Guru Misterius Dibalik Kisah Sufi Rumi

afi.unida.gontor.ac.id.- Dikalangan pencinta Tasawuf, nama Jalaluddin ar-Rumi sudah tidak asing lagi untuk di dengar. Karya-karyanya, tidak hanya diminati oleh orang Muslim, namun juga masyarakat Barat. Namun, siapa sangka dibalik perjalanan kisah spiritual Rumi, ia memiliki guru misterius yang telah mengubah perjalanan hidupnya. Ialah Syams-e Tabriz.

Menurut riwayat, apabila dilihat dari namanya ‘Syams-e Tabriz’, beliau berasal dari Tabriz, sebuah kota besar di sebelah barat Iran. Ia terlahir sebagai anak yang istimewa dan berbeda dengan teman-temannya yang lain. Untuk itulah, ia ingin mengembara untuk mencari teman yang tepat, satu pemikiran dan dapat dijadikan sebagai teman hidupnya.

BACA JUGA: SIMBIOSIS MUTUALISME TASAWUF FALSAFI DAN TASAWUF AMALI ALA PONDOK PESANTREN MAULANA RUMI

Akhirnya, ia memutuskan untuk berkelana. Selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, Syams mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Pada umur yang 37 tahun, Rumi berhumpa dengam Syams yang saat itu mengenakan pakaian yang lusuh bahkan nyaris seperti gelandangan. Namun, siapa sangka ternyata Syams justru melempari sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan bagi Rumi. Syams bertanya “Siapakah yang paling hebat, Bayazid al-Bistami atau Rasulullah SAW?’. mendadak, Rumi jatuh pingsan dan akibat tidak mampu menjawab pertanyaan Syams.

Perjumpaan dengan Syams menjadi tiitik balik kehidupan spiritual Rumi. Hubungan keduanya menjadi lebih dekat dan akrab. Bahkan keduanya memutuskan untuk berkhalwat, mengasingkan diri dari keramaian. Rumi semakin mengatakan bahwa dirinya bukan siapa-siapa, meskipun ilmu yang ia punya sudah mencapai tingkat tinggi. Dalam puisinya, ia mengatakan ‘Aku Hanyalah Debu Dari Telapak Kaki Nabi Muhammad Saw’.

Melihat perubahan Rumi yang meninggalkan segala aktivitas mengajarnya dan kehidupannya. Murid-murid Rumi dan orang-orang terdekatnya pun cemburu dan berniat untuk menyingkirkan Syams agar Rumi kembali seperti biasa.

Dengan berbagai tipu muslihat, Syams akhirnya pergi sejauh mungkin dari kehidupan Rumi. Ia pun berjalan menuju Damaskus. Kepergian Syams, membuat hidup Rumi menjadi gelisah. Ia menjadi sangat marah saat mengetahui bahwa murid-muridnyalah yang membuat Syams pergi menjauh. Rumi pun mengutus putra pertamanya untuk membawa Syams kembali.

BACA JUGA : SPIRITUALITAS MANUSIA MENURUT AS-SARRAJ DAN AL-HADDAD

Sultan Walad, putra pertama Rumi berhasil membawa Syams kembali. Namun, tak lama kemudian, Syams menghilang. Sebagain riwayat ada yang mengatakan bahwa saat itu ada tamu penting yang mencari Syams. Sehingga, ia keluar dan sejak saat itu ia tidak pernah kembali. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Syams dibawa oleh murid-muridnya kemudian mereka membunuhnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa Syams kembali ke kampong halamannya Tibriz. Sejak saat itu Syams, tidak diketahui jejaknya. Kesedihan Rumi semakin menjadi. Rumi mengaggap Syams (sebagaimana arti namanya) seperti Matahari. Yang menjadi sumber bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan di bumi. Begitu juga pernanan Symas dalam kehidupan Rumi. Hal ini Rumi ungkapkan dalam salah satu karyanya yang berjudul Diwan-ISyamsi Tabriz.

“Seperti Awan Bergerak di belakang Matahari, Semua Hati menyertaimu, O, Mataharai Tabrizi!’

Tari Sema
Sepeninggal Syams, Rumi merasakan kesedihan yang luar biasa. Rumi benar-benar merasakan kehilangan panutan dalam hidupnya. Sehingga, tanpa kesengajan seorang pandai besi bernama Shalahuddin Zarqub membuat Rumi menari-menari berputar sambil melantunkan syair-syair puitis atas kecintaannya kepada Tuhan dan gurunya. Selain itu Rumi juga mengajak umatnya untuk menari dan berputar dengan hanya mengingat Allah SWT dalam hatinya.

Sampai tahun meninggalnya, pada 17 Desember 1723. Rumi tak pernah berhenti menari karena dia tidak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringatknya dalam inisiasi sifi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai. Bagian dari Allah lah yang layak untuk dicintai.

Penulis : Rahmah Mega Ardiana
Mahasiswi Program Studi Aqidah dan Filsafat islam Semester 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *