Wa Laisa Addzakaru Ka Al-Untsa

Oleh: H. Ahmad Suharto, M.Pd.I
Bapak Wakil Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri I

 afi.unida.gontor.ac.id – Alkisah, istri Imran (Hannah binti Faqudz) bernadzar bahwa putra dalam kandungannya bila kelak sudah dilahirkan akan dijadikan anak yang menghamba kepada Allah dan melayani di baitul maqdis. QS. Ali Imran: 35. Ketika melahirkan dan ternyata seorang bayi perempuan dia berkata “Aku melahirkan seorang bayi perempuan”, Dia mengadu kepada Allah  seakan dia kecewa, bukan lantaran bayinya perempuan, tetapi khawatir dengan demikian ia tidak mampu melaksanakan nadzarnya, karena anak perempuan tentu mempunyai banyak keterbatasan dibanding laki-laki untuk berkhidmah sebagai pelayan umat di Baitul Maqdis.

Allah lebih tahu tentang bayi yang dilahirkannya, karena ilmu Allah mendahului semua peristiwa yang terjadi. Allah lebih tahu bahwa dibalik kelahiran bayi perempuan tersebut ada rencana besar yang akan diemban oleh Maryam, sebuah tugas yang tidak akan bisa ditunaikan oleh anak laki-laki.

Ternyata bayi perempuan ini kemudian mempunyai banyak keutamaan, di antaranya; Namanya (Maryam) diabadikan dalam al-Qur’an, bahkan menjadi nama sebuah surat dari al-Qur’an, kehadirannya sebagai harapan dan nadzar orang tuanya dikabulkan dan diridhai Allah, tumbuh dalam pengawasan Allah dengan baik, bersama keturunannya terjaga dari syaitan, putranya menjadi nabi, dilahirkan seperti Adam AS tanpa seorang laki-laki yang menyentuhnya, dikaruniai banyak karamah seperti terhidangnya berbagai buah-buahan di mihrabnya meskipun bukan pada musimnya, dipilih oleh Allah dan disucikan dari segala sifat tercela dan perbuatan dosa hingga akhirnya dinobatkan sebagai salah satu dari dua orang wanita teladan bagi orang-orang yang beriman.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering memaksakan keinginan kepada Allah, dan kemudian kecewa bila yang kita dapat tidak sesuai dengan target dan hasrat. Sementara kita tidak mengetahui hikmah besar apa yang sedang dijalankan Allah atas kita.

Lanjutan potongan ayat berbunyi “Wa Laisa Addzakaru Ka Al-Untsa” (dan tidaklah laki-laki itu sama dengan (seperti) perempuan”. Menurut sebagian mufasir, ungkapan ini merupakan jumlah mu’taridlah, jumlah terpisah yang diletakkan di antara dua jumlah sebelum dan sesudahnya, fungsinya untuk menguatkan pesan yang terkandung dalam ayat.

Ungkapan ini kemudian menjadi kaidah penting dalam kehidupan. Intinya laki-laki berbeda dengan perempuan sehingga yang menyamakan antara keduanya jelas menentang prinsip syariah Islam. Tetapi perlu dicatat bahwa perbedaan ini jauh dari anggapan diskriminatif yang seolah-olah merendahkan derajat wanita dibanding laki-laki.

Perbedaan itu berkaitan dengan peran dan fungsi dalam kehidupan bermasyarakat, berbeda karena memang wanita mempunyai karakteristik dan kekhususan yang tidak ada pada kaum pria, demikian pula sebaliknya, sehingga keberadaan dua makhluk yang berbeda ini akan saling melengkapi, karena mereka saling membutuhkan.

Perbedaan kedudukan di antara keduanya mengandung konsekuensi dan tanggung jawab. Sebagai contoh dalam kehidupan keluarga, laki-laki memang menjadi qawwamun ala annisa, yang bisa diartikan sebagai pemimpin, tetapi hal itu disertai konsekuensi kewajiban untuk mencari rezeki, menafkahi, melindungi, menjaga hingga mendidik keluarga (istri).

Bagian waris anak putra memang dua kali lipat lebih banyak dari anak putri, namun ada konsekuensinya dinama harta anak laki-laki cenderung akan berkurang dibanding harta anak perempuan; akan berkurang karena ketika menikah dia harus membayar mahar (mas kawin), menyelenggarakan walimah, memberi nafkah untuk istri dan anak-anaknya, sementara harta anak putri cenderung bertambah karena dia akan menerima semua itu.

Demikian pula dalam persaksian, di mana nilai persaksian seorang pria juga sama dengan dua perempuan, hal itu sudah dibuktikan dengan ilmu pengetahuan modern bahwa wanita saat hamil dan menyusui, mengalami penurunan konsentrasi, kesehatan dan pengecilan volume otak, maka ketentuan ini justru untuk meringankan beban wanita, sebagai rahmah bagi mereka, bukan diskriminatif sama sekali.

Pemahaman yang salah atau disalah pahamkan sering menjadi bahan kaum liberalis untuk menyerang Islam, seolah-olah Islam adalah agama misogini yang diskriminatif terhadap perempuan bahkan menindasnya. Tuduhan dusta atas dasar kebodohan nyata.

Mantingan, 4/3/2020

Artikel Selain Wa Laisa Addzakaru Ka Al-Untsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *