Pada umumnya masyarakat milenial abad- 21 ini telah banyak mengalami kemajuan teknologi ketimbang era sebelumnya. Salah satu yang menjadi sasaran empuk perkembangan teknologi modern adalah mengenai hal dokumentasi. Ya, tentu tidak jauh-jauh dengan kamera. Akhir-akhir ini, banyak branding teknologi khususnya gadget yang secara masif mengembangkan produksinya untuk menciptakan dan memuaskan para pelanggannnya dengan kamera yang sangat spektakuler. Mungkin hal ini sudah menjadi fitrah para remaja bahkan semua elemen untuk mengabadikan seluruh aktivitas kesehariannya.

Perfotoan salah satu Klub bola di Pondok Modern Darussalam Gontor ( Depan Balai Pertemuan Pondok Modern )

Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagai lembaga pendidikan Islam pun juga tidak ingin menomorduakan perihal dokumentasi alias sesi perfotoan di setiap acara-acara penting. Namun, yang menjadi perbeadaan terhadap sesi perfotoan pada umumnya adalah, perfotoan di Pondok Modern Darussalam Gontor sarat akan filosofi dan nilai-nilai pendidikan di dalamnya. Tentu sudah menjadi standar operasional pendidikan yang ada dibawah naungan alam pendidikan gontor, sebagai syi’arnya adalah segala sesuatu, kecil maupun besar yang ada di pondok ini, akan menjadi sebuah pendidikan bagi para santri.

Perfotoan salah satu Kelas di Pondok Modern Darussalam Gontor

Esensi perfotoan di Gontor yang paling penting adalah agar santri maupun guru, memiliki dokumentasi perjuangan yang pernah ia tempuh semasa menjalani amanatnya di Pondok. Tapi, proses untuk menuju sesi perfotoan dengan sekali atau dua kali cekrek, bukanlah suatu yang remeh, justru proses tersebut membutuhkan usaha yang sulit nan kompleks. Bayangkan saja, anak umur belasan tahun tersebut dituntut untuk memberikan aspirasi dan inovasi mereka pada sebuah triplek sederhana, dan menyulapnya menjadi bagian utama dari perfotoan. Yap, dari triplek inilah terlahir background perfotoan luar biasa nan-eksotis.

Dengan waktu yang sempit, dan juga banyaknya kegiatan para penghuni pondok, terkadang pembuatan background hanya berlangsung selama tidak lebih dari 24 jam. Bahkan hanya dengan sekali dua kali sentuhan, jadilah background kebanggaan masing-masing kelas tersebut. Tapi, jika boleh berkata jujur, ketidaksiapan background dan konsepperfotoan pada malam sebelum hari H, memberikan rasa kecemasan tersendiri, bagi santri anggota kelas tertentu pada umumnya, dan juga para wali kelas secara khususnya. Namun, rasa kecemasan ini tidaklah membuat surut semangat para santri untuk bergegas, bergerak dan berfikir ekstra demi memutarbalikkan perasaan cemas tadi menjadi sesuatu yang menyenyangkan, dan memberikan persembahan terbaiknya bagi para wali kelas. Dinamika ini, tentulah akan menjadi cerita tersendiri, yang apik untuk dikenang dan disebarluaskan. Perfotoan yang singkat, namun memiliki atsar yang melekat, karena keikhlasan santri-santri dan juga para guru dalam bekerja, bersatu padu untuk memberikan dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dari sinilah, pondok mengajarkan para santri dan alumni-alumninya untuk senantiasa menyebarkan ozon-ozon keberkahan kesuluruh antero Darussalam, Indonesia, bahkan dunia. Fii ayyi ardhin tatho’ wa anta mas-uul u ‘an islaamiha.

Penulis : Ahmad Farkhan Abdau ( Mahasiswa AFI 6/ Kampus Robithah )

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *