Oleh: Muh. Faqih Nidzom
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam & Islamisasi Universitas Darussalam Gontor

Menjadi juri Qirā’ah Kutub at-Turāts al-Islami, dalam rangkaian Mahrajan Fakultas Ushuluddin kemarin (7-2-2020) merupakan kesempatan luar biasa. Selain pengalaman, ada ilmu penting yang bisa kami catat dan bisa menjadi refleksi kita bersama.

Ternyata ilmu-ilmu agama (Ulūm ad-Dīn) yang ingin dihidupkan kembali (Ihyā’) oleh Imam al-Ghazāli di masanya dan generasi setelahnya, seperti yang beliau tulis sendiri, adalah apa yang disebutkan Allah swt dalam Al-Qur’ān dengan istilah kunci; Fiqih, Hikmah, Ilmu, Dhiyā’, Nūr, Hidāyah, Rusyd.

Mahrojan Ushuluddin; Lomba Baca Kitab Turash Ihya Ulumuddin

Jika kita telaah, beberapa kata di atas merujuk ke makna agung berikut; pedoman ilahi, cahaya terang dan penunjuk jalan yang lurus, pengetahuan terhadap segala sesuatu sebagaimana adanya, berdasarkan hakikatnya, dan pemahaman sempurna akan diri dan Tuhannya.

Dari sini, sang Imam membagi secara sistematis magnum opus-nya ini menjadi empat bagian besar, yaitu; Hal-hal yang berkenaan dengan ibadah dan prinsip Aqidah (Rub’u al-Ibādāt), pokok-pokok Akhlak dan Mu’amalah (Rub’u al-‘Ādāt), Perkara-perkara yang merusak (Rub’u al-Muhlikāt) dan berbagai solusi dan metode penyembuhannya, dan hal-ihwal yang menyelamatkan diri manusia (Rub’u al-Munjiyāt). Masing-masing bagian ini memiliki uraian penjelasan (kitāb wa fasal) yang sangat panjang dan berisi.

Ilmu inilah yang akan mengantarkan manusia meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena, seperti yang beliau tulis dalam karyanya yang lain, Kīmiyā’ as-Sa’ādah, Ulūmuddīn ini membantu kita menemukan jawaban dari tiga pertanyaan abadi manusia berikut:

Pertama, siapa saya? Yang berimplikasi pada pertanyaan berikutnya; saya diciptakan atau tidak? Siapa yang menciptakan? terdiri atas apa saya? Dst.

Kedua, akan ke mana saya? Juga berimplikasi pada pertanyaan; apa ada kehidupan setelah kematian? Adakah pertanggungjawaban dari kehidupan kita di dunia?

Ketiga, untuk apa saya diciptakan? Mengapa berbeda dengan makhluk-makhluk lain? Untuk makan minum saja kah? Untuk main-main, atau untuk apa? Bagaimana mesti menjalaninya?

Selain itu, tahukah kita, ke semua bagian dan bab besar yang tersusun dalam buku ini, dimulai dengan penjelasan konsep ilmu dalam Islam yang sangat komprehensif. Mulai dari keutamaan ilmu, menuntut dan mengajarkannya, klasifikasi ilmu, adab berilmu, ilmu yang cacat dan bahayanya, ulama dan ragamnya, akal dan kedudukannya sebagai sumber ilmu.

Sebab, sebagaimana yang dijelaskan beliau sendiri dalam Mukaddimah kitab, konsep ilmu ini puncak perkara terpenting untuk menerangkan ilmu seperti apa yang diperintahkan Allah swt. kepada setiap hamba untuk dipelajari, melalui lisan Rasul-Nya yang mulia dengan sabda; “Thalabul ‘Ilmi farīdhatun ‘alā kulli muslimin.

Tanpa memperpanjang lagi, intinya, buku karya Hujjatul Islam abad kelima Hijriyah ini penting dikaji oleh siapa pun dan kapan pun. Seperti dicontohkan Imam Abdullah Al-‘Idrus dengan ungkapannya berikut:

“Aku duduk bertahun-tahun menelaah kitab al-Ihyā’, setiap fasal dan huruf dari padanya. Dan aku ulanginya dan menghayatinya. Maka zahir kepadaku daripada perbuatan itu akan ilmu-ilmu, rahasia-rahasia dan kepahaman-kepahaman yang melimpah pada setiap hari berbeda dengan apa yang aku dapat pada hari sebelumnya.” Wallāhu A’lam.
Siman, 8 Februari 2020

Artikel lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *