Tanisu Addzukran, Wa Tadzkir Annisa

Oleh: K.H. Ahmad Suharto, M.Pd.I
Bapak Wakil Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri I

afi.unida.gontor.ac.id – Mewanitakan pria dan mempriakan wanita adalah salah satu upaya gerakan feminisme modern yang runtuh dengan sendirinya di hadapan realita sosial. Tuntutan kesetaraan gender bermula dari upaya pembebasan wanita dari belenggu dan hegemoni doktrin-doktrin gereja sejak abad pertengahan (baca abad kegelapan Eropa), di mana wanita dipandang sebagai makhluk kelas dua setelah laki-laki, bahkan lebih parah lagi ada yang masih memperdebatkan apakah wanita itu manusia atau bukan?.

Para tokoh gereja sepakat bahwa wanita adalah makhluk jahat, personifikasi syetan untuk memperosokkan kaum pria dalam dosa dan kejahatan hingga akhirnya menyeret mereka ke lubang neraka, karena itu gereja memandang bahwa pernikahan dengan wanita  bukan bagian dari cara hidup orang-orang shaleh dan suci, sentimen dan kebencian mereka terhadap wanita bahkan disimbolkan dengan kejahatan nenek sihir yang harus dibasmi.

Maka adalah sebuah keniscayaan bila gerakan feminisme timbul di Barat, karena memang problem pemicunya ada di sana. Yang mengherankan ada manusia-manusia model beo yang latah mengusung feminisme hingga kesetaraan gender ke dunia Islam dan akhirnya ingin merekonstruksi konsep Islam tentang wanita.

Mereka tidak paham bahwa Islamlah yang memerdekakan wanita, memuliakan wanita dan memberikan kedudukan serta hak-hak individu dan sosial yang sesuai dengan fitrahnya. Di Indonesia gerakan feminisme sering berkedok HAM, banyak produk UU yang sudah mereka intervensi, mulai dari Perlindungan Anak, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Legalitas Aborsi, kuota proporsional wanita dalam legislatif hingga akhirnya mereka menuntut legalitas pernikahan sejenis. Intinya mereka ingin menghilangkan sekat-sekat yang membedakan antara wanita dan pria di segala aspek kehidupan.

“Mungkinkah? Berhasilkah?”

Dunia Barat sendiri, tempat kelahiran dan pertumbuhan gerakan feminisme saat ini sudah jengah dan muak dengan gerakan feminisme yang dinilai melampaui batas. Dampak-dampak negatif sudah mereka rasakan dan sulit diobati; semakin jauhnya anak-anak perempuan dari keluarga, keengganan menikah di kalangan remaja, runtuhnya nilai-nilai keluarga, pergaulan dan seks bebas di kalangan remaja, nikah sejenis, tingginya angka aborsi, anak-anak yang tidak jelas ayahnya, atau yang hidup hanya dengan single parent (ibunya) dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan di sini.

“Apakah penyakit sosial seperti ini yang ingin diimpor ke negara kita?”

Kembali ke Islam, ke konsep Al-Qur’an yang gamblang dan mencerahkan, memuliakan manusia sesuai fitrahnya. Allah menciptakan segala sesuatu (makhluknya) berpasang-pasangan, pria dan wanita adalah dua makhluk yang berbeda, masing-masing mempunyai kekhususan yang berbeda dengan lainnya, untuk saling melengkapi dan yang satu butuh kepada lainnya. Kita dilarang menyamakan dua hal yang memang berbeda, atau membeda-bedakan hal-hal yang sama. Wanita tidak perlu dilaki-lakikan demikian pula sebaliknya pria tidak usah diperempuankan.

Gerakan feminisme yang menuntut kesetaraan gender dengan menafikan perbedaan antara wanita dan pria batal dengan sendirinya bila dihadapkan dengan realita kehidupan. Hingga saat ini wanita dengan fitrahnya tetap yang mengandung, melahirkan, menyusui anak, hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh pria, karena memang keduanya berbeda.

Wanita dengan instingnya menyukai kelemah lembutan, sementara pria lebih condong pada keperkasaan. Dan justru di situlah daya tarik masing-masing, kalau pria lemah gemulai dan wanita perkasa aneh jadinya. Dalam pemilihan profesi dan pekerjaan, meskipun ada beberapa profesi yang bisa ditekuni baik oleh wanita maupun pria, tetapi kecenderungan insting wanita tetap tertuju pada jenis-jenis pekerjaan yang berbeda dengan pria.

Demikian pula dalam bidang olahraga, di Eropa dan Amerika sekalipun tetap dipisahkan kategori olahraga wanita dan pria, tidak ada sepakbola di mana pemainnya dicampur antara laki-laki dan perempuan, inilah memang fitrah wanita. Di Amerika yang sejak semula mengagung-agungkan demokrasi, emansipasi, gender equality, nyatanya hingga saat ini jumlah senator, tentara, menteri dan jabatan-jabatan sentral lainnya tetap saja didominasi oleh pria, dan bukan wanita.

Kalau kita bertanya berapa kali Amerika Serikat mempunyai presiden wanita? Jawabannya jelas, belum pernah ada. Dengan demikian teori dan konsep kesetaraan gender yang ingin menghilangkan karakteristik yang membedakan antara perempuan dan laki-laki dengan sendirinya runtuh.

Artikel lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *