Oleh: Achmad Reza Hutama Al Faruqi, S.Fil.I., M.Ag.
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id – Islam dari dulu dianggap sebagai agama yang melulu membicarakan tentang ritual saja, seperti contoh yang dimaksud dengan ibadah adalah di masjid saja, selain itu pergi ke sekolah, pasar, bisnis, bahkan mengembangkan ilmu pengetahuan tidak termasuk sebagai ibadah. Awalnya dari Kristen yang menganggap bahwa ibadah adalah aktivitas yang ada di gereja, selain itu, dianggap tidak termasuk ibadah.

Ingin melakukan apa saja, bahkan mengembangkan sebuah pengetahuan ilmu, gereja tidak boleh ikut campur. Pemahaman inilah yang sudah masuk ke tubuh Islam, pandangan orang sekuler jika kristen saja bisa disekulerkan, harusnya Islam juga bisa.

Dari persoalan di atas, penyakit tersebut yang menyerang Islam hingga perspektif kebanyakan orang menganggap bahwa Islam hanya sebagai agama saja, dan tidak sadar jika Islam merupakan agama dan sekaligus sebuah peradaban.

Karena selama ini, kebanyakan orang memposisikan agama sebagai sebuah dogma di mana mengajarkan hubungan antara Tuhan dengan hamba-Nya serta pemaknaan ajaran agama dalam lingkup masyarakat.

Dalam karyanya Hamid Naseem Rafiabadi ‘Challenges to Religions and Islam: A Study of Muslim Movements,Personalities Isuues and Trends’ halaman 687, Ziauddin Sardar pernah mengatakan:

“Different civilizations have produced distinctively different sciences”

Bahwa ilmu pengetahuan yang berbeda dihasilkan karena peradaban yang berbeda. Jika asas daripada peradaban tersebut adalah agama Islam, maka peradaban Islam akan mudah untuk ditumbuhkan dan dikembangkan.

Ismail Raji al-Faruqi dalam “Atlas Budaya Islam” mengatakan bahwa prinsip utama dalam peradaban Islam adalah tauhid. Di mana mampu membentangkan jati diri peradaban Islam, yang mengikat semua bagian-bagian, sehingga menjadikan suatu badan yang tidak terpisahkan dan organis yang kita sebut sebagai peradaban. Dalam dimensi sosial, Islam merupakan agama unik di antara agama dan peradaban lainnya.

Buktinya bahwa Islam itu menyangkup keseluruhan yang relevan dengan seluruh ruang dan waktu, dan berusaha untuk menentukan seluruh sejarah, ciptaan, termasuk seluruh umat manusia.

Oleh karenanya, Islam tidak hanya dianggap sebagai agama saja, namun juga sebagai peradaban yang sempurna, hal tersebut juga disampaikan oleh Sayyed Hossein Nasr dalam ‘Islam; Religion, History, and Civilization’ dalam introduction “Islam is both a religion and a civilization”

Pada halaman yang berbeda juga mengatakan: “Islam is not only a religion; it is also the creator and living spirit of a major world civilization with a long history stretching over fourteen centuries”.

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa Islam tidak hanya sebatas agama saja, melainkan juga sebagai creator dan sebuah semangat hidup dalam sebuah peradaban besar yang terbentang dari luas lebih dari 14 abad.

Hal tersebut juga diamini oleh orang orientalisme H.A.R Gibb dalam karyanya “Whither Islam? A Survey of Modern movements in the Moslem World” halaman 12:

“Islam is indeed much more than a system of theology; it is a complete civilization”.

Artinya Islam dan peradaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Berbeda dengan kasus yang ada di Barat, Qosim Nurseha dalam penelitiannya menyebutkan kejadian di Amerika Serikat yang membedakan etnik antara kulit hitam dan kulit putih yang diangkat benderanya oleh mereka.

Menurut Qosim dalam penelitiannya bahwa negara Amerika adalah negara yang dianggap sangat maju dan berperadaban tinggi dilihat dari sisi materi dan industri dan perkembangan sainsnya. Namun, ternyata mereka maju dan berperadaban tinggi dari satu sisi saja.

Maka, tidak heran banyak orang Barat yang mengatakan bahwa patokan negara maju adalah yang tinggi sisi materinya, perkembangan sainsnya dan industrinya.

Tidak kita sadari bahwa kemajuan materi tersebut lamban laun akan hilang dan hancur, seperti yang dirasakan dalam sejarah oleh peradaban besar yang tidak mempunyai unsur kemanusiaannya, yang berdiri di atas kesombongan muka bumi ini.

Seperti yang Allah perumpamakan dalam QS Yunus [10]: 24 yang artian bebasnya adalah akan turun azab Allah bagi orang-orang yang ingin menguasai sepenuhnya muka bumi ini.

Berbeda dengan konsep peradaban dalam Islam. Banyak sekali para ilmuwan dan ulama memaknai arti peradaban. Ada yang menyebut peradaban dari kata bahasa arab ḥaḍārah.

Dr. Abu Zaid Sya’labiy dalam karya ‘Tarikh al-Hadarah al-Isalmiyah’ halaman 7 mengartikan hadarah sebagai:

“…sebuah kumpulan kaum dalam kehidupan dengan selalu memikirkan kemajuan baik dari segi pemikiran, akal, seni, dan ilmu pengetahuan sehingga mencapai tujuan yang diharapkan”.

Hal tersebut juga senada yang disampaikan oleh Yusuf al-Qardawi “al-Sunnah Masdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadarah” bentuk kemajuan baik berbentuk kemajuan materi, ilmu pengetahuan, seni, sastra maupun sosial.

Hal yang sedikit berbeda disampaikan oleh Husein Mu’nis dalam karya ‘Al-Ḥaḍārah; Dirāsah fī Usūl wa ‘Awāmil Qiyāmihā wa Taṭawwurihā’ bahwa peradaban dalam pengertian umum adalah buah dari sebuah usaha yang dilakukan manusia untuk memperbaiki kondisi hidupnya, baik berupa bentuk materi (mādiyah) maupun imateri (ma’nawiyah).

Lebih dalam lagi tentang peradaban Islam, Dr. Abdurrahman ‘Ali al-Hajj dalam karya ‘Jawānib min al-Ḥaḍārah al-Islāmiyah’ mengatakan bahwa peradaban Islam termasuk bagian daripada Aqidah Islamiyah dan juga sebuah fakta dari Islam.

Dari definisi di atas bisa disimpulkan bahwa peradaban harus mempunyai dua sisi penting, yaitu sisi nilai materil dan spiritual yang tinggi. Jika suatu peradaban hanya menojol dalam satu sisi saja, maka tidak bisa disebut sebagai sebuah peradaban yang sempurna. Walaupun suatu negara maju secara industri, teknologinya, informasinya, dan lain sebagainya, tetapi secara ‘kemanusiaan’ gagal, karena tidak memberikan dampak positif bagi manusia.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa Islam tidak hanya sebagai din saja, namun juga sebagai sebuah peradaban, yang oleh Al Attas menyebutnya sebagai al-Madaniyah atau tamaddun disebutkan jelas dalam karya monumentalnya ‘Prolegomena to the Methaphysics in Islam’ dengan sangat rinci.

Maksudnya bahwa kata tamaddun dan madaniyah dimaknai dengan peradaban atau yang diungkapkan oleh Nasr Muhammad Arif dalam al-Hadarah al-Tsaqafah al-Madaniyah’ disebut dengan civilization. Sedangkan madinah adalah nama kota al-Madinah al-Muanwwarah di mana agama disempurnakan dan diamalkan secara keseluruhan oleh kaum muslimin, selain itu juga tempat di mana orang-orang berperadaban lewat agama mereka.

Setidaknya ada tiga pondasi penting dalam peradaban Islam yang ditulis oleh Imad al-Din Khalil dalam karya ‘Madkhal ila Hadarah al-Islamiyah’ yaitu al-Naqlah al-Taṣawwuriyyah al-I’tiqādiyyah, al-Naqlah al-Ma’rifiyyah, al-Naqlah al-Manhajiyah.

Pertama, al-Naqlah al-Taṣawwuriyyah al-I’tiqādiyyah atau adanya perubahan pandangan hidup (worldview) dan keyakinan. Poin ini sangatlah penting, di mana perubahan yang mendasari perubahan apapun dalam suatu masyarakat, yang awalnya keyakinan dalam bentuk politeisme berubah menjadi tauhid, yang awalnya menyembah batu dan patung menjadi menyembah Allah SWT.

Kedua, al-Naqlah al-Ma’rifiyyah atau adanya perubahan keilmuan, bisa disebut juga dengan perubahan ilmiah. Perubahan inilah sudah dimulai sejak zaman turunnya wahyu dari Allah SWT. Selain itu, masih banyak juga perubahan-perubahan yang berkaitan dengan keilmuan mulai dari seruan membaca al-Qur’an, berpikir, menggunakan nalar, bertadabbur dan lain sebagainya.

Ketiga, al-Naqlah al-Manhajiyah atau bisa disebut dengan perubahan metodologis. Perubahan inilah yang mungkin penting tidak bisa dipisahkan dengan sebelumnya. Diyakini bahwa perubahan ini berperan penting dalam gerak pemikiran manusia, peradaban secara umum. Dalam Islam pun metode sangatlah penting guna membuat nalar seorang manusia.

Dari ketiga perubahan di atas itulah pondasi penting bagi Islam, di mana Islam layak disebut sebagai din dan juga tamaddun bagi manusia. Karena manusia pada saat ini sangat membutuhkan kepada peradaban Islam (tamaddun islāmī). Wallahu a’lam.

Artikel Lainnya:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *