Silakan baca sampai selesai. Sangat inspiratif. Semoga menjadi ibroh bagi kaum muslimin yang merayakan tahun baru, sehingga berhenti.

kisah nyata  ini ditulis oleh al-marhumah  Aisyah Gonen  dan diterbitkan di Majalah Cinar Turki pada tahun 1998. Kisah ini menjelaskan kondisi perayaan malam tahun baru di sana.

Kopral Tahun Baru

Oleh: Hasbi Sen
Pimpinan Yayasan Nur Semesta; Pusat Thulabunnnur Indonesia
Diringkas dan dialihbahasakan dari cerita aslinya (bahasa Turki) Depok, 31 Desember 2019

Kami memiliki kehidupan yang bahagia di sebuah kecamatan, di mana masa kanak-kanak saya habiskan di sana. Ketika itu Turki mengalami perang dunia, namun kami berhasil mengusir musuh dari tanah air, sehingga bisa mempertahankan  kemerdekaannya.

Sudah 15 tahun perang dunia pertama berlalu. Perang menyebabkan kami menjadi miskin, tapi membuat kami tetap bangga. Mungkin Anda tidak percaya, namun orang yang kehilangan orang tua atau suaminya sebagai mati syahid pun memiliki rasa gembira dalam kesedihannya. Ada juga banyak veteran di kecamatan kami. Ada yang kehilangan kaki ataupun tangan. Bahkan ada veteran yang kehilangan kaki dan tangannya sekaligus. Meskipun kondisinya demikian, mereka bangga karena bisa mengusir musuh dari tanah air Turki.

Para veteran atau yang ditinggal mati syahid tidak meminta-meminta kepada orang lain, padahal mereka sangat miskin. Masyarakat  mengetahui kondisi tersebut, sehingga sering kali mereka bantu kepada keluarga veteran dan mati syahid secara diam-diam tanpa pamer. Masyarakat juga memanggil mereka dengan gelar pahlawan. Di antara mereka ada yang dipanggil dengan “Kopral Tahun Baru “.

Di lingkungan kami, Keluarga kami adalah keluarga yang terdidik dan terhormat. Ayah dan pamanku guru, sementara kakekku seorang pegawai negeri. Di kecamatan kami hanya ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Untuk melanjutkan SMA harus pergi ke provinsi. Saya memiliki 5 saudara. 4 di antaranya sekolah di SD dan SMP di kecamatan. Saya mempunyai seorang sepupu bernama Rusuhi. Ia telah tamat SMA dan meneruskan kuliahnya di Perancis.

Kami selalu menunggu kepulangan kakak Rusuhi dari Perancis ketika waktu libur tiba. Ia menceritakan keindahan, kehebatan Perancis. Bagi kami ceritanya seperti dongeng dan Perancis jadi negeri impian.

Pada suatu hari menjelang tahun baru, sepupuku bertanya kepada ayahnya “ayahku, Apa kegiatan kita untuk malam tahun baru?”. Ayahnya menjawab “tidak ada kegiatan, kami di sini tidak merayakan tahun baru”. Kakak Rusuhi berkata “tak apa-apa ayah, kita buat hiburan saja agar anak-anak senang. Di Perancis masyarakat merayakan tahun baru dengan berbagai hiburan”. Karena masih kecil, kami tak tahu apa-apa, tapi kami senang hiburan. Akhirnya pamanku setuju dengan perayaan tahun baru.

Mulailah persiapan acara malam tahun baru. Ibuku dan istri paman-pamanku mulai masak beragam kue, semua baju baru disiapkan. Rasanya seperti Idul Fitri. Sepupuku berpesan kepada ibunya untuk masak “ayam kalkun”. Padahal ketika itu sangat susah mencari ayam kalkun di kecamatan.  Setelah bertanya-tanya kepada tetangga, akhirnya dapat juga. Tetangga juga heran dengan persiapan ini.

31 Desember pun tiba. Kami memakai baju baru pada sore hari. Semua makanan sudah disiapkan. Kami keluar dari rumah dan anak-anak mengelilingi kami. Banyak ibu-ibu juga menyaksikan kami. Malam hari kami kumpul dengan keluarga di rumah sambil menyantap berbagai makanan dan minuman dengan diselingi canda  tawa. Ibu Rusuhi berkata bahwa makanan yang disiapkan cukup untuk banyak orang, tapi kita makan sendiri. Rusuhi pun berkata “tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting kita bersenang-senang.” Ia juga berkata bahwa hiburan ini tak seberapa. Pada malam tahun baru di Perancis, banyak orang minum minuman keras dan bermabuk-mabukan sampai pagi.

Ketika si Rusuhi ingin minum sirup sambil berdiri, tiba-tiba pintu rumah diketuk dengan sangat keras. Ternyata yang datang adalah “Kopral Tahun Baru”.

Ia masuk ke dalam rumah dalam keadaan setengah tubuhnya tak ada. Maksudnya kaki, tangan dan mata kananya tidak ada. Ia kehilangan setengah tubuhnya ketika perang. Dengan nada marah. Ia berkata kepada paman saya. Saya belum pernah melihat ia marah seperti itu sebelumnya.

Kopral: Pak guru, engkau bukanlah guru, tapi penghianat bangsa. Bukankah engkau ajarkan bahwa masyarakat Turki menang dalam perang bukan karena senjata, melainkan iman? Lebih baik nyawa saya dicabut daripada melihat kalian merayakan acara orang Barat. Isak tangis pun mewarnainya.

Guru: kami tidak berbuat apa-apa. Hanya hiburan sesuai dengan permintaan Rusuhi.

Kopral: “kenapa Rusuhi tidak membawa ilmu dan teknologi dari Perancis melainkan membawa budayanya?

Apakah kamu tahu kenapa nama saya menjadi ‘kopral tahun baru’?.

Saya pernah menjadi tentara selama 5 tahun. Saya korbankan keluarga bahkan nyawa saya untuk membela negara. Saya pernah menjadi tawanan pasukan Perancis. Saya dipaksa menjadi pelayan para tentara berpangkat tinggi dalam acara perayaan malam tahun baru.

Ketika itu saya disuruh pakai baju orang Eropa dan mengantarkan makanan di meja para tentara tersebut. Setelah itu seorang letnan Perancis menyuruh saya buka pintu kamar di depan dan membawa sesuatu dari kamar itu kepada masing-masing letnan yang ada. Ia menggunakan bahasa Turki yang terpatah-terpatah. Ketika saya buka pintu, saya sangat terkejut. Karena ada perempuan-perempuan Turki dalam keadaan telanjang. Mereka berusaha menutupi aurat mereka dengan tangan mereka sambil memohon “jangan sentuh kami.” Ketika itu saya tak berpikir panjang dengan kembali dan menyerang letnan itu. Saya dapatkan granat yang ada di letnan itu kemudian saya ledakkannya. Akibatnya 5 letnan mati dari 6 letnan dan para perempuan itu selamat. Saya pun kehilangan setengah tubuh saya. Saya dibiarkan di tempat itu karena mereka menduga saya telah mati. Tapi Allah menyelamatkan saya melalui salah seorang perempuan Turki yang ada di sana.

Sekarang kalian merayakan malam tahun baru yang merupakan budaya orang Barat!!!”

Kami yang ada di sana diam seribu bahasa. Itulah pertama dan terakhir kalinya saya merayakan malam tahun baru. Tapi sayang sekali perayaan malam tahun baru menjadi kebiasaan sebagian masyarakat Turki.

One Comment

  1. Pingback: Menyikapi Tahun Baru Masehi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *