afi.unida.gontor.ac.id-Peradaban itu hasil dari kerja-kerja kolektif yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang hidup bersama yang menciptakan kerukunan dan ketenangan, sehingga bisa membangun sarana-sarana untuk kepentingan kolektif. Peradaban adalah karya-karya dan produk-produk yang diciptakan oleh masyarakat di suatu negara seperti, karya budaya , karya ilmiah, dan dengan faktor keilmuan inilah sebenarnya yang melahirkan aktivitas sosial, politik, ekonomi, dan aktivitas kultur lainya. Dengan kata lain, kerja-kerja intelektual dan keilmuan anggota masyarakat sebenarnya yang melahirkan tumbuh kembangnya suatu peradaban, menurut “Will Durant” rukun peradaban terbagi menjadi empat: Pertama, tatanan ekonomi, Kedua, tatanan politik, yang mana organisasi politik berbentuk negara, Ketiga, tradisi moral nilai-nilai kebaikan dan keburukan dan dianut dan dipatuhi oleh masyarakat tersebut, Keempat, upaya-upaya ilmiah dan juga upaya untuk mengembangkan kebudayaan masyarakat. Kebudayaan itu akan ada ketika masyarakatnya sudah tertata rapi dan hidup tenteram, peradaban tidak akan mulai kalau masih ada pertikaian di antara masyarakat.

Apa Pendapat Barat Terhadap Islam?

Menurut Barat, Islam itu tidak hanya agama tapi sebuah peradaban, masuk kepada peradaban Barat yang terdiri dari bangsa inggris, prancis, Spanyol dan negara-negara lainya, menurut para ilmuan dari kalangan mereka ada dua kekuatan yang saling menarik, yaitu warisan tradisi romawi dan kekuatan agama yang tidak bisa bersatu, terjadinya penjajahan dan kolonialisasi yang telah menjajah negara di Afrika dan di Asia, oleh karena itu negara sekarang tidak ada yang belum terjajah oleh Barat tanpa terkecuali, khususnya ideologi Barat yang sudah meluas masuk ke negara-negara dan menjadi paham sehingga Umat Islam dituntut untuk memahami peradaban barat, karena secara sadar atau tidak, terdapat di lingkungan kita, negara kita, keluarga kita, bahkan ada di dalam pola pikir kita dan ini nyata, dan yang sedang kita hadapi saat ini yaitu pola pikir yang kebaratan seolah-oleh menganggap kalau mau maju harus mengikuti pola pikir peradaban Barat, seperti halnya Australia, menganggap negara mereka adalah bagian dari peradaban Barat, karena peradaban Barat itu bukan berdasarkan letak geografisnya akan tetapi dilihat dari bagaimana struktur dan nilai-nilai yang terdapat di daerah tersebut, adanya ketegangan dalam peradaban Barat itu sendiri, muncul dari ketegangan yang saling menarik antara pengajaran rasionalitas dan pengajaran tentang dogma agama.

Bagaiamana Barat bisa berkembang?

Corak peradaban Barat yang gemar berdebat dan suka menyanggah serta mendongkrak dan memaksa untuk bisa maju, selalu ingin mencari tahu dan selalu bertanya, oleh sebab itu, Eugene Myers dengan tegas menyimpulkan bahwa salah satu faktor terpenting kebangkitan peradaban Barat adalah penerjemahan karya-karya cendekiawan Muslim. dari sinilah perlunya umat Islam harus membaca, berdiskusi dan menulis untuk menyimpulkan peradaban Barat yang berbahaya dan mengambil kembali karya-karya cendekiawan Muslim yang telah dicuri, sebagaimana anggapan seorang arsitektur semakin tinggi bangunan maka semakin dalam juga pondasinya, begitu juga dengan peradaban, sekarang ini tidak ada bangsa-bangsa di dunia yang kulitnya hitam dan rambutnya keriting yang tidak meniru gaya  hidup Barat, gaya berbicara, dan kebiasaan  orang  Korea sekarang ini,  hadiah ulang tahunya adalah operasi plastik agar mirip dengan orang bule yang hidungnya mancung, bibirnya indah dan lain sebagainya, kalau kita mengetahui pondasi kehidupan Barat itu adalah rasionalisme, emperisme, humanisme, dan isme-isme yang lainya, dan yang terlihat dari peradaban barat saat ini, seperti di media di CNN seperti kontes kecantikan, kontes menyanyi, dan audisi ala-ala kebudayaan Barat yang tidak terlihat itu adalah nilai-nilai budaya, norma sosial, kepercayaan dan juga cara pandang, norma itu adalah kesepakatan mengenai salah atau benar dan baik atau buruk dan ini masuk kepada sebuah paham yang tidak bisa terlihat dengan  mata langsung akan tetapi harus ada pembelajaran lebih mendalam dan kritis.

Kata Spengler, orang Barat yang menguasai peradabannya sendiri adalah orang yang sombong takabur, seperti yang diceritakan di mitologi Yunani kuno karena orang Barat tidak mempercayai adanya kehidupan setelah mati, kehidupan Barat sepenuhnya adalah peradaban yang besar tetapi tragis. “kenapa kita sekarang berbicara tentang Barat, karena sekarang orang-orang berusaha untuk mengikuti peradaban barat”, yang menjadi prestasi peradaban Barat adalah rasionalisme, dari paham ini muncullah ilmu-ilmu yang baru untuk kemajuan suatu bangsa, liberalisme yang menciptakan negara maju dengan dalih setiap masyarakat dianggap sama setara dan mempunyai hak yang sama, ada pendeta di Amerika Violen Crime,ada doktrin bahwa semakin majunya umat Islam maka harus mengikuti peradaban barat. Bagaimana dengan umat Islam menyikapi peradaban Barat, Al-attas pada tahun (1978) ada dua persoalan yang dihadapi umat Islam, Pertama, persoalan dari luar, kita sedang di gempur dengan film Barat, film tentang budaya Barat, film Korea yang mempunyai kultur Barat, Kedua, persoalan dari dalam, yaitu adalah persoalan epistemologi, kehilangan adab (loss of adab) yaitu kehilanggan identitas, dalam keilmuan Islam dan banyaknya pemimpin-pemimpin palsu, akal pikiran umat Islam itu dirusak dengan paham rasionalistik yaitu paham di mana ketika segala sesuatu dapat di tanggap oleh akal maka itu benar dan dipaksakan menjadi suatu yang benar tanpa ada landasan atau patokan mengenai baik dan benar selama dapat diterima oleh akal maka itu benar.

Lantas Apa yang Menjadi Tantangan Umat Islam Terhadap Peradaban Barat?

Salah satu persoalan yang sedang membelenggu umat Islam sekarang adalah sistem ekonomi seperti sistem perbankan yang konvensional, terus menggempur umat Islam, karena peradaban Islam menurut Barat adalah peradaban yang sangat berbahaya apabila bisa bangkit dan berkembang. Al-Attas dalam buku Islam and Secularism, bahwa pertentangan ini antara Barat dan Islam yang mustahil dipertemukan seperti Islamic liberalism, Islamic Secularism, tidak cocok, ibaratnya “mau Islam kok liberal atau sekuler” maka tidak bisa. Maka dari itu, kita harus bersikap kritis atau mengkritik itu bukan karena benci dan bukan untuk memusuhi orang Barat, akan tetapi kita memberikan kenyataan apa adanya yang sekarang menjadi cara pandang Barat untuk sebuah perubahan karena bentuk perhatian kita kepada umat Islam yang sedang terjajah Ideologi Barat yang sangat berbahaya apabila masuk dalam cara pandang Islam karena pada kenyataannya dua peradaban ini tidak akan cocok apabila ingin di satukan dan bersatu karena perbedaan kultur dan nilai-nilai yang mendasari antara dua peradaban ini.

Nawang Lukman, S.Ag.
Mahasiswa Program Kaderisasi Ulama Universitas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *