Oleh: Choirul Ahmad
Mahasiswa Akidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id – Berbicara mengenai konsep wahyu dalam epistemologi Islam tidaklah relevan tanpa dikaitkan dengan wacana kontemporer saat ini, hal demikian karena umat Islam hari ini telah dan sedang berada dalam hegemoni peradaban Barat yang dalam suatu batas tertentu menyiratkan sebuah benturan pandangan alam, persepsi, atau paradigma.

Sehingga, kalau kita tidak kritis untuk dapat mengambil langkah bijak dalam menyikapi berbagai seruan dan ajakan yang datang darinya justru kemungkinan besar banyak hal-hal negatif yang akan kita peroleh.

Adapun dikursus tentang wahyu itu sendiri pada hari ini bisa kita bagi menjadi dua obyek secara khusus dan umum, yang pertama berkaitan dengan al-Qur’an dan penafsirannya, yang kedua mengenai wahyu sebagai sumber ilmu dan kedudukannya dalam  epistemologi Islam.

Persoalan pertama lebih mengerucut tentang relevansi al-Qur’an dalam merespons modernitas, artinya apakah penafsiran alquran yang telah dibakukan oleh para ulama’  kita semenjak zaman Rasulullah bisa kita terapkan dalam kehidupan modern ini, sedangkan untuk persoalan kedua maka lebih umum yang mencakup al-Qur’an dan hadist/sunah, bagaimana posisi dan urgensinya dalam Islam ketika dihadapkan dengan epistemologi modern sekuler/ateistis yang menolak nilai-nilai agama dan metafisika?

Dua persoalan tadi akhirnya menggiring kita untuk memilih antara epistemologi Bayani, Irfani atau Burhani, pilih eliminasi atau rekonsiliasi?  

Perbedaannya jika persoalan pertama berangkat dari titik tolak sama di mana para pegiatnya meyakini akan kedudukan sentral al-Qur’an dalam kehidupan umat muslim, hanya problem penafsirannya saja yang berbeda, apakah harus menggunakan cara hermeneutika pos modern atau tetap dalam mainstream yang sudah menjadi tradisi semenjak dahulu? Adapun yang kedua maka ia didasarkan dari dua poros yang bertentangan, bahkan cenderung lari terlalu jauh dari yang pertama yaitu apakah wahyu yang sakral dan keakhiratan itu masih relevan untuk zaman keduniaan/sekuler saat ini?

Lebih lanjut lagi jika persoalan  kedua adalah problem yang dilatarbelakangi epistemologi modern dengan rasionalisme dan empirisme dari sekularisasinya, sedangkan yang pertama adalah problem dari epistemologi pos modern dengan dekonstruksi teksnya dari nihilisme, relativisme, gender equality dan antiotoritasnya.

Secara epistemologis, pada hakikatnya umat muslim tidaklah butuh pada apa yang disebut hermeneutika dengan berbagai macam jenis dan metodologinya, hal itu dikarenakan umat muslim tidak pernah mempunyai problem serius baik dalam teks atau penafsirannya di mana setiap makna dalam  sumber primernya (al-Qur’an dan hadist) sudah terjaga dengan bahasa arab dan sifat keilmiahannya.

Lebih daripada itu sumber-sumber primer tadi berikut juga pemahamannya kemudian ditransmisikan dari generasi ke generasi selanjutnya dengan sistem sanad yang mencirikan sebuah otoritas, sehingga mencegah terjadinya distorsi, interpolasi dan manipulasi.

Sebelum mengambil konsep-konsep asing dari barat, seharusnya cendekiawan muslim menyadari bahwa Islam lebih dari sekedar agama dengan berbagai ritual normatifnya tapi ia adalah sebuah ideologi yang memproyeksikan pandangan alam dan sebuah sistem dasar kehidupan yang universal, bahwa Islam bukan hanya agama tapi juga peradaban.

Bahkan Islam sebagai agama wahyu yang otentik sudahlah final dan dewasa semenjak lahirnya, ia tidak mengenal relativisme dalam sejarah  sehingga tidak butuh pada perkembangan atau perubahan fundamental di dalam dasar-dasarnya. Di mana dari elemen-elemen mendasar dalam pandangan hidupnya inilah yang kemudian digunakan oleh seorang muslim untuk menafsirkan apa itu kebenaran dan realitas yang pada gilirannya ia akan menentukan arah dan makna kemajuan, perkembangan dan perubahan.

Dalam epistemologi Islam wahyu atau al-Qur’an secara khusus mempunyai kedudukan paling tinggi di antara saluran-saluran yang lainnya, di mana ia bersumber langsung dari Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Benar yang di turunkan pada Rasulullah dengan lafaz dan maknanya untuk menjadi petunjuk dan pedoman bagi umatnya, selanjutnya ia kemudian ditransfer dan ditransmisikan dari generasi ke generasi hingga akhir zaman yang mencerminkan dan menjadikannya sebagai sebuah otoritas.

Konsekuensi dari hierarki ini pun sangat jelas, di mana ia menjadi standar kebenaran dari segala jenis ilmu baik yang diperoleh dari akal, persepsi indra luar atau dalam, intuisi/ilham, bahkan hadist atau sunah. Maka bisa kita pahami bagaimana urgensi wahyu (al-Qur’an dan sunah shahihah) dalam konstruksi epistemologi Islam, di mana ia memberikan kita pengetahuan yang mutlak sepenuhnya yang pasti kebenarannya dan tidak ada keraguan di dalamnya dengan demikian ia disebut ilm yaqini.

Berbeda dengan pengetahuan dari dua sumber formal lainnya yaitu akal termasuk juga intuisi dan Panca Indera baik dalam internal atau eksternal yang masih menyisakan keraguan dari dugaan dan praduga-praduganya sebelum diverifikasi sedemikian rupa sehingga meski di satu sisi ia memberi keyakinan secara mutlak namun di saat yang lain ia juga bersifat nisbi, atau yang disebut ilm zanni.

Namun penting untuk diketahui bahwa semua ilmu sejatinya juga bersifat intuitif termasuk wahyu yang diterima oleh para rasul, hanya saja ia tidak didapat dengan usaha tertentu ia mutlak pemberian dan anugerah dari Allah, maka di sinilah letak perbedaan antara wahyu dan ilham.

Yang tidak kalah penting untuk dijelaskan mengikut distingsi hierarkis di atas adalah pengetahuan dari hawa nafsu yang berbasis khayalan, imajinasi dan fantasi di dalamnya sehingga kemungkinan salahnya lebih banyak daripada kebenarannya, maka ia bersifat nisbi secara mutlak dikarenakan faktor-faktor yang mendominasinya tadi, hingga ia dijuluki ilm wahmi.

Konsekuensi lainnya adalah bahwa ilmu-ilmu wahyu (terutama prasyarat-prasyaratnya) tadi harus menjadi landasan dasar (mother of sciences) bagi ilmu-ilmu di bawahnya. Karena sebagaimana tujuan utama darinya, ia hanyalah sebatas untuk memenuhi kepentingan pragmatis manusia agar dapat menjalani kehidupan sosialnya di samping menjadi khalifah yang diberikan amanah untuk mengatur dan menyejahterakan bumi ini.

Sedangkan, ketika seseorang dengan keahliannya tadi kemudian diberikan kedudukan dan menjadi orang berpengaruh di suatu masyarakat belumlah tentu bisa mencerminkan pribadi yang berintegritas tinggi dan beradab terutama pada diri sendiri.

Maka penguasaan ilmu ini belum tentu selalu baik bagi setiap orang bahkan pada batas tertentu ia bisa mengelirukan manusia dari tujuan, prioritas dan tabiat asalnya, sehingga penguasaan terhadap ilmu ini seharusnya dibatasi dalam lingkup praktis sesuai dengan bakat dan kemampuannya terkecuali para ahli spesialis yang harus menguasai cakupan dan lingkup terdalam dari ilmu tadi.

Adapun fungsi utama dari ilmu-ilmu wahyu yang disifati dengan ilmu iluminasi/pengenalan (mengikut intensitasnya yang berbeda dan lebih mendalam daripada sekedar ilmu yang bersifat pengetahuan saja) adalah sebagai hidangan bagi jiwa dan spiritualitas yang menyingkap hakikat sejati dari wujud dan eksistensi manusia serta hubungan mereka dengan Tuhannya.

Artikel lainnya Selain Konstruksi Epistemologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *