Oleh : Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil

Setiap tanggal 22 Oktober kita memperingati Hari Santri. Sudah sepatutnya para santri di seantero Indonesia menjadikannya sebagai hari untuk bahan untuk instropeksi dan bukan untuk berbangga diri, seolah perayaan yang berlalu begitu saja tanpa makna dan hikmah. Banyak kalangan yang berusaha membuat uraian dari singkatan santri dalam bahasa arab. Beberapa diantaranya :

سنتري (س : ساتر للعورة، ن : نهي المنكر وضده، ت : تابعهم لربه، ر : رأس الأمة في العمل، ي : يقين في القلب بما علمه الكياهيون في المعهد)

SANTRI (س orang yang menutup aurat, ن : mencegah kemunkaran dan melawannya, ت : bergantung kepada Tuhannya, ر : Pemimpin umat umat dalam beramal (bekerja), dan ي : Yakin dalam hati terhadap apa yang diajarkan oleh para kiai di pesantren).

سنتري (س : سافر إلى المعهد لطلب العلم، ن : نال كثيرا من العلم، ت : تابع شيخه وتمسك بسنة نبيه، ر : رجع إلى بلده لينشر علمه للناس، ي : يملك أموالا كثيرة ويؤسس معهدا مباركا ويرجع إلى الجنة مرضيا)

SANTRI (س : Pergi ke Pesantren untuk mencari ilmu, ن : memeroleh banyak ilmu, ت : setia mengikuti jejak guru dan berpegang teguh pada Sunnah Nabinya, ر : Kembali ke rumah untuk menyebarkan ilmunya kepada umat manusia, dan ي : Memiliki banyak harta untuk membangun pesantren yang diberkati dan kembali ke surga dalam keadaan diridhai).

سنتري (س : سالك إلى الآخرة، ن : نائب عن المشايخ، ت : تارك عن المعاصي، ر : راغب في الخيرات، ي : يرجو السلامة في الدنيا والآخرة)

SANTRI (س : orang yang menuju/ berorientasi akhirat, ن : pengganti dari para guru/ generasi tua, ت : orang yang meninggalkan maksiat, ر : orang yang senang kebaikan, dan ي : mengharap keselamatan di dunia dan akhirat).

Setidaknya ada 15 manfaat menjadi santri, seperti tertulis di sebuah meme yang beredar luas beberapa waktu yang lalu. Kelima belas manfaat itu adalah : 1. Ayah ibunya tenang dalam mencari nafkah 2. Anak terjaga shalat 5 waktunya secara berjamaah di masjid 3. Anak rutin membaca dan menghafal al-Quran secara teratur 4. Anak terjaga shalat sunnah seperti shalat dhua, tahajjud, rawatib dan sebagainya 5. Anak akan rajin melaksanakan puasa-puasa sunnah 6. Anak akan mampu menguasai bahasa Arab dan Inggris 7. Anak terjaga dari pergaulan bebas 8. Anak terlindungi dari Narkoba 9. Anak terjaga dari pengaruh HP 10. Anak terjaga dari kenakalan remaja 11. Anak terbiasa hidup mandiri, displin dan sederhana 12. Anak selalu mendoakan kedua orang tunya 13. Anak menjadi investasi berharga bagi kedua orang tuanya kelak dan 15. Anak belajar keterampilan dan adab-adab islami

Para Santriwati

Dunia pesantren bukan dunia yang asing bagi kaum perempuan. Tak terhitung sejumlah ulama berasal dari kalangan perempuan. Memang, selama ini lembaga keulamaan lekat dengan kaum laki-laki. Padahal banyak ulama yang datang dari kaum hawa yang tak kalah kualitas ilmunya. Pesantren untuk perempuan di Tanah Air, menurut catatan sejarah, baru muncul di abad ke 20. Meski pun demikian, mereka sudah lama mengambil ilmu dengan belajar langsung kepada para ulama, tuan guru, dan kiai setempat. Pengembaraan mereka dalam mencari ilmu sudah lama dilakukan. Biasanya para kiai itu sendiri yang mengajar para putrinya sehingga menjadi insan yang berwawasan luas.

Ada banyak santriwati yang juga seorang pejuang tangguh di masanya. Mereka yang di kemudian hari menjelma sebagai ulama di Nusantara tidak bisa dihitung dengan jari. Misalnya sosok Cut Nyak Dien dan Cut Muetia. Keduanya mampu berfatwa dalam mengurai permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat sehingga bisa menemukan solusi terbaik dalam suatu persoalan. Ada juga Nyai Ageng Tegalrejo, nenek Pangeran Diponegoro.

Di era pasca kemerdekaan banyak santriwati yang menjadi ulama mumpuni di bidangnya masing-masing, misalnya Tuan Guru Haji Muna atau Maemunah (Maluku 1962-2008), Nyai Masriyah Amva, pengasuh pesantren Kebun Jambu al-Islami Babakan Ciwaringin Cirebon, Nyai Solehah Munawaroh Bisri (istri KH. A. Wahid Hasyim), ibu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Selain itu, sosok Nyai Khoiriyah Hasyim, putri KH. Hasyim Asy`ari, tak boleh kita lupakan. Istri KH. Maksum Ali yang berasal dari keluarga pesantren Maskunambang, Gresik ini, adalah wanita yang ulama. Setelah ditinggal wafat oleh sang suami, 27 tahun, Nyai Khoriyah menjadi pemimpin pesantren Seblak, 200 meter dari Tebu Ireng. Tugas memimipin pesantren ini terjadi sejak tahun 1933 hingga 1938.

Tahun 1938 Nyai Khoiriyah menikah dengan Kiai Muhaimin. Keduanya kemudian pergi ke Makkah dan tinggal di sana selama 20 tahun. Yang menakjubkan, di Tanah Suci beliau mendirikan madrasah khusus wanita pertama. Sungguh merupakan suatu hal yang menjadi prestasi, khususnya bagi kalangan ulama di kota itu. Bagaimana tidak, seorang muslimah yang bukan penduduk asli bisa membuka madrasah khusus perempuan di Makkah. Madrasah ini didirkan pada 1942.

Sepulangnya ke Tanah Air Nyai Khoiriyah menduduki sejumlah jabatan, termasuk menjadi anggota di kursi Bahtsul Masail Nadhatul Ulama. Kiprah ulama perempuan membuktkan bahwa kehadiran perempuan memiliki pengaruh dan makna besar bagi pesantren dan dunia pendidikan di Indonesia. Kebangkitan kaum wanita melalui lingkungan pesantren adalah bukti kecintaan mereka kepada Islam dengan menangkal berbagai macam kebodohan, bukan lantaran berangkat dari paham feminisme dan kesetaraan gender.

Berbagai pesantren yang jumlahnya ribuan di Tanah Air memiliki kontribusi dan saham besar dalam perjuangan di Indonesia. Kaum santri memiliki andil dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari kebodohan. Oleh karena itu, Hari Santri harus dijadikan sebagai napak tilas perjuangan dalam mengemban amanah berupa pengamalan dan pengajaran ilmu.

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Cahaya Nabawiy, Edisi Nom 186 Shafar 1441 H / Oktober 2019 M, Rubrik Nisaa’una)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *