afi.unida.gontor.ac.id. Al-Attas mengatakan masalah umat saat ini adalah (the loss of adab) yaitu kehilangan adab, kaum Muslimin telah kehilangan adab. Kehilangan adab disini maksudnya kehilangan identitas sebagai seorang muslim. Identitas ilmu-ilmu keislaman dan identitas sebagai seorang Muslim. Ilmu pengetahuan di zaman globalisasi semakin jauh meninggalkan Tuhan. Globalisasi (westernisasi) yang dibawa Barat memuat pandangan hidup sekuler (anti agama). Sistem yang berlaku sangat positivistik, menafikan agama dan nilai ketuhanan dalam kegiatan ilmu. Inti pandangan hidup sekuler atau anti agama adalah, dikotomi ilmu, anti otoritas, humanisme, relativisme, desakralisasi, dan nihilisme. Ilmu yang terselimuti pandangan demikian disebut ilmu yang sekuler. Sehingga melahirkan paradigma pendidikan yang dikotomis, menafikan nilai ketuhanan dalam ilmu pengetahuan dan cenderung materialis.

Fakta pengajaran ilmu pengetahuan di sekolah, sistem pendidikan saat ini yang masih dominan dengan sistem sekuler yaitu pendidikan anti agama, saat ini bukan lagi benar atau salah yang menjadi suatu patokan akan tetapi siap yang menjadi otoritas tertinggi itulah yang paling benar dan mirisnya lagi sistem pendidikan saat ini tidak lagi mengajarkan bagaimana untuk menghadapi realitas kehidupan yang jangka panjang, akan tetapi hanya sekedar mengajarkan bagaimana menjawab pertanyaan dan mendapatkan nilai yang besar, ketika orang tidak lagi berpatokan dengan wahyu maka orang tersebut hanya akan menghayal menggunakan akal seperti penemuan teori nenek moyang kita adalah kera dan ini salah, sejarah manusia yang sesungguhnya adalah Nabi Adam karena Nabi Adam sejatinya adalah manusia dan bukan bangsa keren yang berevolusi sebagaimana yang telah disampaikan oleh para ulama terdahulu.

Model Pendidikan Barat dan Islam

Ilmu-ilmu produk ilmuan Barat menimbulkan persoalan pelik yang tidak menguntungkan bagi pandangan Muslim. Persoalan utamanya adalah pergeseran paradigma Ilmu Epistemologi yang digunakan dalam proses mendapatkan ilmu adalah Epistemologi rasionalis-empiris membuang dimensi metafisik. Al-Attas menyebut lima poin yang menjiwai budaya keilmuan barat. Yaitu mengandalkan akal untuk membimbing kehidupan manusia, menggunakan pendekatan dikotomis terhadap realita kebenaran, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler atau anti agama yang cenderung berpaham humanisme dan menjadikan tragedi sebagai faktor yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Dengan pendekatan ini, ilmuwan dipaksa untuk tidak memasukkan unsur-unsur metafisik atau penafsiran-penafsiran agama. Sehingga dalam hasil kajian ilmiah, ilmu pengetahuan tidak boleh bertemu dengan penafsiran agama.

Pentingnya untuk membangun pendidikan yang sesuai dengan ajaran Rasulullah s.a.w. Seperti halnya konsep pendidikan Rasulullah yang mendirikan madrasah Darul Arqom, di tempat ini lah Rasulullah mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan kepada para sahabat pada awal mula kerasulan untuk mengarahkan para manusia menganggap bahwa Allah adalah pusat segalanya dan menyampaikan bahwa manusia itu tidak bisa dibeli dengan materi bukan seperti hewan dan lain sebagainya.

Sumber utama pendidikan Islam ini bukanlah seperti pendidikan di zaman modern saat ini, tetapi pendidikan yang bercampur dengan pemikiran politik, ekonomi, sosial, sejarah dan peradaban yang keseluruhannya akan membentuk kerangka umum ideologi Islam.  Dengan kata lain, pemikiran pendidikan Islam dilihat dari segi al-Qur’an dan Sunnah, tidaklah muncul sebagai pemikiran pendidikan yang terputus sanadnya, tetapi suatu pemikiran yang hidup dinamis, berada dalam kerangka paradigma umum bagi masyarakat seperti yang dikehendaki oleh Islam, dari sini asas pendidikan Islam yang kita lihat di dalam al-Qur’an dan Sunnah mendapatkan nilai ilmiahnya.

Paham keduniawian yaitu paham sekuler yang berhenti pada aspek materi, tidak diperlukan hubungan jiwa dengan tuhan dan tidak mempercayai adanya wahyu itu semua timbul dari sejarah dan bukan wahyu, ciri ilmu sekuler itu seperti ilmu untuk ilmu, politik untuk politik dan berbeda dengan umat islam karena hakikat ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu untuk beribadah dari sinilah terlihat bagaimana perbedaan cara pandang antara orang sekuler dan umat Islam, dan inilah yang menjadi problem pendidikan Islam saat ini karena sedikit demi sedikit terbawa oleh paham sekuler yang anti agama. Sehingga perlunya pendidikan Islam untuk menemukan identitasnya kembali yang berdasarkan wahyu Allah, sebagai dasar dan asas utamanya dalam pendidikan.

Nawang Lukman S.Ag.
Mahasiswa Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *