afi.unida.gontor.ac.id – Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang sangat dinanti-nantikan oleh Umat Islam diberbagai belahan dunia. Wajar, karena memang Allah telah mengistimewakan bulan ini diantara bulan yang lain, dan tertuang di beberapa ayat Al-Qur’an tentang keistimewaannya, pun demikian dengan apa yang disampaikan Rasulullah dalam berbagai haditsnya. Namun, kemunculan Covid- 19 menggiring opini global bahwa Ramadhan kali ini, tidak seperti Ramadhan pada bulan-bulan sebelumnya. Benarkah demikian?

Isu-isu tanpa ilmu pun mulai bermunculan, rasionalitas manusia didesak untuk mencampur adukkan nafsu belaka demi mendapat tujuan duniawi. Dewasa ini, segelintir orang mengusulkan agar puasa diganti fidyah, karena Covid-19 mampu menyerang siapapun, bahkan orang yang berpuasa. Tanpa menyebutkan subjek tersebut, ternyata fakta ini ditolak oleh World Health Organization ( WHO ), dalam interim guidance yang dirilis 15 April 2020. WHO sebagai badan kesehatan dunia menyatakan bahwa orang yang sehat diwajibkan berpuasa seperti tahun-tahun sebelumnya, adapun bagi orang yang terpapar virus, maupun orang yang sakit memang sudah ada lisensi agama sebagai rukhsah bagi mereka untuk tidak berpuasa, namun menggantinya di kemudian hari.

Menyikapi keadaan seperti ini, seyogyanya umat islam perlu mengetahui eksistensi dan nilai esensi yang terkandung dalam ibadah puasa Ramadhan. Dengan keselarasan tersebut, seorang mukmin-muslim diharapkan sanggup mencapai derajat shoum khusus al khusus dimana ia akan mampu menjaga anggota tubuh, dan juga hati dari maksiat. Sesuai apa yang telah Allah firmankan dalam Al-Qur’an, pencapaian terbesar bagi manusia setelah  melewati bulan Ramadhan, adalah mendapatkan keuntungan yang besar yaitu predikat al-muttaqin.

Secara awam, kalimat puasa atau dalam Bahasa arabnya shoum merupakan kegiatan menahan untuk tidak makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya selama kurang lebih 12 – 18 jam. Sebagai perbandingan, umat-umat terdahulu pun juga telah melaksanakan ibadah puasa. Lebih-lebih Nabi Adam, pun telah Allah perintahkan untuk berpuasa dari memakan buah Khuldi. Dilanjutkan setelahnya pada peradaban China kuno yang melakukan puasa dalam rangka menghadapi upacara pengorbanan pada malam musim dingin saat Tuhan turun ke bumi (Solstis).

Dalam Islam, tentu Ibadah Puasa sama sekali berbeda dengan apa yang telah dijalankan umat-umat terdahulu. Makna ibadah puasa bukan hanya sebatas memenuhi rukun dan syaratnya seperti yang telah diketahui banyak orang, Namun, tentu lebih bermakna. Ibadah puasa merupakan ibadah yang istimewa disisi Allah jika dibandingkan dengan amalan Sholeh lainnya, dan Allah sendiri yang akan memberikan ganjaranNya secara langsung ( Hadits Qudsi dalam Shohih Bukhari 7/226 ). Menjalankan ibadah puasa dan amalan-amalan sholeh di bulan Ramadhan bagi seorang muslim haruslah dilandasi oleh Keimanan kepada Allah dan Ikhlas beribadah kepadaNya. Sebagaimana yang telah disabdakan Nabi, setidaknya ada dua keutamaan yang akan didapat bagi mereka yang menjalankan ibadah Puasa ini dengan Iman dan Ikhlas, pertama Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu ( Shahih Bukhari 38/1901 ). Kedua, Sebagai perisai yang mampu menjaga manusia dari perbuatan keji dan munkar dan mampu menghilangkan nafsu hewani manusia, sehingga dengannya manusia mampu menyucikan diri ( tazkiyatun nafs ).

Menjawab pertanyaan bahwa Ramadhan kali ini sebagai tantangan umat, tentu tidak sepenuhnya benar. Kesedihan dan keresahan umat muslim diberbagai daerah maklum adanya, karena hal-hal yang bersifat dzahir semisal sholat berjamaah di masjid, tadarrus Al-Qur’an bersama, Kajian-kajian Islami selama Ramadhan dibatasi bahkan dilarang dengan pertimbangan dar u al- mafasid. Dibalik pandemic yang melanda dunia saat ini, seorang mukmin-muslim jelas tidak boleh menjadikan keadaan sebagai alasan untuk tidak beribadah dan beramal selama Ramadhan tahun ini. Ditiadakannya ibadah Sholat Taraweh di beberapa masjid bukan lantas menjadi dalih tidak sholat taraweh berjamaah, atau bahkan mengurangi rasa syukur kita kepada Allah. Kembali kepada esensi ibadah bulan Ramadhan, semua muslim yang sedang menjalani lockdown, agar berusaha membawa antusiasme Ramadhan pada sanak keluarga di rumah masing-masing. Tentu banyak cara yang bisa dilakukan, mendengarkan kajian secara online sampai sholat berjamaah di rumah masing-masing sebagai contoh konkretnya. Menjadikan setiap rumah dari masing-masing individu sebagai tempat ibadah bagi keluarganya, adalah hal indah yang mungkin belum pernah terlaksana, dan tentu Allah akan tetap memberikan ganjaran yang setimpal bagi mereka yang telah memenuhi 2 unsur, Iman dan Ikhlas lillahi ta’ala.

Isolasi di rumah terkhusus dalam Ramadhan ini perlu digaungkan untuk menjadi sebuah Rahmat ketimbang musibah. Ashabul Kahfi, Nabi Yusuf, Nabi Yunus, bahkan Nabi Muhammad dirasa cukup menjadi kaca perbandingan bagaimana isolasi dengan berbagai bentuknya mampu mendatakangkan ketaqwaan, dan keimanan yang semakin meningkat. Tentu, dengan cara selalu merenungi amalan-amalan dan tingkat kualitas niat kehambaan masing-masing individu selama hidupnya. Ramadhan kali ini, akan mampu memberi banyak peluang bagi muslim terhindar dari segala sesuatu yang mampu mengancam hatinya yang masih kokoh menjadikan hiruk-pikuk dunia sebagai prioritas dengan berbagai macam kesibukannya di tahun-tahun sebelumnya. Puncaknya adalah, Ramadhan ini dimaksudkan agar muslim mampu berdzikir, beristighfar, dan bermunajat pada Allah lebih intens.

Sebagai kesimpulan, muhasabah terhadap diri sendiri, dalam keadaan Ramadhan di tengah pandemic ini merupakan hal terpenting. Merenungkan segala perbuatan yang telah setiap individu lakukan, merenungi kembali hakikat dari Ramadhan, dan puncaknya merenungi hakikat menjadi manusia sebagai Hamba Allah. Maka tak patut keluar dari lisan seorang muslim kecuali kesyukuran atas nikmat datangnya Ramadhan. Kesyukuran yang tentu diimbangi dengan menjadikan antusiasme Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terbaik sepanjang hidup. Wallahu A’lam Bish Showab.

Sumber- Sumber :
Hamid Fahmi Zarkasy, Minhaj : Berislam, dari Ritual hingga Intelektual, Jakarta : INSISTS, 2020
One Path Network
World Health Organization ( Safe Ramadhan Practices In the Context of COVID 19 , Interim guidance, dirilis pada 15 April 2020 )

Ditulis oleh : Ahmad Farkhan Abdau/ AFI 6/ Kampus Robithah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *