Oleh: Martin Putra Perdana
Peserta Program Kaderisasi Ulama XIII & Alumni Prodi Aqidah dan Filsafat Islam 2019

afi.unida.gontor.ac.id-Islam yang diturunkan sebagai Din, sebenarnya telah memiliki konsep peradaban sendiri. Sebab kata dain sendiri membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang taat hukum dan mencari pemerintahan yang adil. Artinya terdapat suatu sistem kehidupan yang tersembunyi dalam istilah din.Maka dari itu, ketika din (agama) Allah yang bernama Islam itu telah selesai disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah.

Dari akar kata Din dan Madinah ini kemudian muncul akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan. Dari kata madana ini lahirlah kata benda tamaddun yang secara literal memiliki arti peradaban (civilization) yang berarti juga kota yanng berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city). [1]

Islam juga merupakan agama yang universal. Islam dalam kerangka universal mengandung pengertian bahwa Islam dapat berlaku bagi semua orang  di setiap tempat dan waktu (al-Islam shahih fi kulli zaman wamakan). Pandangan ini selaras dengan firman Allah yang menyatakan bahwa Rasulullas Saw. diutus ke dunia bersama ajaran yang dibawanya yang merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta (Q.S. 21: 107).[2]  

Islam sebagai sebuah peradaban pernah mencapai puncak keemasannya. Di zaman keemasan itu, para intelektual dan cendikiawan Muslim telah mengadakan proses transfer ilmu pengetahuan dari berbagai macam peradaban. Proses ini berjalan dengan lancar dengan dukungan pemerintahan Islam pada saat itu.[3]

Hal ini ditandai dengan adanya gerakan penerjemahan besar-besaran pada abad ke-13 di masa dinasti Abbasiyah dengan memahami tradisi intelektual negri-negri yang ditaklukam Islam, seperti penerjemahan karya-karya ilmiah dalam bahasa Yunani (Greek) dan Suryani (Syriac) ke dalam bahasa Arab. Yang mulai dilaksanakan secara intensif dan besar-besaran pada masa Khalifah Al Ma’mun (833 M). Beliau juga mendirikan sebuah pusat pengkajian dan perpustakaan yang diberi nama Bayt al-Hikmah.[4]

Mengenal Orientalisme dan Pengaruhnya dalam Peradaban Islam
Mengenal Orientalisme dan Pengaruhnya dalam Peradaban Islam

Adanya kemajuan Islam terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menarik perhatian para ilmuwan Barat. Banyak dari kalangan ilmuwan Barat yang tertarik dan belajar di Timur dengan tujuan untuk mengambil ilmu sebanyak-banyaknya yang kemudian akan dikembangkan nantinya. Di abad ke-19 pada masa kejatuhan Islam, orang-orang Barat kembali datang ke Timur untuk kedua kalinya dengan mambawa ilmu dan teknologi yang telah mereka kembangkan sebelumnya dan mengenalkannya ke dunia Islam.

Meskipun Barat mengalami kemajuan yang pesat dan Timur sedang mengalami masa inferior, namun Islam tetap menyimpan khasanah peradaban. Dan hal itu menarik untuk diteliti  para cendikiawan Barat serta mengenali lebih jauh tentang dunia Islam. Sehingga lahirlah orang Barat yang mahir dalam bidang ketimuran yang disebut orientalis.

Keberadaan kaum Orientalis dalam dunia Islam memang memunculkan perdebatan yang penjang. Sebagian umat Islam menolak mentah-mentah kajian yang dilakukan para orientalis yang dipandang meremehkan Islam. Bagaimana tidak? hal ini pun bukan tanpa alasan, berangkat dari kesimpulan mereka sendiri yang menyatakan bahwa Islam adalah agama “saduran” dari agama-agama dan budaya sebelumnya. Kesimpulan seperti ini jelaslah merupakan bentuk kecemasan kaum orientalis dalam beragama, yang mana mereka menganggap agama sebagai musuh yang harus dihancurkan.[5]

Makna Timur atau “orient” dapat diartikan dan dipahami hanya dalam konteks Barat “occident”. Ini bukanlah klasifikasi geografis dan nama dua mata angin. Menurut Edward Said yang dimaksud Timur disini adalah masyarakat dan bahkan spirit yang menakutkan Barat. Memang, gambaran yang tepat mengenai fenomena perseteruan antara Barat dan Timur seperti halnya dua kutub yang mustahil untuk dipersatukan.[6]

Hadirnya Orientalisme sendiri merupakan bagian dari pertarungan antara dunia Barat dengan dunia Timur Islam, baik dalam segi keagamaan maupun ideologi. Islam sendiri dianggap Barat sebagai masalah terbesar yang mengancam masa depan Peradaban Barat terutama Yahudi dan Nasrani.

Di samping itu, perang salib (the crusades) merupakan perang antara dua kekuatan, Islam dan Kristen  dengan delapan gelombang penyerbuan terhadap umat Islam selama hampir dua abad dan berakhir pada kekalahan di pihak Kristen. Akibat dari tragedi dahsyat ini, dunia Barat (Kristen dan Yahudi) termasuk Amerika mendendam kemarahan dan dendam kesumat untuk menghancurkan Islam.

Fenomena di atas memotivasi para orientalis dengan orietalismenya untuk mengkaji bahasa Arab dan umat Islam yang diarahkan untuk melemahkan jiwa, rasa percaya diri umat Islam agar tunduk kepada penguasa Barat dan mengikuti ajaran mereka. Mereka terus bergerak di bidang karya tulis, ceramah, muktamar, penerbitan, pengumpulan dana, mendirikan organisasi, kristenisasi, sekelarisme, serta memasuki lapangan pendidikan dan pengajaran dengan Al-Ghazwu Al-Fikri-nya untuk merusak otak generasi muda Islam yang pada akhirnya meninggalkan ajaran dan nilai-nilai Islam.

Menyingkap masalah orientalisme secara tuntas, terutama sikap para orientalis terhadap Islam dan umatnya memang disadari tidaklah mudah. Karena sikap tersebut bukanlah masalah baru dan merupakan kesinambungan strategi dan taktik musuh-musuh Islam yang dewasa ini lebuh berkembang dengan pola dan metodenya yang beragam.

Para orientralis ini pada hakikatnya bukanlah orang-orang yang tepat dan patut untuk mengkaji ilmu-ilmu Islam dengan kajian ilmiah. Karena mereka kehilangan sifat pokok objektivitas ilmiah, yaitu sifat terbuka dan kejujuran intelektual. Bahkan dengan terang-terangan mereka bersikap memusuhi Islam, bersikeras dan fanatik menentangnya, membenci al-Qur’an, dengki terhadap Rasulullah saw. Dan terhadap Islam umumnya serta berbuat tipu daya dengan berbagai cara.

Bagaimanakah akan dapat objektifitas dalam penelitian ilmiah dengan perasaan benci, permusuhan dan kedengkian yang terhimpun di dalam hati. Di samping membantu kolonial, kristenisasi, zionis, dengan melakukan eksistensialisme, freemasonory, dan berpuluh cara licik lainnya.

Sejak zaman Rasulullah saw. Hingga sekarang dan masa mendatang akan terus berada dalam situasi perbenturan yang tidak pernah damai. Perbenturan yang berusaha menghancurkan Islam, dan kaum muslimin. Yang sangat berbahaya adalah al-Ghazwu al-Fikri (perang pemikiran) lewat media kominikasi dan budaya, sehingga terjadilah di kalangan umat Islam, seperti kekacauan hidup, meremehkan agama, meninggalkan hukum-hukum Islam dan akhlaknya, yang kesmuanya ini harus senantiasa ditinggalkan kewaspadaan dalam menghadapinya.

Para orientalis tidak berada dalam satu jalur. Ada yang objektif, ada yang kurang objektif dan lebih banyak yang penuh prasangka karena kedangkalan dan kefanatikan dalam mengkaji Islam dan dunia Islam. Memang diakui bahwa karya orientalis ada yang bermanfaat terhadap pengkajian Islam, bahkan ada yang belum dapat ditandingi kaum muslimin.

Walaupun umat Islam umumnya tidak senang dengan hasil karya orientalis, namun mereka tetap melakukan penelitian dan menyebarluaskannya ke seluruh dunia melalui berbagai lembaga, publikasi dan para penyambung lidah mereka. Barangkali jalan terbaik bagi umat Islam adalah bersikap terbuka dengan meneliti ulang apa mereka hasilkan, diambil hikmahnya untuk pengembangan kajian berdasarkan wawasan kita sendiri.[7]


Catatan Kaki:

[1] Hamid Fahmy Zarkasyi, (Editor). Laode M. Kamaludin, Ikhtiar Membangun Kembali Peradaban Islam Yang Bermartabat, (Semarang: Unissula Press-Republikata, 2010), p. 15
[2] J. Suyuti Pulungan. Universalisme Islam, (Jakarta: Moyo Segoro Agung, 2002), p 2
[3] Abd. Rohim, “Sejarah Perkembangan Orientalisme”, Jurnal Hunafa, Vol. 7, No. 2, Desember 2010, p.180
[4] Budi Handrianto, Islamisasi Sains: Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kausar, 2010), p. 100-101
[5] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedia Orientalis, (Yogyakarta: LkiS, 2003), p. v
[6] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat: Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisme, Dan Islam, (Jakarta: INSISIT-MIUMI, 2012), p. 7-8
[7] H. Abdul Mannan Abdullah Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta:AMZAH, 2006), p. 171-172

Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *