Oleh: K.H. Ahmad Suharto, M.Pd.I
Bapak Wakil Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri I

afi.unida.gontor.ac.id – Dikisahkan bahwa Rasulullah SAW mempunyai seorang pemandu onta bernama Anjasyah yang khusus ditugasi memandu rombongan onta yang dikendarai para istri nabi pada saat haji wada’, saat itu onta-onta bergerak dan berjalan cepat sehingga membuat tidak nyaman bahkan bisa membahayakan keselamatan para ummahatul mukminin yang berada di dalam haudaj (tandu-tandu) di atas punggung unta, nabi yang mulia memberi teguran “Ya Anjasyah rifqan bil qawarir” (Hai Anjashah, berlemah lembutlah terhadap para wanita). (al-Isti’ab 1/140). Hadits-hadist tentang kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad dari Anas bin Malik.

Butuh penghayatan mendalam dan imajinasi tinggi untuk memahami ungkapan indah Nabi “Rifqan bil qawarir” – berlemah lembutlah (dalam memperlakukan) bejana-bejana kaca (wanita)”.  Al-Imam al-Farisi dalam mu’jam “Maqayis Allughah” menyatakan bahwa huruf Ra’ yang disambung dengan huruf Fa’ dan Qaf yang keduanya dari asal yang sama, menunjukkan arti kesepakatan tanpa adanya kekerasan dan paksaan.

Kemudian Rasulullah SAW menyerupakan wanita dengan qawarir (bejana-bejana kaca), karena di antara keduanya ada beberapa persamaan. Kata “Qawarir” bentuk jamak dari qarurah artinya adalah botol atau bejana kaca. Ungkapan tasybih (perumpamaan) yang akurat bagi watak dan sifat-sifat seorang wanita. Bejana kaca sangat mudah retak dan pecah, dan wanita meskipun dalam berbagai hal sangat kuat dalam menanggung beban dan tugas, tapi akan sangat mudah hancur hatinya dengan pengkhianatan, kata-kata yang melukai atau sikap yang merendahkan harkat pribadinya.

Ungkapan mulia ini mencakup segala gambaran yang berkaitan dengan wanita dari karakter keputrian, keindahan, kelemah lembutan, sensitivitas, kejernihan, kehati-hatian dan lain-lain. Pemilihan kata yang sangat tepat dari nabi.

Demikianlah kepedulian Nabi terhadap wanita, beliau sangat peka, berlemah lembut dan hati-hati dalam memperlakukan mereka. Islam sangat melindungi dan membela orang-orang lemah, dan wanita dalam sisi tertentu dikategorikan bagian dari mereka, Islam datang untuk memuliakan wanita, meninggikan derajatnya, tidak membedakan dengan kaum pria dalam amal perbuatan, memberikan hak-hak pribadi, pendidikan, sosial dan lain-lainnya. Bahkan dalam khotbah wada’ dan pesan terakhir beliau sebelum wafat agar umat Islam memperlakukan wanita dengan baik dan mulia.

Secara umum kaidah “Rifqan bil qawarir” ini menjadi landasan dan prinsip bagaimana kita berinteraksi dan memperlakukan wanita, baik itu ibu kita, istri, saudara perempuan maupun anak-anak putri kita, yakni dengan lemah lembut dan hati-hati serta mempertimbangkan sisi-sisi fitrah kewanitaan mereka.

Namun sesuai dengan kaidah “al-‘ibratu bi’umumillafdzi la bi khushushi assabab” (pelajaran itu diambil atas dasar keumumam lafadz dan bukan karena kekhususan sebab), maka ia juga bisa menjadi landasan dalam membangun hubungan harmonis suami istri sekaligus sebagai prinsip-prinsip utama dalam pendidikan anak-anak putri.

Artikel lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *