afi.unida.gontor.ac.id – Stoisisme & Islam ; Tahun 2017 lalu, muncul sebuah survei unik yang diikuti oleh 3.634 responden. Survei yang terkenal dengan sebutan Survei Khawatir Nasional ini dilaksanakan secara daring dan disebarkan secara sukarela melalui platform media sosial. Dengan kata lain, hasil dari survey ini hanya mewakili responden yang berpartisipasi saja dan tidak bisa mewakili opini masyarakat umum.

Survey ini mengukur tingkat kekhawatiran generasi milenial (mereka yang lahir antara 1980-2000) terhadap beberapa aspek hidup seperti, studi, pekerjaan, hingga hubungan. Level khawatir mereka dinilai dengan skala 4 poin, yakni sangat tidak khawatir, tidak khawatir, sedikit khawatir, dan sangan khawatir.

Hasil dari survey ini cukup mencengangkan di mana ada kurang lebih 63% (hampir dua dari tiga responden) mengaku merasa “khawatir” dengan hidupnya secara keseluruhan. Diantara hal yang mereka khawatirkan adalah:

1.         Bagi pelajar yang duduk di bangku kuliah, 53%-nya merasa khawatir dengan pendidikan mereka. Beberapa penyebab kekhawatiran tersebut seperti tugas yang tidak berjalan lancer, motivasi belajar yang menurun, dan nilai yang kurang memuaskan.

2.         Bagi responden yang sedang dalam hubungan, dua kekhawatiran utamanya adalah:

a)         Hubungan yang kian tidak jelas kepastiannya.

b)        Hubungan yang sudah tidak menarik lagi.

3.         Bagi mereka yang belum memiliki pasangan alias single, dua hal utama yang membuat mereka khawatir adalah:

a)         Khawatir tidak akan pernah mendapatkan pasangan.

b)        Khawatir dengan umur yang tak muda lagi.

4.         Bagi para orang tua, sebanyak 53%-nya mengaku merasa khawatir terhadap beberapa aspek di bawah ini:

a)         Biaya sekolah anak.

b)        Anak sakit.

c)         Biaya kesehatan anak.

Survei singkat ini menunjukkan jika ternyata ada lebih banyak orang yang merasa gelisah terhadap beberapa aspek dalam kehidupan. Hal ini didukung oleh hasil survey di atas dimana dua dari tiga responden merasa khawatir secara umum.

Jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, tak dapat dipungkiri jika seseorang ternyata seringkali marah, mengeluh, kesal, khawatir terhadap hal-hal yang sebenarnya bersifat kecil dan remeh. Contohnya, ada yang kesal karena sering ditanya kapan nikah. Ada yang sebal karena dikomentari badannya bertambah gendut. Ada yang tersinggung jika ditanya kapan mau menambah jumlah momongan. Ada juga yang akhirnya sampai berpikiran bahwa Tuhan tidak adil, merasa sudah berusaha dan berdo’a maskimal, tapi jodoh tak kunjung datang. Beberapa contoh tersebut mengindikasikan bahwa seseorang sangat mudah sekali dibuat tidak nyaman oleh hal yang sejatinya sepele.

Sebenarnya, hal-hal remeh yang dapat memunculkan emosi negative seseorang ini sudah dibahas oleh mereka yang hidup sekitar 2000 tahun silam. Bahkan, anjuran untuk tidak menggerutu ketika menemukan sebuah timun yang rasanya pahit pun telah menjadi bahasan diskusi dua abad lalu oleh seorang Kaisar Romawi, Marcus Aurelius.

Terkait dengan fenomena ini, ada sebuah madzhab filsafat Yunani-Romawi purba yang usianya lebih dari dua abad, namun masih relevan dengan realitas yang telah disebutkan di atas. Filsafat ini bernama Stoisisme. Penganut filsafat ini dinamakan kaum Stoa. Adapun tujuan utama Stoisisme adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali.

Menariknya, salah satu ajaran dasar utama Stoisisme adalah bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, “in accordance with nature.” Dalam konteks ini, nature dimaknai sebagai rasio atau akal. Jadi, manusia yang hidup selaras dengan alam adalah mereka yang hidup sesuai desainnya, yakni makhluk yang senantiasa menggunakan akal pikir dalam hidupnya.

Berkaitan dengan hasil survey di atas dimana ternyata banyak sekali orang-orang yang merasa diselimuti rasa kekhawatiran berlebihan, seorang filsuf Stoa, Epictetus, dalam bukunya Enchiridion berkata, “it is not things that trouble us, but our judgment about things.” Artinya kurang lebih seperti ini, bukan suatu hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tetapi persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut. Dengan kata lain, Epictetus mengungkapkan bahwa sumber utama dari segala keresahan itu adalah apa yang ada dalam pikiran manusia, bukan hal atau peristiwa itu sendiri. Senada dalam hal ini, filsuf Seneca dalam bukunya, Letters, berpendapat, “we suffer more in imagination than in reality.” Kita menderita lebih dalam ranah imajinasi, daripada dalam kenyataan sesungguhnya.”

baca juga WABAH DAN UMAR BIN KHATTAB YANG MUSLIH

Filsafat Stoisisme sangat mengandalkan pikiran atau nalar untuk mengatasi batin yang sakit. Kaum Stoa berkeyakinan bahwa pikiran yang positif akan menghasilkan kebahagiaan dalam ketenangan batin. Pikiran positif pada hakekatnya akan membebaskan seseorang dari emosi negative yang lahir dari error of reasoning (kesalahan bernalar).

Dari pernyataan di atas, tentu sangatlah jelas jika Filsafat Stoisisme menggunakan kekuatan pikir yang positif dan baik sebagai satu-satunya alat untuk melahirkan ketenangan jiwa. Namun, untuk memperoleh batin yang damai, apakah cukup untuk mengandalkan rasio saja? Lalu, bagaimana fenomena ini jika dilihat dari perspektif Islam?

Sama halnya dengan ajaran Stoisisme, Islam juga sangat menghargai peran akal. Tak hanya sebagai salah satu langkah untuk mendapatkan ketenangan jiwa, akal dalam agama Islam juga sangat berperan dalam menambah level atau kada keimananan seseorang melaui serangkaian proses reasoning dengan memerhatikan alam dan gejala-gejala yang ada.

baca juga UNIDA Gontor Teken MoU dengan School for International Training Amerika

Menariknya adalah, jika Stoisisme hanya menyandarkan pada kekuatan akal saja, yang notabenenya sangat rentan terhadap subjektifitas dan logical fallacy (cacat logika), maka Islam menambahkan satu cara lagi sebagai pelengkap, yakni dengan zikrullah atau mengingat Allah. Hal ini cukup beralasan mengingat kemampuan otak manusia sangatlah terbatas, maka ia pun harus didukung dengan serangkaian proses spiritual untuk mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta melalui zikir. Dengan zikir yang benar, hati menjadi tenang, terhindar dari berbagai penyakit hati.

Allah swt berfirman dalam surat Ar Ra’du: 28, yang isinya

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Allah juga berfirman dalam QS Ali Imran: 190-191 yang menyuratkan istilah ulil albab.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾

Dalam firman Allah tersebut disebutkan jika ciri-ciri seseorang yang disebut Ulil Albab itu ada dua. Ciri yang pertama adalah mereka yang senantiasa ingat kepada Allah, baik dalam keadaan duduk, berdiri, maupun berbaring. Adapun ciri yang kedua adalah mereka yang senantiasa mengkaji atau menggunakan akalnya untuk merenungi penciptaan langit dan bumi

Dengan demikian, tegaslah kiranya bahwa Alquran menempatkan olah pikir dan zikir sebagai dua dimensi integral, yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan Filsafat Stoisisme yang hanya mengandalkan peran akal saja.

Keseimbangan antara olah zikir dan pikir tersebut pada akhirnya akan mengantarkan manusia kepada dua hal, yakni kebenaran hakiki tentang ke-Maha-Kuasa-an Allah SWT dan kebenaran relative tentang ilmu pengetahuan. Tak hanya itu, berdasarkan firman-Nya, kombinasi zikir dan pikir yang apik dapat menjamin hati seseorang menjadi tenang dan menjauhkannya dari penyakit hati seperti, rasa sedih yang berlebihan, galau, khawatir, cemas, dan lainnya).

Untuk menutup tulisan singkat ini, kebiasaan Imam Syafi’I untuk memperoleh keseimbangan hidup patut dijadikan contoh. Keseimbangan antara olah raga, zikir, dan pikir diimplementasikan dengan cara membagi aktivitas secara proporsional. Beliau membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian, yaitu sepertiga malam untuk istirahat, sepertiganya lagi untuk shalat tahajud, dan sepertiga sisanya untuk belajar. Wallahu a’lam bishawab.

Pen: Wildi Aldila, M.A – Dosen Program Studi Hubungan Internasional UNIDA Gontor
Ed : Nabila Huringiin, M.Ag – Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *