Al Uswatu amaanah wal amaanatu uswah, merupakan jamu yang sering disampaikan Kyai Hasan Abdullah Sahal kepada para civitas penuntut ilmu di Gontor, terutama kepada para guru-gurunya. Ternyata keteladanan amat penting dalam menunjang kekuatan dinamika Gontor, dan dinamika inilah yang menjadi sumber keteladanan itu sendiri. Jadi bagaikan benang yang tidak boleh diputus agar kain tetap kuat dan halus. Keteladanan adalah oksigen bagi setiap guru di gontor, memerlukanya adalah suatu keharusan. Penyandang gelar Al Ustadz ini apakah sebatas guru pengajar biasa? Ternyata tidak, guru di gontor adalah orang tua yang bertanggung jawab dan berandil penuh dalam kelangsungan hidup santrinya, adabnya, pertumbuhanya, akalnya, bahkan kesehatanya. Berbincang mendalam tentang guru, apakah unsur paling penting pada seorang guru? Kyai kami menegaskan: wa ruuhu-l-mudarris ahammu mina-l-mudarris nafsihi.

Pengertian ruh adalah jiwa atau sesuatu yang abstrak, apa yang lahir dari gejolak jiwa berupa perilaku dan perkataan. Pola hidup seorang guru dan kepribadian terhadap para muridnya adalah pengejawantahan ruhul mudarris yang dimaksud gontor. Kebiasaan dan pola hidup guru gontor menciptakan sebuah konstruksi “tahdzibul akhlaq” dalam kasus ini biasanya bisa dalam ranah menciptakan juga memperbaiki. Maka mutlaq seorang guru harus digugu lan ditiru bukan diguyoni lan ditinggal turu. Demi mendapatkan SDM guru yang berkualitas tidak luput dari pemilihan yang selektif, maka guru yang juga merupakan alumni KMI ini bukanlah yang terbaik dari semuanya, tetapi kesempatan yang diberikan kyai dengan landasan kebaikan yang ada di dirinya itulah yang membuat pantas, jika ditanya apakah guru di gontor adalah orang terpilih? Jawabanya iya, tetapi bukankah tidak semua yang terpilih itu terbaik. Inilah yang mendorong para guru untuk tidak takabbur dan terus berbenah memperbaiki diri.

Jadilah guru yang sederhana saja, sederhana bukan berarti murah, tapi patokanya adalah butuh. Dengan sikap yang sederhana dan wajar ini ruhul mudarris akan terwujud. Jangan menunggu da’watul khoirot tetapi justru kita yang harus menciptakan miliu kebaikan antara penduduk pondok terutama untuk santri-santri pondok. Ini bukan santri saya ini bukan santri kamu, tapi ini santri pondok, kita hanya mendapat berkah mendidik di pondok. Kita ini para guru bukan siapa siapa, maka perlu selalu merenungkan kembali wujud kita di pondok, serta pahami secara mendalam untuk apa kita di pondok. Ada atau tiadanya kita di pondok tidak ada pengaruhnya untuk pondok (illa an a’toona ma’had fursoh). “Jangan sok, kalau nggak ada saya… kalau tidak karena saya…” tutur kyai Hasan tegas.

Berpengetahuan luas itu penting untuk seorang guru di zaman santri yang kolot ini, berfikir mendalam dalam menyikapi persoalan, selain menemukan solusi juga menemukan asal titik permasalahan, maka solusi yang dihasilkan adalah solusi yang matang dan siap dipertanggung jawabkan. Masalah yang muncul pasti ada sebab sehingga ada akibat, maka kunci memahami akibat adalah fokus mendalam akan sebab itu sendiri. Melatih hidup dengan masalah, bukan berusaha hidup tanpa masalah. Kita hanya bisa yakin bahwa masalah pondok ataupun masalah santri yang kita hadapi tidak lain adalah agar kita lebih dekat kepada Allah, menjadikan Allah sebaik baik penolong. “ jika melihat muridmu yang menjengkelkan, maka bayangkan bahwa salah satu dari merekalah yang akan menuntun kamu ke surga” begitulah dawuh kyai kami.

Jadilah guru yang menarik tapi bukan berarti nyentrik. Dalam mengajar contohnya, kita sebagai guru harus ada tasywiq untuk membuat santri tertarik kepada kita. Guru di Gontor adalah guru yang serba siap, selalu siap dan taat terhadap perintah pimpinan, tidak ada tawar menawar, no question no discussion. Memang pada dasarnya Guru di gontor selalu mengedepankan kepentingan umum (pondok) dari pada kepentingan pribadi, begitulah keteladanan Rosulullah SAW tidak pernah marah terhadap kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan umum beliau bisa marah. 

Selalu dan tidak pernah bosan jika berbincang tentang dinamika Gontor maka ada yang selalu setia mengikuti yaitu keikhlasan. Julukan yang dalam bahasa jawa sering disebut sepi ing pamrih ini merupakan kunci vital segala pekerjaan, sepi ing pamrih memiliki makna kosongan, yaitu kosong dari harap, kosong dari imbalan, hanya ridlo Allah SWT semata tidak lebih. Dalam metode gontor segala hal yang sudah terbiasa dan memang dibiasakan betul betul akan mendarah daging, seperti halnya keikhlasan ini yang gontor sudah menanamkan kepada jiwa santrinya semenjak pertama kali menginjakan kaki di bumi Darussalam. Maka guru yang notabenenya juga sebagai santri senior haruslah ahli dalam hal ini.

Ozon-ozon kebaikan selalu menyelimuti kehidupan di ponpes Gontor, tidak lain karena tirakat kyainya, gurunya, santrinya, pekerjanya dan seluruh penghuni didalamnya. Perjuangan harus terus berlanjut, dosa kalau tidak dilanjutkan, jangan mudah mudah menyerah dan jangan mudah putuh asa, Laa hayata ma’al ya’si, wa laa-l-ya’sa ma’al hayati. Wallahu khoirul musta’an.

Penulis: Yazid Zidan Prabowo/ Mahasiwa AFI 6 Unida Gontor
(Tulisan banyak bersumber dari kajian PSIIA Masjid Atiq Gontor oleh Al Ustadz Farhad Muhammad, S.Pd. Tema: Ruhul Mudarris Dalam Perspektif PMDG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *