Oleh; Fardana Khirzul Haq, S.Fil.I., M.Si.

Disela-sela diskusi kami di kelas dengan bimbingan dari Dr. Sri Mulyati, dosen Sejarah dan Ajaran Tasawwuf di SKSG UI prodi KTTI, ada sebuah pertanyaan yang dilemparkan dalam kelas tersebut. Singkatnya, pertanyaan itu mengenai posisi seseorang yang percaya Tuhan tapi tidak percaya dengan agama. Percaya pada Zat Yang Maha Agung tetapi tidak percaya terhadap jalan yang ditawarkan. Dalam kata lain, dia berusaha membangun jalannya sendiri.

Pertanyaan ini sebenarnya cukup membuat saya berpikir serius. Jika ada penyataan tentang kepercayaan adanya Tuhan, maka mereka yang percaya disebut dengan teis dan yang tidak percaya disebut dengan ateis. Mereka yang menanggapi dengan tanggapan tidak tahu disebut agnostik. Lawan kata agnostik adalah gnostik. Gnostik bisa dikatakan sebuah tanggapan yang menyatakan “Saya tahu”. Begitulah yang diungkapkan oleh Robin Le Poidevin dalam karyanya ‘Agnosticism’ (2010). Jika Teis berkenaan dengan Tuhan yang memiliki sifat Existence, maka gnostik bersifat Being.

Istilah ini tidak berhenti sampai disini, menurut Thomas Huxley, setidaknya ada empat istilah lagi, teis agnostik, teis gnostik, ateis gnostik dan ateis agnostik. Teis agnostik artinya percaya bahwa Tuhan itu ada namun keberadaan-Nya tidak dapat diketahui. Teis gnostik berarti percaya bahwa Tuhan itu ada dan keberadaan-Nya bisa diketahui. Ateis gnostik adalah tidak percaya adanya tuhan tapi keberadaan-Nya bisa diketahui. Terakhir, ateis agnostik yaitu tidak percaya adanya tuhan dan keberadaan-Nya tidak diketahui. Pembagian ini bisa dilihat lebih spesifik lagi dalam ‘Atheism: The Case Against God’ (2003) karangan Geoge H. Smith.

Baca juga: Melihat Agenda dan Peluang Riset Islamisasi Ilmu dengan Pendekatan Historis

Menurut Matthew Alun Ray dalam bukunya ‘Subjectivity and Irreligion’ (2003), keberhasilan generasi humanis, materialis historis, psikoanalis, feminis dan para sosiobiologis dalam bidang yang mereka tekuni yang bahkan hampir tak tersaingi, semakin memperparah keprihatinan agama di zaman modern. Meskipun demikian, agama tidak akan lenyap begitu saja, selama ada harapan, ketidakpastian dan ketakutan, selama itu pula agama atau spiritualitas akan tetap ada, begitulah pendapat Robert Corfe dalam ‘Deism and Social Ethics’ (2007). Sebagai jalan tengah, dengan tetap percaya kepada Tuhan dan tidak terikat kepada dogma agama yang tidak logis dan rasional, akhirnya dipilihlah deisme sebagai solusi.

Corfe mengutip dari Samuel Johnson (1709-1784) yang mengartikan bahwa seorang deis adalah dia yang percaya adanya Tuhan dan tidak menganut agama apapun. Mungkin inilah posisi dari pertanyaan diatas. Dia adalah seorang deis. Deisme menjadi alternatif terbaik pada zaman modern.

Dalam perspektif deisme inilah, seorang professor bernama Max Muller mengungkapkan opini-opininya tentang agama. Menurutnya, agama sangat mungkin dijelaskan asal-usulnya dengan menggunakan penelitian historis. Muller merupakan pencetus dari ‘science of religion’. Pendapat ini mendapat tanggapan yang beragam, diantaranya muncul beberapa tahun setelah Darwin menerbitkan buku The ‘Origin of Species’ (1859), buku yang menjadi gerbang masuknya pikiran-pikiran yang mengkritisi ajaran Kristen, begitulah yang diungkapkan oleh Daniel L. Pals dalam ‘Seven Theories of Religion’ (1995).

Dimulai pada bidang antropologi, E.B. Tylor terinspirasi dengan Darwin dan menulis ‘Primitive Culture’ (1871). Dalam karyanya dia menjelaskan bahwa kepercayaan kepada hal spiritual hanyalah kumpulan ide yang ada pada masa kanak-kanak. Disusul J.G. Frazer dalam karya ‘The Golden Bough’ (1890) menjelaskan bahwa agama merupakan hasil yang lebih maju dari proses ‘Sympathetic Magic’. Penelitian Tylor dan Frazer ini menggunakan pendekatan etnologi dan etnografi.

Dalam bidang sosiologi, muncul Emile Durkheim dengan karyanya The ‘Elementary Forms of the Religious Life’ (1912) yang menjelaskan bahwa agama merupakan sebuah konsekuensi logis dari sebuah konstruksi masyarakat, ritual keagamaan merupakan sebuah bentuk kesetiaan pada masyarakat, bukan kepada Tuhan.

Baca Juga: Komedi dan Tragedi, Ironi Sebuah Negeri Surgawi

‘The Sacred and the Profan’ (1957) karya Mircea Eliade menjelaskan bahwa faktor sosial, psikologi dan ekonomi memang penting dalam sebuah agama, namun dia menolak agama tergantung dari faktor tersebut. Untuk itulah diperlukan pemisahan yang sakral dan yang profan.

Penelitian agama dalam perspektif sosiologis, antropologis, psikologis dan filosofis inilah yang dianggap paling ilmiah. Harapan Muller untuk menjelaskan agama secara ilmiah dalam kuliah umumnya ‘science of religion’ ternyata mengarah pada hal yang lebih kritis. Kritik atas agama, untuk tidak menggunakan kata ateisme, sudah berkembang dan berjalan cukup masif bahkan sejak Muller belum mengungkapkan gagasannya. Karen Armstrong menulis dalam bukunya ‘the Case for God’ (2009) bahwa Ateisme klasik Barat dikembangkan oleh Feurbach, Marx, Nietzsche dan Freud dan juga Sartre.

Beberapa tahun sebelum Darwin menerbitkan bukunya, Ludwig Feurbach, murid dari Schleiermacher dan Hegel menulis ‘Das Wesen des Christentums (the Essence of Christianity)’ (1841). Dalam bukunya dia memberikan kesimpulan yang bahkan melampaui seruan Hegel. Jika Hegel mencoba untuk menjelaskan Tuhan melalui kesadaran manusia, Feurbach menyatakan bahwa tuhan merupakan proyeksi dan kehendak manusia itu sendiri. Menurutnya kepercayaan kepada tuhan merupakan kepercayaan pada diri sendiri.

Setelah itu, muncullah Karl Marx yang menulis ‘Critique of Hegel’s Philosophy of Right’ (1844). Dalam tulisannya dia menyatakan bahwa agama merupakan candu bagi masyarkat. Masyarakatlah yang menciptakan agama (tuhan) bukan agama (tuhan) yang menciptakan masyarakat.

Nietzsche muncul dengan sebuah kalimat yang sangat terkenal, tuhan sudah mati. Dalam bukunya berjudul ‘the Gay Science’ (1882) dia memberikan sebuah kisah tentang orang gila yang berlari ke pasar sambil menangis dan berkata bahwa kita telah membunuh tuhan. Dia bermaksud menjelaskan bahwa tuhan (agama) sudah tidak mampu menjaga moral manusia. Manusia sudah mulai meninggalkan tuhan, tatanan dan konsep tentang tuhan. Nietzsche menyimpulkan bahwa inilah saat-saat kematian Tuhan.

Dari bidang psikologi muncul seorang pakar bernama Sigmund Freud. Karyanya ‘The Future of an Illusion’ (1927) menjelaskan bahwa agama merupakan sebuah gangguan obsesi mental manusia. Menurutnya, keinginan untuk meninggalkan agama merupakan sebuah proses penyembuhan mental.

Baca Juga: Jangan Bosan Menjadi Orang Shaleh

Sepeninggal Freud, Sartre dalam karyanya ‘Being and Nothingness’ (1943) muncul dan menjelaskan bahwa manusialah pencipta Tuhan. Manusia menciptakan Tuhan untuk menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Bahkan, jika Tuhan benar-benar ada, manusia perlu menolak-Nya karena Tuhan mengekang dan tidak memberi kebebasan kepada manusia.

Memasuki tahun 2000-an, arus keraguan terhadap agama bertambah dan lebih-lebih kepada eksistensi tuhan mulai menyebar. Kejadian 11 September 2001 dianggap sebagai pemicu dari keraguan ini. Gerakan ateisme baru lahir. ‘New Atheism’ atau ‘Militant Atheism’ ini digerakkan oleh Four Horsemen (empat penunggang kuda yang akan muncul ketika kiamat seperti tertulis dalam Bibel) Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens dan Daniel Dennett.

Dawkins menulis buku berjudul ‘the God Delusion’ (2006) yang berisi antara lain bahwa para ateis memiliki hak yang sama dengan kaum agamis. Ateis bisa bersikap dan bermoral dan juga bisa merasakan kebahagiaan. Anak-anak tidak perlu diberikan label dari agama mereka. Teori-teori ilmiah lebih unggul daripada hipotesis Tuhan. Dawkins yang merupakan pakar biologi, menyingkirkan keberadaan Tuhan dengan teori evolusi. Baginya, moralitas merupakan produk dari evolusi yang bersifat dinamis, bukan dari agama.

Sam Harris dalam bukunya the ‘End of Faith’ (2007) menjelaskan bahwa akar dari semua permasalahan adalah agama. Terorisme dan fundamentalisme merupakan manifestasi dari agama. Bahkan dia menyebutkan bahwa al-Qur’an merupakan biang perpecahan. Kisah Yesus merupakan kisah yang mengandung kebohongan. Semua agama dikritik oleh Sam Harris.

Hitchens dalam karyanya ‘God is not Great’ (2007) menjelaskan bahwa agama meracuni dunia, bahkan membuat manusia saling membunuh. Dia menulis bahwa agama merupakan sebuah dosa murni yang ada di dunia ini. Manusia perlu kembali mendapatkan pencerahan kembali dan terbebas dari agama.

Kemudian Daniel Dennett bersama Alvin Platinga menulis buku berjudul ‘Science and Religion’ (2010). Dalam buku ini Dennett secara khusus menjelaskan bahwa evolusi juga dialami oleh otak manusia. Manusia dibentuk oleh budaya dan lingkungan, otak selalu berusaha mencari kebenaran. Tidak ada inkonsistensi logis tentang agama dan hubungannya dengan sains.

Namun gerakan New Atheism mendapatkan banyak kecaman dan buku-buku yang mengkritik karya mereka. Deepak Copra dalam karyanya ‘the Future of God’ (2016) mengkrtik pendapat Dawkins bahwa dia tidak bisa membedakan aspek populer dan aspek esoterik agama. Begitu juga Karen Armstrong dalam karyanya ‘the case for God’ (2009) mengkritik four horsemen bahwa tulisan mereka tidaklah murni pengetian agama dari perspektif teologis, mereka tidak pernah berdialog dengan para teolog dan sekedar memfokuskan kepada tuhan yang memang berkembang pada kalangan fundamentalisme semata.

Penelitian agama memang cukup rumit dan sulit. Beberapa perspektif yang ada memang menimbulkan perbedaan dalam menangkap pesan yang ada dalam agama-agama tersebut. Al-Ghazali menjelaskan dalam bukunya al-‘Maqshad al-Asna’ bahwa para ateis menuntut wujud Tuhan sebagai sesuatu yang nampak dan hadir dalam kepastian, hal ini karena mereka ragu dan tertipu terhadap berhala (materialisme).

Dalam Islam, Pemikiran Anti Tuhan adalah bentuk pemikiran primitif. Said Nursi menyatakan Membuktikan ketiadaan Tuhan itu mustahil. Bahkan puncak kesulitan rasio manusia. Setan saja mengaku keberadaa_Nya. Bagi Mutakallim, Akal yang tidak membusuk pasti mencapai kepada Tuhan. Lain halnya Sufi, Keberadaan Tuhan tidak perlu dibuktikan tetapi dirasakan. Maka dari itu semua, Ateisme hanya keangkukan akut.

Artikel Menarik Lainnya:

Konsep Zauj Didalam al-Qu’an
Terapi Lapar
The Santriwati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *