Oleh: Rosyidatul Khoiriyah
Mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id – Kuhn melihat adanya kesalahan-kesalahan fundamental tentang image atau konsep ilmu yang telah dielaborasi oleh kaum filsafat ortodoks, sebuah konsep ilmu dengan mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari Empirisme dan Rasionalisme klasik.

Dalam teori Kuhn, faktor Sosiologis Historis serta Psikologis mendapat perhatian dan ikut berperan. Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah.

Dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktivitas ilmiah sesungguhnya, yang dalam perkembangan ilmu tersebut adalah secara revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasionalis dan empiris klasik.

Kuhn memberikan image atau konsep sains alternatif dalam outline yang ia gambarkan dalam beberapa stage, yaitu:

  1. Pra Paradigma
  2. Pra Science
  3. Paradigma Normal Science
  4. Anomali
  5. Krisis Revolusi
  6. Paradigma Baru
  7. Ekstra Ordinary Science
  8. Revolusi

Normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisasi untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangnya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki science, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental.

Teka-teki teoritis meliputi perencanaan dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penerapan status hukum. Sedangkan teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya.

Dalam tahap normal science ini terdapat tiga fokus bagi penelitian sains faktual, yaitu:

  1. Menentukan fakta penting
  2. Menyesuaikan fakta dengan teori
  3. Mengartikulasikan teori paradigma dengan memecahkan beberapa ambiguitasnya yang masih tersisa dan memungkinkan pemecahan masalah yang sebelumnya hanya menarik perhatian saja.

Ilmu Normal (normal science)

Kuhn membedakan adanya dua tahap atau periode dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik, pengumpulan fakta atau kegiatan penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang diterima umum.

Pada tahap pra-paradigmatik ini sejumlah aliran-aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan, salah satu sistem teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum, dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin memasuki periode ilmu normal atau sains normal (normal science).

Yang dimaksud Kuhn “normal science” adalah kegiatan penelitian yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian ilmiah (scientific achivements) dimasa lalu, yakni pencapaian-pencapaian yang komunitas atau masyarakat ilmiah bidang tertentu pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi landasan untuk praktik selanjutnya.

Kuhn mengatakan bahwa normal science memiliki dua ciri esensial:

  1. Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga mampu menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain dalam menjalankan kegiatan ilmiah.
  2. Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat berbagai masalah yang memerlukan penyelesaian oleh pemraktek ilmu dengan mengacu pada pencapaian-pencapaian itu.

Ilmu normal bekerja berdasarkan paradigma yang dianut yang berlaku. Karena itu pada dasarnya penelitian normal tidak dimaksudkan untuk pembaharuan besar, mempraktikkan paradigma tersebut.

Walaupun ilmu normal adalah kegiatan untuk menambah ilmu pengetahuan dalam bidang dan batasan-batasannya yang tertentu, namun dalam perjalanan kegiatannya dapat menimbulkan hasil yang tidak di harapkan.

Yaitu dapat terjadinya atau timbulnya penyimpangan, yang oleh Kuhn disebut anomali. Karena sesuai dengan sifatnya yang terbatas yang telah ditetapkan oleh paradigma, ilmu normal akan mendorong para ilmuwan pemrakteknya menyadari adanya anomali, yakni hal baru atau pertanyaan yang tidak tercover atau terliputi oleh kerangka paradigma yang bersangkutan. Adanya anomali merupakan persyaratan bagi penemuan baru, yang akhirnya dapat mengakibatkan perubahan paradigma.

Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya dua tahapan periode dalam setiap keilmuan, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik sejumlah pemikiran saling bersaing tetapi tidak satu pun memperoleh penerimaan secara umum. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam disiplin ilmu ini memasuki periode ilmu normal (normal science).

Kesimpulan Pandangan Kuhn tentang Perkembangan Ilmu (Open-ended)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa paradigma merupakan elemen primer dalam program sains atau ilmu pengetahuan. Seorang ilmuan selalu bekerja dengan paradigma tertentu, dan dari praktik itulah muncul teori-teori ilmiah baru dalam ilmu pengetahuan.

Melalui paradigma seorang ilmuwan dapat memecahkan masalah-masalah yang lahir dari kerangka ilmunya, sampai pada munculnya anomali yang tak dapat di selesaikan dengan paradigma yang telah ada dan menuntut untuk adanya revolusi paradigma baru terhadap ilmu tersebut.

Menurut Kuhn, ilmu dapat berkembang secara open-ended yaitu selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan. Kuhn menjadikan teori tentang ilmu pengetahuan lebih cocok dengan situasi sejarah dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktivitas ilmiah sesungguhnya. Menurutnya ilmu harus berkembang secara revolusioner bukan secara kumulatif sehingga faktor sosiologis, antropologis dan historis ikut berperan.

Paradigma membantu seseorang dalam merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus di jawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam mengapresiasikan jawaban yang diperoleh.

Kuhn berpendapat bahwa perkembangan ilmu juga membedakan adanya dua tahapan periode dalam setiap keilmuan, yakni periode pra-paradigmatik dan periode ilmu normal (normal science). Pada periode pra-paradigmatik sejumlah pemikiran saling bersaing tetapi tidak satu pun memperoleh penerimaan secara umum. Dengan terbentuknya paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam disiplin ilmu ini memasuki periode ilmu normal (normal science). Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *