afi.unida.gontor.ac.id. Dilema Pandemi di penghujung tahun 2019 hingga kini, hiruk pikuk suasana Covid-19 merajalela. Berbagai pihak merasakan dampak dan perubahan-perubahan di berbagai macam bidang, baik sosial, ekonomi, pendidikan hingga praktik-praktik ritual keagamaan. Pondok Modern Darussalam baik pusat ataupun cabang, santri maupun mahasantri, walisantri maupun kyai merasakan dampak dari Covid-19 ini.

Lantas, bagaimanakah fenomena yang tergambarkan mengenai Covid-19 ini?

Fenomena para calon wali santri
Anak-anak terlalu dini untuk memahami, bahwa rasa yang dialami orangtua ketika melepaskan anaknya untuk pergi jauh berkali-kali lebih sakit dan sedih daripada perasaan yang dialami si anak. Orangtua manapun akan merasa tersayat dan perih jika anak jauh dari pandangan mereka, sekalipun anak itu dalam keadaan baik-baik saja. Itu fitrah yang diberikan Allah kepada hati para orangtua, yaitu kasih sayang, kepeduliaan hingga manisnya kerinduan. Penerimaan calon pelajar PMDG tahun ini banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, wali santri “dipaksa” untuk sedikit lebih tegar melepaskan anak-anaknya jauh dari pandangan demi ibadah lillahi ta’ala yang disebut dengan menuntut ilmu. Bukan hal yang mudah, akan tetapi keadaan memaksa, instruksi bapak pimpinan harus ditaati demi kebaikan bersama.

Fenomena para walisantri lama
Menjadi Santri Gontor itu tidak mudah, begitu juga menjadi Wali Santri. Bukan hanya Santri yang harus manut kyai, tapi wali santripun sam’an wa tho’atan dengan dawuh pak kyai. Karena Gontor menerima prinsip keterbukaan tanpa intervensi. Fenomena covid-19 menjadikan para walisantri cukup bertahan dan berjuang lebih dari biasanya, baik dari sisi emosional, spiritual, mental, bahkan material. Walisantri harus menyiapkan porsi lebih besar perjuangan secara lahiriah dan bathiniyah dalam perpulangan santri ala-ala covid-19 ini.

Terlepas dari itu, akan selalu ada hal-hal menyenangkan karena bisa berkumpul dengan keluarga full team dengan waktu yang lebih panjang dari biasanya. Tidak sedikit postingan-postingan tersebar akan update keadaan walisantri dari berbagai belahan daerah, saling mendukung dan menguatkan dalam keadaan senang ataupun sulit. Ketika ada postingan tentang walisanti yang terkena PHK, maka wali-walisantri lain menghimpun bantuan bahkan menawar-nawarkan pekerjaan. Bagaimanapun pandemi ini memberikan kita banyak pelajaran.

Fenomena Calon Pelajar PMDG versi Covid-19
Jika diberi kesempatan menengok pemandangan di Gontor saat penerimaan tahun ini, maka itu adalah salah satu dari sekian banyak pemandangan yang menggetarkan hati. Dimana anak-anak belajar pagi dan petang, bersahut-sahutan menghafal doa-doa, surat-surat pendek, saling mengkoreksi tulisan berbahasa arab dengan bimbingan kelas enam dan ustadzah musyrifah. Bulan sudah tampak bersinar, angin pun semilir lembut menghiasi malam2 yang biasa mereka gunakan untuk sekedar rebahan, main game atau kadang berselancar di sosial media. Kali ini mereka dipaksa untuk menjadi “lebih baik” dengan hati yang ringan dan tidak seperti paksaan, karena mereka menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Ikhlas beribadah dalam bentuk tholabul ilm dan birrul walidain.

Fenomena para alumni dan segenap anggota IKPM
Para santri dulu pernah dididik dengan berbagai macam hikmah dan nilai-nilai pondok yang sering digaungkan, dibaca, ditulis bahkan diulang-ulang berkali-kali. Salah satunya bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. Hal ini menancap erat hingga mereka alumni, dimanapun para alumni ditugaskan, mereka akan berjuang didalamnya. Seperti halnya saat ini, covid-19 menjadikan para wali santri tidak diperkenankan mengantar para santri. Akhirnya, para alumni dan IKPM mengawal keberangkatan para anak-anak hingga tujuan. Persiapan demi persiapan dilakukan dengan sepenuh kehati-hatian. Karena mengantarkan para santri, tidak hanya yang penting sampai tujuan akan tetapi sebuah amanah dari wali santri, pondok, khususnya dari bapak kyai. Alumni tidak hanya dilibatkan dalam mengantarkan para santri akan tetapi juga membimbing para calon santriwati dalam persiapan-persiapan sebelum pemberangkatan hingga hal-hal yang harus diperhatikan.

Fenomena para Alumni Baru 62020
Sekilas nampak tidak berbeda di tahun ini, para alumni PMDG tahun ini terlihat tetap ceria dan senang ketika malam tasyakuran menjelang yudisium. Tidak ada yang berbeda secara kasat mata, mereka tetap senang, bahagia dan diliputi rasa syukur; akan tetapi ada hal-hal yang cukup menjadikan tahun kelulusan ini dikenal seumur hidup. Moment dimana para walisantri seharusnya menyaksikan kelulusan anaknya, tapi kali ini kelulusan ini harus tidak diadakan bersama para wali. Apakah menyedihkan? Cukup menyedihkan, tapi bukan hal yang besar dibandingkan kekhawatiran jika dipaksakan wali santri untuk tetap datang.

Para alumni kita tahun ini juga diberikan pengalaman yang cukup berbeda, tidak ada rihlah iqtisodiyah mengunjungi beberapa kota untuk mempelajari banyak hal tentang pendindustrian dan kewirausahawan. Tapi tidak mengapa, para alumni kita lebih mengoptimalkan kesempatan untuk belajar di pondok dan mempelajari banyak hal. Karena masa depan tidak akan pernah tahu, bisa jadi diantara mereka akan ada yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi pondok dalam jangka waktu yang sangat lama seperti beberapa alumni-alumni sebelumnya.

Fenomena kelas Lima, para mukimat di Pondok
Tahun ini liburan lebih “lama” dari biasanya, maka jangka waktu mukim pun lebih lama dari biasanya. Biasanya mereka menghabiskan bulan Ramadhan untuk mukim di pondok.., kali ini ditambah bulan syawal mereka habiskan untuk “ngrumat” pondok. Pondok mereka rawat, diramaikan dan dimakmurkan selama santri-santri lain meliburkan diri. Seperti tidak ada perubahan besar yang signifikan, tapi hakikatnya mereka pun mengalami hal-hal yang tidak pernah ada di tahun-tahun sebelumnya. Membuat acara-acara internal antar kelas lima, lomba per rayon konsulat, dll; acara-acara ini berlanjut hingga mereka naik ke kelas enam. Pasca yudisium mereka disibukkan dengan persiapan panggung gembira, pembentukan panitia penerimaan calon pelajar, kursus-kursus minat bakat santri baik dalam ranah akademis dan non-akademis, hingga hal-hal yang sifatnya personal, seperti sekedar berolahraga bersama atau menikmati suasana pondok ketika liburan.

Fenomena Wisudawan dan Wisudawati UNIDA Gontor
Simpang siur berita dan maklumat-maklumat selama proses penulisan skripsi, mulai dari bimbingan skripsi online hingga sidang skripsi online. Berbagai macam teknisi pelaksanaan proses skripsi, pada dasarnya tiap pengelola program studi mengusahakan yang terbaik agar melalui proses skripsi ala covid-19 ini dengan baik dan tidak menimbulkan masalah lebih lanjut. Para Mahasiswa/i semester akhir ini memilih untuk tinggal di kampus hingga mereka menyelesaikan prosesi skripsi dengan baik dan sempurna, walaupun tidak akan pernah ada tugas akhir yang sempurna; even the best can be improved.

Semua pihak merasakan dampak dari Covid-19 ini, santri, walisantri, alumni bahkan kyai. Serba-serbi munculnya kebijakan sana dan sini, menyesuaikan ini dan itu, check kesehatan, tes swab, surat ini dan itu, karantina mandiri hingga fenomena liburan 70 hari, semua pihak merasakan dampaknya. Fenomena Covid-19 ini menjadi salah satu dari sekian banyak ujian, peringatan sekaligus nikmat dari Maha Kuasa kepada para hamba-hambaNya. Hal ini tidak akan mudah terlewat begitu saja, akan tetapi Allah tidak akan pernah membenani hambaNya melebihi batas kemampuanNya. Semoga keadaan ini lekas membaik sekaligus semakin memperbaiki kehidupan umat manusia

Oleh: Nabila Huringiin, M.Ag.
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *