Oleh: Martin Putra Perdana, S.Ag.
Alumni Program Kaderisasi Ulama (PKU) angkatan XIII

afi.unida.gontor.ac.id – Sejak pertama kali kemunculannya hingga saat ini, paham sekuler memang menarik perhatian banyak kalangan, baik dari para Ilmuwan, Teolog, Agamawan, Pemikir dan juga dari kelompok-kelompok kajian keagamaan. Hal ini terjadi dikarenakan dikursus mengenai pemikiran sekuler memang membawa banyak masalah.

Paham ini merupakan paham yang dibawa oleh dunia Barat yang merujuk pada kebijakan khusus terhadap pemisahan antara Gereja dan Negara.[1] Oleh sebab itu kita perlu mendudukkan terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “sekuler” ini.

Sekuler sendiri diambil dari bahasa latin saeculum yang mencakup dua makna; sekarang, yang berarti berhubungan dengan waktu, dan lokasi yang berhubungan dengan tempat di mana manusia itu hidup yaitu dunia. Menurut paham ini kreasi manusia, apa pun bentuknya itu terkait dengan ruang dan waktu saat itu, oleh karena itu dia menyejarah.

Sepanjang proses menyejarah itulah yang dimaksud dengan sekuler, artinya sekuler itu terjadi saat ini dan di dunia tempat manusia hidup.[2] Pengertian “Secular” sendiri diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (oleh orang Barat Kristen) menjadi ‘almany, yang memiliki makna laysa min arbab al-fann aw a-lhirfah dan kata-kata “Secularity” diterjemahkan menjadi al-ikhtitam bi umur al-dunya, atau al-ihtimam bi al-‘alamiyat, sedangkan “Secularize” diterjemahkan menjadi hawwal ila gharad ‘alamy ay dunyawiy. Dan pengertian ini diikuti oleh sebagian besar umat Islam.[3]

Harvey Cox juga menjelaskan mengenai perbedaan antara sekularisasi dan sekularisme. Menurutnya, sekularisme adalah nama sebuah ideologi (isme) yang tertutup. Sedangkan sekularisasi artinya membebaskan masyarakat dari kekangan agama dan pandangan alam metafisik yang tertutup (closed metphysical worldviews).

Sekularisme membahayakan keterbukaan dan kebebasan yang dihasilkan oleh sekularisasi. Maka dari itu, sekularisme harus diawasi, di periksa dan dicegah untuk menjadi ideologi negara. Sebaliknya, Harvey Cox menegaskan bahwa sekularisasi adalah perkembangan yang membebaskan (a liberating developement). Sekularisasi sendiri berasal dari kepercayaan Bibel. Pada taraf tertentu, ia merupakan hasil otentik dari implikasi kepercayaan Bibel terhadap kepercayaan Bibel terhadap sejarah Barat.[4]

Paham sekularisme yang merupakan akar kebudayaan Barat itu akhirnya bersifat ekspansif sehingga membutuhkan proses untuk menjadikan segala sesuatu sekuler, proses itu adalah sekularisasi. Dengan proses ini manusia dewasa menjadi lebih mementingkan kehidupan material ketimbang spiritual.

Agama hanya diletakkan dalam kehidupan privat dan tidak boleh masuk dalam ruangan publik. Pada poin inilah Sayyed Hosein Nasr menyimpulkan bahwa sekularisasi telah berhasil memindahkan kehadiran spiritualitas dari semua aspek pemikiran dan kehidupan manusia.

Fazlur Rahman beranggapan bahwa sekularisme itu bercorak atheistik. Kehidupan masyarakat yang sekuler dan kemudian berkembang menjadi liberal ini tidak dapat  memberikan kontribusi yang berarti bagi kemanusiaan. Kehidupan sekuler dapat menghancurkan kemanusiaan.[5]

Sekularisasi yang terjadi di Barat seperti yang di akui banyak pakar sejarah, sebenarnya berasal dari agama Kristen sendiri. Seperti halnya dijelaskan dalam Gospel Matius XXXII: 21 tercatat ucapan Yesus: “Urusan Kaisar serahkan saja pada Kaisar, dan urusan Tuhan serahkan kepada Tuhan”.

Implikasinya agama tidak perlu ikut campur dalam urusan politik. Kemudian atas dasar inilah muncul dikotomi antara regnum dan sacerdotium, pemisahan antara kekuasaan Raja dan otoritas Gereja, antara negara dan agama. Doktrin ini dikembangkan oleh St, Augustin yang membedakan Kota Bumi (civitas terrena) dan Kota Tuhan (civitas dei).

Faktor lain yang mendorong sekularisasi di Barat adalah gerakan Reformasi Protestan sejak awal abad ke-16, yang merupakan sebuah respons atas banyaknya korupsi di kalangan Gereja yang dipercaya telah memanipulasi dan mempolitisir agama guna kepentingan pribadi. Maka tidaklah berlebihan apabila disimpulkan bahwa sekularisasi yang terjadi di Barat merupakan proses yang wajar dan niscaya bagi masyarakatnya.[6]

Steve Bruce berpendapat, bahwasanya sekularisasi memang tidak selalu berakhir dengan atheisme. Karena agama tidak diprediksi akan lenyap sama sekali akibat sekularisasi. Kecenderungan masyarakat sekuler beralih dari budaya agama (religious culture)  kepada sekedar kepercayaan agama (religious faith).

Apabila sebelumnya agama layaknya sifat kata kerja (adverb), maka kemudian agama menjadi kata benda (noun). Dan apabila dulu seseorang melakukan sesuatu karena dan menurut petunjuk agama, maka sekarang orang bertindak tanpa peduli agama. Agama yang mengerucut menjadi fidelisme dan eupraxophy. Asalkan anda percaya bahwa Tuhan itu ada, maka anda sudah dianggap beragama.

Cukup menjadi orang yang baik tanpa perlu menjadi penganut agama tertentu. Menurut prediksi sosiolog, masyarakat sekuler akan meninggalkan agama yang melembaga (reified) dan terorganisir, kemudian masuk menganut kepercayaan dan kebatinan mirip agama (quasi-religion) atau bahkan memeluk agama-agama palsu (pseudo-religion).[7]

Istilah sekuler-sekularisasi-sekularisme adalah istilah yang sama-sama mengduniakan kehidupan dan menyubordinasi Tuhan dan kehidupan. Karena kehidupan dunia sudah tidak lagi bercampur dengan ketuhanan, maka kehidupan manusia itu secara praktis sudah anti Tuhan, atau juga disebut dengan practical atheism.

Tepatnya, urusan-urusan duniawi manusia hanya diurus oleh manusia saja dan tidak lagi mementingkan keberadaan Tuhan atau kehidupan sesudah dunia. Oleh sebab itu, dalam kehidupan praktis sekularisme itu anti Tuhan. Dikarenakan tidak mementingkan keberadaan Tuhan maka paham ini tidak dapat diadopsi oleh Islam.[8]

Sekularisasi sendiri melibatkan tiga kelompok komponen penting: (1) penolakan unsur transenden dalam alam semesta, (2) memisahkan antara agama dan politik, serta (3)  memisahkan antara nilai yang tidak mutlak atau relatif.[9]

Pola pemikiran yang dibawa Barat ini tidak hanya bertentangan dengan fitrah manusia, tetapi juga berusaha merubah worldview dan memutus ilmu kemudian mengalihkannya dari tujuannya yang  hakiki. Al-Attas sendiri dengan baik menjelaskan mengenai pandangannya tentang Barat:

“Ilmu yang bermasalah itu akhirnya telah kehilangan tujuan hakikinya karena tidak digunakan dengan adil. Akibatnya bukan kedamaian dan keadilan yang dibawanya melainkan kekacauan dalam kehidupan manusia. Ilmu yang terlihat benar ternyata lebih produktif ke arah kekeliruan dan skeptisme. Ilmu yang seharusnya selalu membuat sejarah, nampaknya malah membawa ketidak harmonisan pada isi alam semesta”.

Dan yang perlu kita pahami adalah sekularisme dan liberalisme bukan berasal dari ajaran Islam atau tradisi intelektual Islam. Keduanya merupakan produk konsep agama yang bermasalah dan buah kekecewaan Barat terhadap agama.[10]
Wallhau a’lam.

Artikel Lainnya:


[1] M. Syukri Isma’il, Kritik Terhadap Sekularisme: Pandangan Yusuf Qardhawi, (Ponorogo: CIOS-ISID, 2007), p. 1
[2] Adian Husaini, Mengapa Barat…, Ibid, p. vii
[3] M. Syukri Isma’il, Kritik Terhadap Sekularisme…, p. 5-6
[4] Adnin Armas, “Sebuah Catatan untuk Sekularisasi Harvey Cox”, ISLAMIA, Vol. 3, No. 2, p. 29
[5] Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi Sekuler-Liberal?, (Ponorogo: CIOS), 2015, p. viii-ix
[6] Syamsuddin Arif, Islam dan Diabolisme Intelektual, (Jakarta Selatan: INSIST, 2018), p. 65
[7] Ibid, p. 66
[8] Adian Husaini, Mengapa Barat…, p. x
[9] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: Angkatan Belia Islam Malaysia, 1978), p. 15
[10] Ibid, p.127.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *