Judul             : Islam and Secularism
Penulis          : Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Penerbit        : ISTAC Kuala Lumpur
Tebal Buku   : 197 halaman
Tahun Terbit : 1993 (Cetakan Ke 2)

afi.unida.gontor.ac.id – Islam and Secularism adalah karya klasik, ia diterbitkan pertama kali pada tahun 1978 oleh Muslim Youth Movement of Malaysia (ABIM). Buku ini sekarang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk arab, Indonesia dan berbagai bahasa lain seperti Rusia, Urdu, Turki, dsb.

Di dalamnya Tan Sri Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas ibarat seorang dokter yang berusaha memandu pembaca untuk mendiagnosa dan menyelami sumber utama dari dilema yang sebenarnya tidak hanya dihadapi oleh Islam tapi juga kemanusiaan secara keseluruhan, itulah kenapa Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud menyebut karya ini dengan karya sejagat (universal), di mana tilikan cermat dari Prof. al-Attas di sana dapat diambil juga sebagai i’tibar bagi agama dan peradaban lain terutama Kristen-Barat.

Di awal buku ini penulis membuktikan bagaimana pengaruh dari gelombang liar yang bernama sekularisasi ini dapat melibas teologi Kristen di mana meskipun masih tampak dengan jasad yang sama namun semangat dan ruhnya telah berubah menjadi sekuler. Maka tidak aneh, para golongan teolog dan filsuf berusaha mendekonstruksi bangunan teologi Kristen bahkan menjustifikasinya bahwa sekularisasi adalah hasil sah dari ajaran teologi Kristen.

Sebagian dari mereka juga menegaskan yang mereka ilhami bukanlah sekularisme tapi sekularisasi karena itu harus dibedakan antara sekularisme dan sekularisasi, sekularisasi bukanlah sebuah ideologi karena itu tidak bisa disamakan dengan sekularisme yang identik dengan kristalisasi dan mengandung sebuah ideologi tertutup.

al-Attas pun dengan lihai menyanggah jika ideologi adalah sebuah aliran oleh suatu program filosofis yang bersandarkan dari worldview tertentu, maka sekularisasi juga demikian, yang mengandung ideologi keterbukaan sehingga sekularisasi pun dapat menjadi sekularisasionisme atau lebih tepatnya relativisme sekuler.

Yang jelas, entah gelombang ini berbentuk sekularisme atau sekularisasionisme (perbedaannya adalah jika sekularisasionisme membawa secara penuh tiga komponen integralnya yaitu penafikudusan alam semesta, penafisakralan politik dan penafian nilai-nilai mutlak, maka sekularisme tidak untuk yang terakhir karena ia membawa nilai tertentu dari ideologinya) keduanya jelas bertentangan dengan Islam. Inilah sebenarnya maksud sekularisme dari judul yang diambil buku ini yakni sebagai program filosofis sehingga telah mencakup berbagai ragam aliran pemikiran hasil dari worldview yang dianutnya.

Untuk melengkapi kajian kritis-komparatifnya, al-Attas selanjutnya membawakan kajian deskriptif-analitisnya mengenai Islam sebagai agama yang menjadi sumber etika dan moralitas, yakni Islam sebagai al-Din yang bisa direduksi ke dalam empat signifikasi, pertama keberhutangan, kedua ketundukan, ketiga undang-undang peradilan dan keempat kecenderungan alami.

Dalam kajian ini al-Attas telah memperkenalkan dimensi baru dalam tradisi intelektual Islam di mana beliau mencoba menggali argumennya melewati analisis semantik yang menjadi kekuatan dari bahasa arab itu sendiri sebagai bahasa alquran. Kajian semantik ini akhirnya membawa al-Attas pada kesimpulan penting bahwa ada kaitan erat antara konsep din (keyakinan individu), Madinah (komunitas perkotaan) hingga tamaddun (peradaban) sebagai manifestasi dari peran individu yang beriman dalam relasinya pada bentuk kehidupan kolektif-sosio kulturalnya.

Secara garis besar buku ‘Islam and Secularism’ berupaya menyorot dua dimensi krisis yang tengah melanda umat sekarang yakni eksternal yang berupa infiltrasi paham sekularisasi dalam pemikiran umat dan krisis internal yang berupa hilangnya adab di mana dalam siklusnya ia adalah hasil dari buah rusaknya paham ilmu yang telah tersusupi virus sekularisasi tadi, tidak berhenti sampai di sini proses ini pun selanjutnya membawa konsekuensi dengan munculnya para pemimpin dalam umat yang tidak saja mempunyai kapasitas secara intelektual bahkan juga spiritual, dan lebih mirisnya lagi dengan munculnya golongan lemah dipuncak rantai sosial maka keadaan tersebut justru akan semakin menjamin berterusan munculnya para generasi pemimpin yang semisalnya.

Penting diperhatikan, bahwa untuk dapat memutus lingkaran setan itu hal yang harus dilakukan menurut al-Attas tidaklah bisa serta merta hanya dengan mengatasi ilmu yang telah terkontaminasi tadi dengan Islamisasi. Penanganan yang jitu justru harus dimulai dari mengatasi hilangnya adab, hal demikian karena hanya dengan adablah ilmu yang benar itu dapat dicapai sehingga proses Islamisasi Ilmu bisa dilakukan.

Maka, Islamisasi sebagaimana yang digaungkan oleh al-Attas adalah berpusat pada tataran individual yang berupa transformasi adab yang disebut dengan ta’dib, dari situlah niscaya akan lahir insan-insan adabi sebagai representasi dari insan kamil yang menjadi soko guru dari peradaban Islam itu sendiri. Dalam mengamal-laksanakan gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer, al-Attas mencadangkannya kepada institusi pendidikan tinggi di mana ia adalah tempat paling strategis dan arkitektonik sebagai pusat pengembangan manusia menjadi insan-insan adabi yang berspesifikasi universal dan paripurna sebagaimana namanya ‘universitas’.

Namun kata al-Attas, meski bernama institusi, universitas sekarang masih banyak yang belum mencerminkan universalitasnya secara komprehensif kecuali hanya sebatas pembagian divisinya yang lintas disiplin sedangkan dalam keragaman dan pluralitasnya masih belum ada pusat dan prinsip penyatunya yang berfungsi untuk menegaskan identitas dan menjelaskan tujuan akhirnya sesuai dengan kerangka epistemologi Islam, hal itu terjadi karena kebanyakan dari institusi tadi hanya sekadar meniru model-model universitas di Barat, padahal dari segi kurikulum, pembagian divisi juga metodologi tidaklah bisa disamakan.       

Singkatnya, untuk bisa mengatasi tantangan dari luar kita harus memperbaiki diri dari dalam terlebih dahulu, ketika tubuh umat ini kuat maka tantangan luar tidak akan banyak berpengaruh. Islamisasi sejatinya adalah upaya kembali kapada kerangka epistemik dan pandangan hidup Islam yang melibatkan proses ganda berupa seleksi unsur-unsur asing yang negatif dan dilanjutkan dengan asimilasi dan adopsi unsur-unsur positif ketika berhadapan dengan realitas sosial di mana dalam kasus kontemporernya adalah Barat.

Dengan demikian, Islamisasi meski sekilas terlihat seperti proyek baru dan ambisius namun sejatinya ia sudah menjadi urat nadi dari peradaban Islam dalam mengedepankan setiap tantangan zaman yang silih datang berganti, seperti halnya  kasus yang terjadi pada kepulauan Melayu-Indonesia. Topik ini dijelaskan al-Attas pada apendiks di akhir buku. 

Ketika awal mula membaca buku ‘Islam and Secularism’ , mungkin pembaca akan menemukan beberapa kendala mengenai penyusunan bab dirasa kurang mengalir dan berkaitan secara lurus. Hal ini memang, karena pada asalnya beberapa bab merupakan monograf tersendiri.

Namun demikian hal ini sama sekali tidak mengurangi bobot keilmiahan dan gagasan-gagasan besar yang dijelaskan. Untuk melengkapi itu, pembaca sangat disarankan untuk dapat merujuk tulisan-tulisan lain dari kolega atau murid-murid beliau yang telah menjabarkan lebih jauh mengenai ide-ide al-Attas. Berbagai artikel di Jurnal Islamia yang diterbitkan oleh INSISTS Jakarta sejak tahun 2003-hingga sekarang mungkin bisa menjadi instrumen terekomendasi yang secara ekstensif telah digunakan untuk mendesiminasikan buah-buah pemikiran sang tokoh.

Seperti yang tertera di awal buku, al-Attas menujukannya secara khusus untuk kalangan muda terutama mereka yang mempunyai keprihatinan atas ihwal umat dan keilmiahan yang tinggi, maklum saja karena memang buku ‘Islam and Secularism’ bukan jenis buku populer (motivasi-pengembangan diri) seperti yang akhir-akhir ini banyak diminati mereka yang ingin sukses meniti karier keduniannya, sehingga untuk dapat menangkap gagasan-gagasan besar yang tertuang didalamnya butuh banyak mengerahkan pemikiran dan kontemplasi. Melihat betapa urgen dan mendesaknya pembahasan yang didiskusikan oleh sang professor bukanlah sesuatu yang berlebihan jika ia wajib dikonsumsi oleh kalangan mahasiswa dan akademisi muslim di perguruan tinggi, khususnya mereka yang mengambil jurusan Pengkajian Islam (Islamic Studies).

Oleh: Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darusalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *