Catatan Ringkas dari Seminar dalam Musyawarah Wilayah Se-Jawa Timur, Halaqoh  BEM Pesantren Se-Indonesia dengan Tema “meningkatkan Kualitas Mahasantri Perguruan Tinggi” yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Khalid Muslih, M.A. Di Aula Pertemuan CIOS UNIDA Gontor, 25 November 2019.

Oleh Hanif Maulana Rahman
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semeseter V

afi.unida.gontor.ac.id Visi Islam mengenai peradaban adalah satu kesatuan paket antara manusia, alam beserta Tuhan Yang Maha Esa, maka narasi yang dibangun adalah secara total atau secara horizontal serta vertikal. Hubungan yang tidak bisa dipisahkan ini menjadi konsep asas dan tujuan dari sebuah peradaban yang dikonsepsi oleh ajaran Islam.

Menariknya banyak ayat Al-Qur’an yang memberikan taujih atau arahan terkait runtuh dan majunya suatu peradaban. Peradaban dalam Al-Qur’an mempunyai istilah khilafah-imarah-taskhir dan tamkin atau adanya pemimpin yang mengatur lalu menguasai serta membangun sebuah peradaban.

Allah sudah menempatkan dan menyediakan segala kebutuhan manusia di alam ini, manusia bisa menanfaatkannya dan ada timbal balik kebermanfaatan bagi alam juga, seringkali kebermanfaatan ini hanya sebatas pada manusia dan tidak mementingkan alam dan akhirnya alam rusak.

“peningkatkan kualitas dan kapabilitas harus terlaksana, dan ini dapat ditempuh dengan mempunyai visi, motivasi, kempetensi dan manajemen” Al-Ustadz Dr. Muhammad Khalid Muslih, Lc., M.A.

Peradaban menurut Ibnu Khaldun

Dalam konteks peradaban ada sebuah siklus dimana peradaban akan muncul dan menghilang, Ibnu Khaldun mengawali siklus peradaban dari hidup sulit. Hidup sulit membuat manusia membangun sebuah sistem yang bisa membuat mereka bersatu ada keteraturan disana, atau disebut sebuah peradaban.

Siklus ketiga yaitu setelah adanya peradaban manusia ini mulai mempunyai produk-produk dari peradaban yang membuat hidup manusia menjadi lebih mudah, efisien, ada kebermanfaatan, dan lahirlah siklus ketiga yaitu kesejahteraan.

Kesejahteraan ini banyak membuat manusia lengah, haus kekuasaan, tertipu dengan kesejahteraannya, dan akhirnya peraban memunculkan siklus keempat yaituhidup sulit seperti awal peradaban dimulai, dan peradaban ditahap ini akan hilang.

Dalam Al-Qur’an banyak sekali cerita yang dapat dipetik dari segi runtuh dan majunya sebuah peadaban. Kaum Ad, Samud, itulah contoh peradaban yang diluluh-lantahkan oleh Allah SWT, sementara puncak peradaban yang pernah ada juga di-nash-kan dalam Al-Qur’an; cerita kepemimpinan Nabi Suliaman yang dapat menguasai empat alam; alam manusia, alam jin, alam hewan dan alam di sekitar manusia (bumi dan seisinya).

Ibadah sebagai Tujuan akhir dari Peradaban

Peradaban diciptakan Allah juga mempunyai tujuan akhir bagi manusia yaitu menegembalikan manusia untuk beribadah kepada Allah, maka dalam konsep peradaban Islam, tidak hanya membangun peradaban, membuat produk peradaban yang memudahkan bagi manusia, namun juga ada kebermanfaatan bagi alam dan bersinambungan secara horizontal kepada Sang Maha Kuasa.

Dari cerita Nabi Sulaiman tadi kita bisa menagmbil kesimpulan bahwa punvak sebuah peradaban dapat diukur melalui; a. luasnya kekuasaan dan pengaruh; b. kebermanfaatan bagi manusia, alam dan ada relevansi kebermanfaatan itu kepada Sang Pencipta.

Tingkatan utama suatu kebermanfaatan dilihat dari jalbu-al-masholih wa dar-u-al-mafasid atau mendatangkan manfaat dan menghilangkan kerusakan dari semua lini, baik manusia, alam dan kepada Tuhannya.

Dalam sebuah peradaban tentunya ada produk atau karya darinya, produk atau karya ini menghasilkan sebuah kemajuan peradaban. Menurut Ibnu Khaldun kemajuan peradaban dapat diukur dengan; a. Sarana fisik kehidupan, dengannya manusia bisa memanjakan jasad, memuaskan jasad, dan sebagainya. b. Kemajuan bidang sosial, adanya peraturan dan kedisiplinan, hukum, nilai yang menjadikan terwujudnya kesejahteraan di bidang sosial.

c. Bidang spiritual dan agama, ini menarik spritaualiatas dan agama memang sejauh ini dalam peradaban Barat yang maju, agama dan spiritualitas dikucilkan, dipisah dari kehidupan bermasyarakat, bersosial, bahkan bernegara. Nyatanya aspek inilah yang melingkari, mewarnai sebuah peradaban, agama menjadi titik awal sebuah peradaban.

Al-Ustadz Dr Muhammad Khalid Muslih, Lc., M.A. Memeberikan Kuliah dihadapan pesera Msyawarah Wilayah se-Jawa Timur 2019 Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia

Unsur Peradaban Menurut Malik bin Nabi

Malik bin Nabi menyebutkan unsur peradaban ada tiga yaitu; manusia atau SDM, tanah atau alam (SDA), serta waktu dan ketiganya ini dilingkari oleh agama. Memang menurut Malik bin Nabi yang menjadi faktor dari pembangunan peradaban adalah SDM atau manusia, dan manusia itu bergantung kepada agama atau Tuhan, mengapa demikian? Karena manusia adalah makhluk Theogenetis atau makhluk ber-Tuhan.

Berbeda dengan Ibnu Khaldun, Malik bin Nabi menjabarkan bahwa siklus peradaban diawali dengan adanya ruh atau semangat dalam membangun peradaban, semangat ini melahirkan gerakan yang menciptakan siklus kedua yaitu membaca, proses ini membutuhkan adanya akal, logika sebagai instrumennya sehingga siklus ketiga ketika manusia memakai akal dalam membentuk peradaban akan memunculkan ilmu pengetahuan dan berbagai produk yang menjadi sarana bagi kehidupan manusia.

Manusia dan Peradaban

Dari sarana yang sudah banyak, kemajuan sudah menghasilkan kemudahan, manusia tidak lagi mempertahankan akal dan motivasi atau ruh, mereka meninggalkan keduanya dan manusia beralih kepada insting. Manusia menggunakan insting ini disebust Malik bin Nabi sebagai siklus keempat atau siklus akhir dari sebuah peradaban.

Manusia menjadi penggerak dalam pembangunan peradaban, namun disisi lain manusia juga bisa menghancurkan, merusak peradaban. Rusaknya ini disebabkan berbagai faktor yang kita sebuat sebagai probelem-problem kemanusiaan, diantaranya;

  1. Cara berpikir manusia yang mundur, yang tidak melihat masa yang akan datang, pikiran manuisa masih dipenuhi mitos, tidak sistematis, dan tidak mempunyai logika.
  2. Masalah spiritual, zaman sekarang agama dikucilkan, bahkan dianggap faktor bobroknya suatu peradaban, mejadi penglang, lemahnya iman, taqwa, dan hilangnya takut akan Tuhannya.
  3. Masalah akhlak, hilangnya adab dan akhlak, moral menipis, nilai budi luhur luntur.
  4. Masalah pengendalian diri.
  5. Masalah ekspolarsi potensi dan skil.
  6. Masalah kesehatan dan kekutan fisik.

Seorang manusia harus mengawali dari dirinya sendiri dahulu untuk mengenal, memahami dan mengatur dirinya sendiri, dari individu ini lahirlah sebuah keluarga yang jika bermasyarakat akan memiliki identitas, prinsip, dan mereka akan bersatu untuk membentuk sebuah negara atau peradaban yang sejahtera. Maka menjadikan diri ini baik sudah tentu menjadi factor terbentuknya negara atau peradaban yang baik.

Dalam Al-Qur’an, Manusia dikelompokkan menjadi; a. Khasiran (orang yang merugi), manusia ini tidak punya iman ataupun amal, atau tidak memiliki salah satu diantara iman dan amal; b. Salihun atau manusia yang beriman dan mempunyai amal; c. Mutamayizzun atau manusia professional yang mencipta dari berabagai lini bidang masing-masing.

d. Muslihun, manusia yang dapat menggerakkan manusia lain untuk beribadah kepada Rabnya dan beramal sholeh, menciptakan sarana bagi para salihun; dan e. Qiyadah, manusia yang menjadi pemimpin atau leader dimana mereka kelompok kecil yang memimpin para muslihun.

Manusia menurut kriteria diatas jika dipresentasikan dari segi pemahamannya akan kejadian, atau fenomena yang ada di muka bumi ini akan terlihat sebagai berikut;

  1. 85% tidak memahami fenomena
  2. 15% mengetahui dan memahami fenomena
  3. Dan hanya 5% membuat fenomena, dan ia mengatur fenomena itu.

Dari sini maka kita sebagai generasi penerus umat, maka peningkatkan kualitas dan kapabilitas harus terlaksana, dan ini dapat ditempuh dengan mempunyai visi, motivasi, kempetensi dan manajemen.

Lihat juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *