afi.unida.gontor.ac.id – Yogyakarta, Selasa (28/01/2020), mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor melaksanakan kegiatan Studi Akademik ke Kota Yogyakarta.

Ada berbagai objek yang akan dikunjungi dalam kegiatan ini. Salah satunya ialah Pondok Maulana Rumi yang terletak di Bantul Kota Yogyakarta. Pondok yang didirikan pada tanggal 1 Januari 2012 ini cukup memberikan daya tarik tersendiri di kalangan masyarakat.

Walaupun usianya yang terbilang cukup belia (baru berumur 8 tahun), pondok yang didirikan oleh Kiai Kuswaidi Syafi’ie ini memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan pondok-pondok lain pada umumnya.

Dimana Pondok ini banyak mengkaji kitab-kitab tasawuf yang dibilang cukup rumit dan sulit. Salah satu ungkapan Kiai Kuswaidi; “kenapa kok mengaji kitab-kitab yang berat? Wong ngaji kitab yang ringan saja banyak tidak di amalkan, sekalian yang berat saja” canda beliau yang akrab disapa dengan panggilan Cak Kus ini.

Sejarah awal mula nama pondok ini ialah “Syarabul Muhibbin”, namun karena masyarakat sekitar yang mayoritas orang Jawa susah untuk mengucapkannya. Maka beliau mengganti namanya menjadi Pondok Maualana Rumi.

Beliau menjelaskan bahwa; “nama Maulana Rumi ini di ambil dari seorang tokoh yang cukup terkenal dalam bidang tasawuf” yang karya-karyanya banyak dikaji di pondok ini.

Beliau juga menjelaskan bahwa “pondok ini merupakan gabungan dari tasawuf falsafi dan juga tasawuf suluqi” dimana dalam tasawuf Falsafi ini merujuk pada Ibn Araby dan tasawuf suluqi ini merujuk pada Maulana Rumi.

“Keduanya sama-sama mengajarkan tasawuf, namun dalam praktek pemahamannya sangat berbeda”. Cak Kus kemudian menjelaskan dimana letak perbedaan dari keduanya;

“Tasawuf yang di ajarkan oleh Maulana Rumi ini lebih mengarah menciptakan sebuah gairah yang ia sebutkan cinta ilahi. Maka karya-karya Maulana Rumi banyak diselimuti oleh isya’ir-sya’ir yang membawa pesan keilahian. Sedangkan tasawuf Ibn Araby, menjadikan dunia sebagai sesuatu hal yang kecil sehingga ia dapat dengan mudah digenggam”.

Penjelasan demi penjelasan yang di uraikan oleh Cak Kus memberikan sebuah nutrisi pemahaman baru terhadap cara pandang tasawuf. Hal ini juga menjadi daya tarik tersendiri dan para mahasiswa begitu antusias dalam mendengarkan.

Hal itu ditandai dengan pada waktu sesi diskusi, banyak dari mahasiswa yang bertanya tentang suatu uraian yang ada dalam tasawuf namun kurang begitu dimengerti.
Rep: Joko Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *