Wabah dan Umar bin Khattab yang Muslih

Oleh: Mohammad Syam’un Salim
Staf Media dan Penerbitan INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations)

afi.unida.gontor.ac.idUmar bin Khattab Ra itu kurang apa? Tidak ada yang ditakuti olehnya apa pun. Bahkan menurut riwayat, kalangan Jin, setan takut sama Umar. Beliau adalah khalifah sekaligus sahabat Nabi yang bila amalnya ditimbang dengan amalan manusia se isi bumi ini, lebih berat amalan Umar bin Khattab. Beliau adalah satu dari sepuluh sahabat lain yang dijamin masuk surga. Tapi ketika dikabarkan ada wabah penyakit di Syam, Umar Ra tidak lantas petenteng-petenteng keras kepala menerobos masuk ke Syam. Yang dilakukan Umar Ra justru berbalik arah ke Madinah. Apakah di sini Umar Ra disebut pengecut, penakut, syirik? Tentu jawabannya tidak.

Ciri utama dari aqidah ahl sunnah wal jamaah itu tidak ifrat dan tafrit; dalam perbincangan Kalam dikenal dengan istilah attawassuth baina al-aql wa al-naql. Persis dengan apa yang dilakukan oleh Umar Ra. Di satu sisi, ia percaya bahwa detik, menit dalam rentang waktu, nyawa makhluk tidak terlepas dari kehendak Allah Swt. Tapi di saat yang bersamaan, manusia juga harus realistis; penuh perhitungan dan tidak sembrono. Di sini, ungkapan Umar yang terkenal itu keluar “aku pergi dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain”.

Keseimbangan untuk tidak ifrat dan tafrit ini sekilas beririsan dengan apa yang disebut al-Attas dengan ‘reality and truth’-nya. Bahwa muatan dari al-haq haruslah berlandaskan pada keseimbangan realitas dan kebenaran. Bahasa lainnya, kita tidak bisa menafikan realitas; apa yang terjadi di alam (sebagai wujud), tapi di saat yang sama juga sebuah afirmasi bahwa kebenaran wahyu punya tempatnya sendiri; dan diakui sebagai kebenaran. Maka keduanya tidak boleh dipandang terpisah; keduanya berada pada kotak pandora yang sama.

Al-Attas juga menyimpulkan bahwa realitas alam ini riil, bukan sesuatu adaan imaginatif. Maka diperhitungkan keberadaannya. Bukan malah dibentur-benturkan. Ini maksud dari ru’yatul islam lil wujud. Wujud di sini berdimensi ganda: fisika dan metafisika. Jadi memperhitungkan hal-hal indrawi bukan suatu kesalahan. Justru ia dibutuhkan dan diperhitungkan; asal, diikuti dengan wujud yang lain, yaitu wujud non indrawi. Di sini ijtihad Umar Ra tampak sejalan.

Di sesi Seri Kuliah Filsafat Ilmu INSISTS, penjelasan Dr. Syamsuddin Arif juga memperkuat simpulan ini. Dalam Islam apa yang empiris itu benar, ya, tapi kebenaran selalu empiris, tidak. ‘What is empirical is true: yes! What is true is empirical: No! Bahasa lainnya, not everything true is rational, some truths are beyond reason (trans-rasional). Not everything true is empirical, some truths are not directly observable or simply lie beyond sense perception’. Yang perlu digarisbawahi di sini, bahwa realitas empiris itu riil dan benar meskipun bukan satu-satunya kebenaran. Jadi, Islam itu empiristis, tapi bukan empirisisme. Islam itu rasionalis, tapi bukan rasionalisme.

Mafhum mukhalafahnya: mempercayai dan berpegang pada yang metafisika (baca: tidak empiris) saja, dan menafikan fisika (yang empiris), tidak dikenal dalam Islam. Aqidah Islam dibangun atas kesadaran dua hal ini secara bersamaan. Dari sini, apa yang dilakukan Umar Ra tampak beririsan bukan? Sebagai muslim ia percaya atas kehendak Allah Swt. tetapi tidak menafikan realitas wabah yang itu membahayakan; dirinya dan sahabat lain. Oleh sebab itu, perlu ikhtiar untuk dihindari. Ini sekelas Umar Ra, kita yang imannya kelas teri mestinya tidak arogan dengan mengatakan “Covid-19 ciptaan Allah” tanpa ikhtiar yang memadai, lalu dengan begitu menjadi kebal terhadap apa pun. Selain dzalim kepada orang lain, mati konyol itu namanya.

Ijtihad Umar Ra akan semakin relevan, manakala hal itu diperbincangkan lewat hukum kausalitas: sebab-akibat dalam kacamata Imam al-Ghazali. Dalam rumusan kausalitas yang ia bangun, al-Ghazali menyebutkan bahwa Tuhan meletakkan sebab-sebab yang absolute, mendasar, fix, dan stabil “al-asbab al-kulliyah al-asliyyah al-tsabitah al-musytarakah“. Di sini, bagi al-Ghazali, api yang mendidihkan air tidak mungkin berubah menjadi mendinginkannya.

Jadi dalam hukum sebab akibat, Tuhan telah meletakkan prinsip-prinsip secara mendasar. Kalau kita memotong jari dengan pisau, tentu jari kita akan terluka. Konsepsi ini sebetulnya secara tidak langsung mengoreksi beberapa pandangan yang menyebutkan bahwa kepercayaan kita terhadap Tuhan membuat alam semesta ini bekerja secara ajaib. Seperti yang dikatakan ‘Lawrance Krauss: “i am ready to believe in God if i look at the sky one evening and see the stars aligned to read i am here”. Atau yang diucapkan oleh Steven Weinberg: “i am ready to believe God if there will be suddenly after fiery sword will come and chop my head”.

Dalam penjelasan yang lain, al-Ghazali memberi pemisalan (yang kurang lebih begini), ketika kita ketinggalan buku di rumah, lalu kita ambil beberapa saat kemudian, tidak mungkin buku itu berubah menjadi keledai. Buku akan tetap buku. Artinya, hukum sebab akibat itu telah diatur secara tetap, tentu dalam kuasa Tuhan. Dan ini yang disebut dengan sunnatullah. Sampai di sini, Umar Ra menyadari bahwa tertular wabah adalah akibat yang akan didapat (dari sebab) apabila ia memaksa untuk masuk ke Syam.

Saya tidak tahu, apakah Umar melandasi keputusannya lewat konsep ruwet yang saya jelaskan di muka. Tetapi yang jelas keputusan Umar bisa dijelaskan dalam kerangka kerja intelektual khas seorang Muslim: ketika keimanannya mendasari ilmunya dan ilmunya ditopang oleh keimanannya. Dalam bahasa Dr. Hamid disebut kesalehan intelektual. Sangat jauh bila dibanding nalar dan dinding iman, juga amalan kita yang masih setipis kertas ini. Setidaknya, apa yang dilakukan Umar bin Khattab Ra. bisa lebih diikuti daripada ocehan kapolri atau pejabat; atau siapapun yang menganggap wabah ‘Covid-19’ sebagai perkara remeh.

Dari itu, apa yang diputuskan MUI juga mufti al-Azhar beserta ulama yang lain, berkenaan fatwa Shalat jamaah dan Shalat Jum’at punya garis temu di sisi ini. Bagaimanapun wabah Covid-19 ini bukan wabah sembarangan. Covid-19 punya karakteristik yang mudah sekali menyebar, menular secara masif dan menyebabkan kematian. Lihat video ini:

Video ini menjelaskan, bahwa tidak pedulian kita, keegoisan kita untuk berkumpul tanpa udzur syari hanya akan menularkan virus dengan mudah, membuat rumah sakit tidak mampu memuat pasien dan korban yang berjatuhan akan bertambah banyak. Kunci dari Covid-19 adalah cepatnya wabah ini menular, lalu membuat rumah sakit over capacity. Akhirnya seperti yang terjadi di Iran dan Italia; hingga harus memilih mana yang harus hidup, mana yang mati. Barangkali di sini titik bahayanya.

Pada orang yang terpapar Covid-19, tidak secara langsung berefek. Ia membutuhkan waktu 1-4 hari untuk menunjukkan gejala. Bayangkan saja, bila tanpa sadar terpapar lalu menularkan ke yang lain? Bukan gelar saleh yang didapat, malah mufsid (merusak) yang sudah pasti kita tanggung. Sebab kita, termasuk golongan yang menyebarkan wabah ini tanpa kita sadari. Ini yang terjadi saat ini di beberapa tempat.

Egoisme untuk berkumpul akan menzalimi orang lain yang harusnya sehat, menjadi sakit, dan secara tidak langsung menzalimi tenaga medis. Utamanya yang berusia senja. Kemarin, data dari ‘al-Jazera’ 3 hari yang lalu menyebutkan bahwa korban yang meninggal dari wabah ini sudah menyentuh angka 10.000. Italy: 3.405, China: 3.248, Iran: 1.433, Spanyol: 1.002, ini belum negara yang lain. Saat ini dalam sehari, ada -/+ 400 korban yang meninggal di Italia. Tidak mustahil ini terjadi di indonesia, wa iyadzu billah. Di sinilah Covid-19 menjadi sangat berbahaya dan mengancam jiwa.

Apa yang dilakukan Umar Ra perlu kita pakai dalam melihat wabah secara adil; tidak ifrat hingga masuk pada golongan Jabariyah, dengan menabrak hukum kausalitas: sebab-akibat, tidak pula tafrit dengan menuhankan usaha tanpa disertai tawakal. Yang tepat adalah, meminjam istilah Ibn Qayyim “baina khauf wa raja’” seimbang antara rasa cemas dan tidak hilang harap. Maka fatwa yang keluar dari para alim ulama’ tidak lain tidak bukan untuk menghindari mudarat yang lebih besar, itu pun setelah melalui serangkaian pertimbangan, telaah atas dalil-dalil yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Saat terjadi wabah seperti ini, menjadi saleh itu mudah. Yang sulit adalah menjadi golongan muslih (orang yang membawa perbaikan). Manusia yang tidak saja memperhatikan dirinya sendiri, tetapi juga mempertimbangkan nasib orang lain. Golongan muslih; seperti Umar bin Khattab Ra. adalah yang kita butuhkan hari-hari ini hingga beberapa hari ke depan, bahkan hari-hari seterusnya. Wallahu a’lam.

Artikel Menarik Lainnya Selain Wabah

One Comment

  1. Pingback: Kegalauan Millenial? Antara Stoisisme dan Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *