Zuhud Dan Qanaah Ala Gontor

Zuhud Dan Qanaah Ala Gontor

Oleh: Nisrina Shafi Athira
Mahasiswi AFI semester empat

afi.unida.gontor.ac.id-Pondok Modern Darussalam Gontor menjadikan kesederhanaan sebagai salah satu asas yang menjiwai kehidupan. Sederhana di sini bukan berarti kekurangan, sederhana yang dimaksudkan adalah sederhana dalam artian cukup, tidak berlebih dan tidak kekurangan. Segala yang didefinisikan dalam kesederhanaan tersebut tercerminkan dalam kehidupan di pondok, pergerakan yang tak pernah terhenti, peraturan dan ritme yang dijalankan sehari-hari. Semuanya merupakan buah dari ajaran Trimurti yang tak terlepas dari sikap zuhud dan qanaah.

 Pergerakan yang menjadi esensi dalam kehidupan mengakibatkan berkah yang tiada duanya. Berkat konsep zuhud dan qanaah yang tergambarkan dari kesederhanaan sikap Trimurti, maka tak pernah sekalipun hati dan niat beliau untuk mendirikan pondok ini terikat dengan niat duniawi, bahkan beliau terkesan sangat arif terhadap dunia. Sehingga berkah dalam wujud manfaat terus menerus mengalir bak mata air yang selalu mengalirkan manfaat bagi generasi ke generasi.

Sikap zuhud dan qanaah ini menjadi kunci agar hati tidak terikat pada duniawi apalagi sampai menjadikan dunia sebagai tujuan. Dewasa ini, kehidupan sudah beranjak kepada pola materialis, saat kebahagiaan dan kepuasan batin hanya diukur dari perolehan materi duniawi yang didapat. Padahal, kenyataannya, batin kita secara otomatis mengarah kepada pusaran kehampaan jiwa. Yang menyebabkan kita berjalan semakin jauh dan merentangkan jarak yang lebih panjang dari Allah SWT.

Kesempurnaan Zuhud bukanlah tarku-d-dunnya (meninggalkan dunia), atau menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi. Tetapi,  bagaimana dunia itu tidak sampai melalaikan,  bahkan zuhud tertinggi adalah memiliki dunia namun tanpa hisab nanti di akhirat oleh Allah.

Sedang Qanaah adalah kepuasan jiwa terhadap apa yang Allah SWT berikan kepadanya, memiliki fungsi yang besar untuk menyadarkan kita dari keterikatan kepada dunia, untuk membuat hati kita kembali berpijak pada realita dan meninggalkan duniawi yang semu belaka.

Padahal manusia diciptakan untuk beribadah kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT, tapi sering kali manusia lupa tujuannya. Terlena oleh berbagai macam halang rintang yang menggoda manusia untuk berbelok arah. Inilah Zuhud Versi Gontor. Wallahu a’lam.

Artikel Lainnya:

One comment

  1. Pingback: Nasihat Imam al-Ghazali tentang Makna Kebahagiaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *