afi.unida.gontor.ac.id – International Symposium on Syed Muhammad Naquib al-Attas; Philosopichal and Civilization Demensions pada 20 Jumadit Tsani 1441 H bertepatan dengan 15 Februari 2020 memberikan kesan tersendiri bagi siapa saja yang mengikutinya. Berikut hasil refleksi singkat yang tentunya kurang menggambarkan apa yang dirasakan penulis.

Obor yang tidak Padam

Dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam, model pemikiran seorang tokoh akan terus langgeng jika dikembangkan oleh murid-muridnya. kita tidak akan bisa merasakan atau membaca pemikiran Imam Syafi’i kecuali dari murid-muridnya seperti Imam al-Muzanniy.

Imam Abu Yusuf adalah orang yang punya otoritas berbicara dalam mazhab Hanafi. Mazhab Asy’ari berkembang di seluruh dunia karena dikembangkan oleh Imam al-Baqillani, Imam al-Juwaini, Imam al-ghazali dan lain sebagainya. Di samping itu, ada pula pemikiran tokoh yang hidup dan hilang bersama umur sang tokoh. Sebut saja Imam Sufyan Tsauri, Imam al-Awzai, Imam al-Laits rahimahumullah. Biqadirllah,  madhab mereka tidak muncul karena tidak dikembangkan murid-muridnya.

Maka International Symposium on Syed Muhammad Naquib al-Attas; Philosopichal and Civilization Demensions pada 20 Jumadit Tsani 1441 H bertepatan dengan 15 Februari 2020 kali ini benar-benar menjadi momentum besar dalam kancah keilmuan Dunia secara umum,  dan Islam secara khusus. Bagaimana tidak, pemikiran-pemikiran brilian al-Attas benar-benar dikaji, diteliti, dan dikembangkan sebagai basis pemecahan masalah-masalah kontemporer dunia. Siapa yang akan melaksanakan agenda mulia ini jika bukan anak-anak didik, atau cucu-cucu didiknya.

Tujuan Agenda besar yang dihelat oleh Raja Zarith Sofiah Centre for Advanced Studies on Islam,  Science and Civilizatioan (RZS-CASIS) dan beberapa Pusat Studi di Malaysia, adalah untuk mengkaji metodologi dan Ide-ide  al-Attas dalam pemikiran dan Peradaban Islam. Bukan hanya itu, bagaimana pemikiran al-Attas itu sebagai diagnosa sekaligus obat atas berbagai macam problem kontemporer yang dihadapi dunia Islam. Lebih menarik, bagaimana menemukan platform dalam dialog antara muslim dan non muslim, antara para Cendikia dan profesional.

Sejumlah 550 lebih peserta dari berbagai Negara berbagai benua dalam sudut-sudut Gedung Dewan Azman Hashim, UTM Kuala Lumpur Malaysia Laksana Abu Yusuf dan murid-muridnya yang terus menghidupkan Ijtihad Imam Hanafi dalam ‘kitab al-Atsar’ dan ‘Fatawa’. Mereka adalah pena-pena, keybord-keyboard, dan obor-obor Sayyed Muhammad Naquib al-Attas yang akan menyalakan pemikiran briliannya sebagai basis pemecahan isu dunia. Tentu,  kita tidak ingin pemikiran brilian itu hanya mandek ketika beliau hidup saja.

Sederet Ilmuan besar yang hadir dan menjadi pembicara dalam perhelatan agung ini menjadi bagian ‘Syhadatul Ulama’ bagaimana posisi Syed al-Attas di mata pemikir dunia. Sebut saja misalnya,  Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud yang menduduki kursi al-Attas. Prof. Dr. Hans Daiber Jerman; pakar Filsafat Islam, kalam dan Sains.  Prof. Dr. Alparslan Acikgenc pakar Epistemologi dari Univ. Ibn Khaldun Istambul. Prof. Dr. Mehdi Mohaghegh pakar Tasawuf dan Filsafat Persia. Prof. Dr. Mahmud Erol Kilic, Duta Besar Turki untuk Indonesia yang juga pakar Sufism. Tentu banyak lagi yang tidak bisa disebutkan di sini. Mereka mengakui posisi al-Attas dalam kancah keilmuan dunia.

Yang mengherankan, sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr. Mehdi Mohaghegh, Pemikiran al-Attas saat ini sedang digandrungi oleh anak-anak muda pengkaji filsafat di Iran, walaupun posisi SMN al-Attas terhadap Syi’ah Jelas. “Kami di Iran sangat menghormati al-Attas. Anak-anak muda juga sangat menghormati al-Attas”. Ungkap Beliau.

Direktur Social For The Appreciation Of Cultural Works and Diginitaries (STCWD) mengungkapkan bahwa al-Attas mampu menjelaskan Islam kepada generasi baru secara konseptual filosofis. “….how introduce Islam philosophically  to new and young generation ” ungkap Beliau. Selain itu,  al-Attas juga seorang ensiklopedis.

Associate Profesor Dr. Khalif Muammar A. Harris selalu penanggung jawab penuh acara ini menyatakan bahwa

Pemikiran Tan Sri Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas bukan hanya diakui oleh umat Islam tetapi juga non muslim. Kebesaran karya dan sumbangan beliau khususnya dalam menghadapi tantangan kontemporer. Hal Ini berarti bahwa ia bukan hanya solusi bagi umat Islam tetapi bagi masyarakat selain Islam dalam mencapai kemajuan dan kebahagiaan hakiki.

Saat ini, murid-murid al-Attas tersebar di seluruh dunia dan mengembangkan madrasah-madrasah Attasian. Menyebut beberapa saja di Indonesia misalnya Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, program Pascasarjana IAI Darullughah Wadda’wah (Dalwa) Bangil. Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (Inpas) Surabaya. Yayasan Bentala Jogjakarta. Begitu juga pusat studi lainya. Semua menunjukkan bahwa obor pemikiran al-Attas memang sulit dipadamkan, bahkan akan menjadi Ufuq yang akan terus bersinar.

Syed Muhammad Naquib al-Attas
Syed Muhammad Naquib al-Attas

Haibah al-Attas

Tersiar kabar akan ketidak hadiran beliau karena kondisi kesehatan Istri. Namun,  ternyata beliau menyempatkan hadir sehingga membawa angin segar seisi ruang seminar. Kehadiran SMN al-Attas dan kuliah yang beliau sampaikan dalam seminar ini menjadi magnet dan daya tarik tersendiri bagi para peserta yang hadir. Bertemu, bertatap muka, mendengarkan penjelasan langsung,  dan bisa mencium tangan seorang pemikir besar sebagai tanda ta’dzim adalah dambaan pencari hikmah.  Inilah yang penulis rasakan.

Sebagaimana yang disampaikan Ibn Athaillah as-Sakandary dalam Hikamnya; Tasbiq anwarul Hukama Aqwalahum, fahaitsu shara at-Tanwir,  washala at-Ta’bir. (Hikmah; 182).  Maknanya adalah bahwa cahaya seorang ahli hikmah itu mendahului apa yang akan dikatakan. Sekiranya sinar yang dimiliki ahli hikmah itu sudah menyinari para murid,  maka sebenarnya penjelasan ilmu pengetahuan itu telah sampai. Inilah yang terjadi dalam Simposium itu. Haibah al-Attas terlebih dahulu sampai kepada para peserta,  sehingga mereka benar-benar siap menerima keterangan ilmu dari beliau.

Dalam Symposium tersebut SMN al-Attas Menjelaskan tema yang menurutnya sangat penting dan Fundamental yakni konsep Islam. Beliau  menegaskan bahwa kata “Al-Islam” adalah nama  agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Pun,  nama ini juga diberikan langsung oleh Allah swt. sebagaimana Firmanya ‘sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam‘ (Ali Imran; 19). Maka, Tidak hanya sekedar dipahami sebagaimana makna bahasa yang berati penyerahan.  “Sangat Keliru jika hanya memaknai bahwa Islam itu sekedar kata bahasa Arab”.  Ungkap beliau.

Walau  “al-Islam” adalah bahasa Arab, Namun,  kata ini belum digunakan secara konseptual oleh orang arab sebelum Nabi Muhammad. Bahkan, sebagaimana Beliau paparkan Nama Agama (din) Islam ini juga tidak diperuntukkan kepada agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi-nabi terdahulu walaupun mereka disebut muslim. Agama Tauhid itu disebut al-Quran dengan sebutan Agama yang benar “din al-Qayyim“, hanif. Teman kami,  Ahmad Kholili Hasib telah meringkas kuliah beliau dalam tulisannya yang telah diterbitkan di website;

http://inpasonline.com/nilai-penting-kuliah-prof-syed-m-naquib-al-attas-tentang-konsep-islam/. Para pembaca bisa mengaksesnya.

Selama hampir dua Jam atau mungkin lebih,  para peserta fana dengan konsep Islam yang disampaikan al-Attas. Penjelasan yang sangat Runtut, runut, filosofis, beliau juga menguatkan dengan dalil-dalil historis. Mudah dicerna oleh siapa saja.  Walaupun Usia boleh sudah tidak muda,  Namun suara beliau masih sangat tegas dan lugas. Inilah yang disebut Ibn Athillah sebagai tanda izin dari Tuhan untuk menjelaskan; “man udzina lahu fit ta’bir fuhimat fi masamil khalq ibaratuhu wa juliat ilaihim Isyaratuh”, siapa yang telah diizinkan menjelaskan,  maka penjelasannya akan mudah dipahami”. Wallah a’alam.

Kuala Lumpur, 16 Februari 2020
Moh. Isom Mudin

Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *