah (sekitar semenanjung Persia). Nama ini diambil dari nama Hamdan Qarmat yang sebelum tahun 260 H/874 M, ia telah menyebarkan ajaran Ismailiyah kepada kaum petani untuk mengumpulkan pengikut di Sawad, Kufah. Dakwah Qarmat berhasil, karena yang diajarkan adalah Mesianisme. Maka, menyebarlah gerakan ini sampai ke Iran, Transoxiana, Yaman, Bahrain, bahkan Afrika Utara.

Namun, mereka gagal menguasai Mesir. Di samping gagal, mereka tetap berkuasa hingga tahun 466 H. Saat itu pimpinannya, Ubaidillah bin Ali Muhammad bin Abdul Qaisi yang dibantu oleh Raja Syah As-Saljuki. Ubaidillah ini mengaku ada hubungan dengan Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq. Namun demikian, Ja’far Ash-Shadiq tidak mungkin mencela Abu Bakar dan Umar.[5] Demikian kedustaan dan kebohongan Al-Qaramithah, Syiah Ismailiyah.[6]

Penyebaran Al-Qaramithah di Indonesia?

Penyebaran Al-Qaramithah ini tidak berbeda dengan penyebaran Syiah di Indonesia. Karena Al-Qaramithah ini sama berkhianat dan sesat[7] dengan Syiah. Menyebarkannya adalah dengan membangun keyakinan bahwa Iran dan “Hizbullah” Lebanon-lah pihak satu-satunya yang melawan Amerika dan Zionis, memanfaatkan peristiwa Karbala dengan bersikap ghulu (berlebih-lebihan) untuk menarik belas kasih kalangan awam agar membenarkan kelompok Syiah, mengedepankan penggunaan akal sehat, nalar/pertimbangan baik buruk serta argumen bersifat politik[8] dalam beragama, menggiatkan “Studi Kritis” terhadap Ahlus Sunnah dengan berbasiskan logika dan nalar politik, dan mencela istri-istri Rasulullah SAW dan para  sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Al-Khaththab, dan Ustman bi Affan.[9]

Begitulah strategi dan taktik penyebaran Al-Qaramithah/Syiah Ismailiyah di Indonesia. Lebih dari itu, aliran Syiah masuk ke berbagai belahan dunia dengan menggunakan beberapa strategi. Strateginya, fokus pada penguasaan tiga asas utama yang ada pada setiap agama, yaitu militer, ilmu pengetahuan (ulama dan intelektual), serta ekonomi (pemilik modal).[10]

Aqidah dan Pemikiran Al-Qaramithah

Setelah membahas penyebaran Al-Qaramithah di Indonesia maka selanjutnya dipaparkan aqidah dan pemikiran Al-Qaramithah yang menjadi sumber kesesatannya. Mereka memiliki aqidah dan pemikiran yang berbeda dengan mayoritas ummat Islam, seperti aqidah bada’[11], aqidah rafidhah,[12] dan aqidah raj’ah.[13]

Berdasarkan suatu berita, bisa dipahami bahwa pemikiran Al-Qaramithah adalah mereka tidak menganggap suci Makkah dan Ka’bah, tetapi tanah Karbala lebih utama daripada Makkah, dan Masyhad Husaini lebih utama daripada Ka’bah. Juga mereka menganggap orang-orang yang berhaji ke Baitullah Al-Haram tidak mendapatkan kemuliaan apa-apa. Mereka lebih mengutamakan berziarah ke makam Al-Husain dan menggangap itu sama dengan pergi haji.[14] Dengan kata lain, yang telah mereka lakukan adalah pengkhianatan.

Penutup

Al-Qaramithah adalah pengikut Syiah Ismailiyah yang tersebar di banyak negara Islam maupun Barat, mulai Afganistan sampai Kanada, Amerika Utara. Sebab, ia telah lama muncul sejak tahun 278 H/892 M. Dan Al-Qaramithah ini bukan Islam dan banyak ajarannya berisi kedustaan lagi kebohongan.

Al-Qaramithah memiliki pemikiran setidaknya ada dua. Pertama, tidak menganggap suci Makkah dan Ka’bah, tetapi tanah Karbala lebih utama daripada Makkah, dan Masyhad Husaini lebih utama daripada Ka’bah. Kedua, menganggap orang-orang yang berhaji ke Baitullah Al-Haram tidak mendapatkan kemuliaan apa-apa. Mereka lebih mengutamakan berziarah ke makam Al-Husaini dan menganggap itu sama dengan pergi haji.

Daftar Pustaka

Abdus Sami’, Imad Ali. 2006. Pengkhianatan-Pengkhianatan SYIAH dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Ummat Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Jaiz, Hartono Ahmad. 2004. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Jakarta Timur: PUSTAKA AL-KAUTSAR.

Footnote


                [1] Lihat, http://arifinismail.blogspot.com/2013/11/sejarah-hitam-qaramithah.html, diakses  Jum’at, 11 Oktober 2019

                [2] Lihat, https://nasional.tempo.co/read/426800/mengenal-4-kelompok-dalam-syiah, diakses Jum’at, 11 Oktober 2019

                [3] Ibnu Al-Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, 6/363 dalam Imad Ali Abdus Sami’, Pengkhianatan-Pengkhianatan SYIAH dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Ummat Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), 63

                [4] Umumnya, Syiah terbagi pada empat kelompok yang masing-masing dari keempatnya terbagi lagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Menurut al-Baghdadi, dari empat kelompok itu, yang masuk golongan ummat Islam adalah Syiah Zaidiyah dan Imamiyah. Sementara, yang tidak masuk dalam Islam, Syiah Gulat /hampir punah dan Syiah Ismailiyah dan cabang-cabangnya. selengkapnya lihat, http://www.sajadah.co/aliran-aliran-syiah-dan-ajaran-ajarannya/#5_Aliran_Syiah_Kelima_Syiah_Ismailiyah, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019.  Menurut Kyai Hasyim, baik Syiah Imamiyah maupun Zaidiyah adalah mazhab yang sesat dan tidak benar. Lihat juga, https://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2019/01/02/157537/syiah-zaidiyah-dulu-dan-sekarang.html, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019.

                [5] Mengenai Ja’far Ash-Shadiq mencintai Abu Bakar Ash-Siddiq dan Umar bin Khaththab. Lihat, https://www.nahimunkar.org/imam-jafar-ash-shadiq-tokoh-ahlus-sunnah-yang-direkayasa-syiah/, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019

                [6] Lihat, https://konsultasisyariah.com/13030-siapakah-jafar-ash-shadiq.html, diakses Jum’at, 11 Oktober 2019

                [7] Pangkal utama adanya kesesatan adalah karena akal tidak tunduk pada wahyu, akal tidak dibekali ilmu yang benar, dan akal tidak mengikuti penafsiran yang benar yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Serta diliputi dengan hawa nafsu dan aneka kepentingan, sehingga semakin jauh dari kebenaran. Lihat, Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, (Jakarta Timur: PUSTAKA AL-KAUTSAR), 24.

                [8] Kenapa Syiah masuk ke dalam kelompok partai politik? Karena kenyataan, bahwa Imam Syiah Zaidiyah Zaid bin Ali belajar tentang ushuluddin/prinsip-prinsip ajaran agama dengan pendiri Mu’tazilah, Washil bin Atha. Maka, Syiah Zaidiyah adalah Syiah dari segi partai politik dan Mu’tazilah dalam segi kelompok keagamaan.  Lihat,  http://www.sajadah.co/aliran-aliran-syiah-dan-ajaran-ajarannya/#5_Aliran_Syiah_Kelima_Syiah_Ismailiyah, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019.

                [9] Lihat, https://www.arrahmah.com/5-strategi-taktik-penyebaran-aliran-syiah-indonesia-waspadalah/, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019

                [10] Lihat, https://www.kaskus.co.id/thread/55076b67de2cf25c4d8b456c/ilmuwan-penyebaran-dan-gerakan-syiah-berbahaya-bagi-indonesia/, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019.

                [11] Aqidah bada’ adalah aqidah Syiah yang mencacati sifat Allah. Selengkapnya lihat, https://www.kiblat.net/2015/03/07/al-bada-aqidah-syiah-yang-mencacati-sifat-allah/, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019

                [12] Aqidah rafidhah berdiri atas caci maki, mencela dan mengkafirkan para sahabat. Selengkapnya lihat, https://almanhaj.or.id/413-syiah-bagaimana-aqidah-rafidhah-terhadap-para-shahabat-rasulullah.html, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019.

                [13] Aqidah raj’ah adalah meyakini orang yang telah mati bisa hidup kembali sebelum hari kiamat. Selengkapnya lihat, https://www.jendelainfo.com/kesesatan-aqidah-rajah-syiah-rafidhah/, diakses Sabtu, 12 Oktober 2019.

                [14] Abul Qasim Ja’far bin Muhammad Asy-Syi’I, Kamil Az-Ziyarat, (Beirut, Cet. Dar As-Surur, 1998) dalam Imad Ali Abdus Sami’, Pengkhianatan-Pengkhianatan SYIAH dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Ummat Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), 67-68.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *