Resensi Buku; Filsafat Sains

Resensi Buku; Filsafat Sains





Karya              : Falsafah Sains; Dari Isu Integrasi Keilmuan Menuju Lahirnya Sains Teistik
Penulis          : Dr. Mohammad Muslih, M.Ag.
Penerbit         : Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI), Yogyakarta
Cetakan         : I, Juli 2017
Tebal              : 215 halaman

.

Buku Falsafah Sains ini benar-benar sangat menarik karena kerangka filsafat ilmunya dan menempatkan agama sebagai bagian tak terpisahkan dari bangunan keilmuan. Buku ini semacam kajian sederhana untuk pengembangan keilmuan. Kajian ini terdiri dari delapan bab. Sebagai contoh, memahami filsafat ilmu dan membahas seluk-beluk sains terdapat pada bab 1 dan 2. Melihat perkembangan sains modern ada pada bab 4. Dan, mengkaji Al-Qur’an ada di bab 8.

Buku ini dilengkapi seperti daftar pustaka yang sumber-sumbernya dari al-Qur’an, hadist, buku, artikel, dan internet, glosarium mulai huruf abjad A-U, indeks, serta riwayat penulis.

Para ulama, cendekiawan, dan ilmuwan menyadari betapa pentingnya memadukan sains dengan Islam. Seorang Pencipta Ilmu Sosial Profetik yang mahir menulis novel dari Universitas Gadjah Mada, Kuntowijoyo, meyakini bahwa menyatukan antara wahyu dan hasil akal budi manusia adalah langkah paling awal sebelum melangkah ke hal berikutnya adalah seperti sumber pengetahuan dan kebenaran adalah agama yang dalam hal ini adalah al-Qur’an.

Oleh karena itu, penempatan agama sebagai bagian tak terpisahkan dalam suatu bangunan keilmuan (scientific building) di Universitas Islam bahkan Universitas Kristen, seperti UNIDA Gontor, Universitas Kristen Petra, dan sebagainya perlu dipopulerkan mulai detik ini. Terlebih lagi, kini kita hidup di zaman yang ramah, antara lain kaum sekuler dan liberal terus berusaha memisahkan ummat Islam dari al-Qur’an.

Bersama “living Qur’an”, insya Allah masyarakat Muslim akan segera menggunakan al-Qur’an sebagai subjek, spirit, simbol, media, dan instrumen dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Sebab, “living Qur’an” keren dan menarik berfokus pada fenomena sehari-hari. Akibatnya, kajian yang terkait di dalamnya mudah menstruktur pada kesadaran ummat Islam dan membentuk budaya, dan bahkan menancap dalam kehidupan nyata.

Tampaknya, buku ini memang menarik karena berhasil melihat wacana integrasi keilmuan dari sudut pandang Filsafat Ilmu. Hal ini bisa dirasakan, bahwa buku ini menyajikan kajian pengantar dalam memahami kaitan satu tema dengan tema lainnya juga merupakan refleksi filosofis dalam kerangka menemukan landasan filosofis serta menjadi kritik bagi upaya pengembangan keilmuan yang selama ini menafikan asumsi teologis. Maka, bersadarkan kajian demi kajian itu, kita pasti sangat mengharapkan bahwa tradisi akademik terbangun dan masyarakat berkembang.  

Kita sadari, untuk membasiskan pengembangan ilmu pengetahuan pada agama itu, maka setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan yaitu tanggung jawab ilmiah dan menawarkan kemanfaatan yang seluas-luasnya bagi agama, keilmuan, sosial, kemanusiaan, dan sebagainya. Bukankah Islam telah meminta kita, agar dalam menjalani hidup penting meneladani Nabi Muhammad SAW dalam tanggung jawab beliau, keikhlasan, kesederhanaan, dan sebagainya serta bahkan penting memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT Raja Diraja yang Maha Berkuasa. Maka, pengembangan ilmu berbasis agama pun pasti berhasil. Dengan perkembangan ini, kajian Filsafat Ilmu, metodologi, aktivitas ilmiah, tradisi, dan budaya ilmiah Filsafat Ilmu cepat-cepat tumbuh menjadi baru dan luas. Semoga! Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Waallahu Wa Rasuluhu A’lam

Penulis: Alfi Huda
Mahasiswa semester VI Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *