afi.unida.gontor.ac.id. – Agama adalah sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang maha kuasa menyertai seluruh ruang lingkup kehidupan manusia, baik kehidupan manusia individu maupun kehidupan masyarakat, baik kehidupan materil maupun kehidupan spiritual, baik kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrawi.[1]

Sedangkan Manusia adalah makhluk terpercaya dan manusia adalah makhluk yang paling pandai. Sedangkan para ahli filsafat memahami manusia dengan sebutan animal rasional (binatang yang berpikir), animal educandum dan animal educable, (makhluk yang harus di didik dan dapat di didik), animal symbolicum, (makhluk yang bersimbol), homo laguen (makhluk yang pandai menciptakan Bahasa), homo sapiens (makhluk yang mempunyai budi), homo faber (makhluk yang pandai membuat alat-alat) homo ekonomicus (makhluk yang tunduk pada prinsi-prinsip ekonomi), homo relegius (makhluk yang beragama) dan makhluk yang pandai bersiasat (zoon politicon).[2]

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi dan merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan berpikir dan merefleksikan segala sesutau yang ada, termasuk merefleksikan diri serta keberadaanya di dunia. Inilah yang menentukan dan sebagai tanda dari hakikat sebagai manusia, di mana makhluk lain seperti binatang tidak memilikinya. Maka sangat layak jika dikatakan bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang berpikir.[3]

Agama merupakan suatu hal yang harus di ketahui makna yang terkandung di dalamnya, dan agama tersebut berpijak kepada suatu kodrat kejiwaan yang berupa keyakinan, sehingga dengan demikian, kuat atau rapuhnya agama bergantung kepada sejauhmana keyakinan itu ketentraman dalam jiwa.[4]

Unsur utama dalam beragama adalah Iman atau percaya kepada keberadaan Allah dengan sifat-sifat, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Suci serta nilainilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasa dirinya dekat dengan Allah, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman yang merupakan salah satu ciri sehat mental.

Setiap orang hendaknya menjalankan perintah agama dengan penuh tanggung jawab dan meninggalkan larangan. Dengan melaksanakan kehidupan beragama dan menjalankan ibadah, seseorang yang memiliki kesadaran agama secara matang  dan melaksanakan ibadahnya dengan penuh konsisten, stabil, mantap, dan penuh tanggung jawab dan dilandasi wawasan agama yang luas.

Satu  kenyataan yang tampak jelas yang telah modern telah maju atau yang sedang berkembang ini, ialah adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagian orang dalam hidup. Kesulitan-kesulitan dan bahaya–bahaya alamiyah yang dahulu yang menyulitkan dan menghambat perhubungan.sekarang tidak menjadi sosial lagi. Kemajuan industri telah dapat menghasilkan alat-alat yang memudahkan hidup, memberikan kesenangan dalam hidup, sehingga kebutuhan-kebutuhan jasmani tidak sukar lagi untuk memenuhinya.[5]

Seharusnya kondisi dan hasil kemajuan untuk membawa kebahagian yang lebih banyak terhadap Manusia dalam hidup. Tetapi suatu kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa kebahagian itu ternyata semakin jauh, hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran material berganti dengan kesukaran mental (psychis) atau beban jiwa semakin berat, kegelisahan dan ketenangan serta tekanan perasaan lebih sering terasa dan lebih menekan sehingga mengurangi kebahagian.

Kebutuhan-kebutuhan primer menjadi skunder tetapi kebutuhan skunder itulah yang menguasainya. Akibat meningkatnya kebutuhan kebutuhan pada masyarakat moderen itu maka dalam kehidupannya selalu mengejar waktu, mengejar benda, mengejar prestise. Semuanya ini akan membawa hidup seperti mesin, tidak mengenl istirahat dan ketentraman, hidupnya di penuhi oleh ketegangan perasaan (tension), karena keinginananya untuk menghidari perasaan tertekan, jika tidak tercapai semua  yang tampaknya menggembirakan. Akibat lebih lanjut ialah timbulnya kegelisahan-gelisah (anxiety) itu akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia didalam hidup.

Dari sinilah orang semakin merasa semakin jauh dari kegembiraan dan kebahagian, karena ketegangan dan kegelisahan batin yang selalu menghinggapinya dalam kehidupannya sehari-sehari. Oleh karna itu akan timbullah pula perubahan dalam cara-cara pergaulan hidupnya selama ini.

Hubungan Agama dan Manusia

Betapa besarnya pengaruh agama dalam kehidupan Manusia, baik bagi diri sendiri maupun dalam lingkungan keluarga, ataupun di kalangan masyarakat umum. Karena itu dapat pula dikatakan bahwa agama itu mempunyai fungsi yang amat penting dalam kehidupan manusia, tanpa agama manusia tidak mungkin merasakan kebahagian dan ketenangan hidup. Tanpa agama, mustahil dapat dibina suasana aman dan tentram.[6]

Keagamaan adalah perasaan berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, antara lain takjub, kagum, percaya yakin keimanan, tawakal pasrah diri, rendah hati ketergantungan pada Ilahi, merasa sangat kecil kesadaran akan dosa dan lain-lain.[7]

Agama sebagai bentuk keyakinan Manusia terhadap sesuatu yang Maha Kuasa (Adi Kodrati) menyertai seluruh ruang lingkup kehidupan Manusia baik kehidupan Manusia individu maupun kehidupan masyarakat, baik kehidupan materil maupun kehidupan spiritual, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi ,Agama (Islam) merupakan a total way of life. Tidak ada satu ruangan pun dalam kehidupan Manusia yang tidak di jamah oleh ajaran agama (Islam). Menurut Elizabeth K. Nottingham meskipun  perhatian manusia tertuju kepada adanya suatu dunia yang tak dapat dilihat (akhirat) namun agama juga melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari.[8]

Dalam pandangan positivism atau materialism, jika sains dan teknologi sudah maju, masyarakat tidak membutuhkan agama lagi sebab semua kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi oleh sains dan teknologi. Sepintas pernyataan tersebut ada benarnya, tetapi ketika direnungkan lebih dalam timbul persoalan. Apakah keinginan manusia betul-betul mampu dipenuhi oleh sains dan teknologi?[9] Bagaimana ia mampu memenuhi keinginan yang tidak terbatas, seperti dia tidak ingin mati. Apakah teknologi yang sangat canggih itu mampu mengatasi persoalan tersebut? Kalau memang ada teknologi yang mampu mengatasi persoalan tersebut akan dipastikan semua orang akan menganut faham ini. Ternyata pandangan materialism tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena alur pikirannya tidak logis.

Kebanyakan ahli studi keagamaan sepakat bahwa agama sebagai sumber nilai, sumber etika, dan pandangan hidup yang dapat diperankan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.[10] Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Alasan-alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:

Agama adalah Sumber ketenangan Jiwa

Agama adalah kebutuhan jiwa (psikis) manusia, yang akan mengatur dan mengendalikan sikap, kelakuan dan cara menghadapi tiap-tiap masalah.[11] Dengan demikian, di dalam agama ada larangan yang harus dijauhi, karena di dalam nya terdapat dampak negatif dari kehidupan manusia. Dan juga ada perintah yang harus ditaati karena di dalamnya ada kebaikan bagi orang yang melakukan. Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT secara benar, di dalam hatinya tidak akan diliputi rasa takut dan gelisah. Ia merasa yakin bahwa keimanan dan ketaqwaannya itu akan membawa kelegaan dan ketenangan batinnya.

Pelaksanaan agama (ibadah) dalam kehidupan sehari-hari dapat membentengi orang dari rasa gelisah dan takut. Diantara dari berbagai macam ibadah yang ada yaitu shalat secara psikologis semakin banyak shalat dan menggantungkan harapan kepada Allah SWT maka akan tenteramlah hati, karena dalam shalat itu sendiri mengandung psiko-religius (kekuatan rohaniah) yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme sehingga memiliki semangat untuk masa depan. Daripada itu tujuan utama dari shalat adalah ingin beraudiensi, mendekatkan diri dengan Allah supaya terciptalah kebahagiaan dan ketenangan hidupnya.

Agama adalah sumber Kesehatan mental

Berbagai aliran dikalangan ahli ilmu jiwa mengatakan tentang pentingnya agama dalam kesehatan mental. Keimanan kepada Tuhan merupakan kekuatan luar biasa dalam membekali manusia yang religius. Dengan kekuatan rohaniah akan menopang seseorang dalam menanggung beratnya beban kehidupan, menghindarkannya dari keresahan yang menimpa banyak manusia yang hidup pada zaman modern ini yang didominasi oleh kehidupan materi.

William James, seorang ahli psikologi dari Amerika Serikat mengatakan bahwa tidak ragu lagi bahwa terapi yang terbaik bagi keresahan jiwa adalah keimanan kepada Tuhan. Keimanan kepada Tuhan adalah salah satu kekuatan yang tidak boleh tidak harus dipenuhi untuk membimbing seseorang dalam hidup ini. Selanjutnya dia berkata bahwa antara manusia dan Tuhan terdapat ikatan yang tidak terputus. Apabila manusia menundukkan diri di bawah pengarahan-Nya, cita-cita dan keinginan manusia akan tercapai.[12]

Selanjutnya Usman Najati menulis, “Manusia yang benar-benar religius akan terlindung dari keresahan, selalu terjaga keseimbangannya dan selalu siap untuk menghadapi segala malapetaka yang terjadi”.[13] Kemudian Najati mengutip pendapat Carl Gustav Jung yang mengatakan bahwa selama tiga puluh tahun yang lalu, pribadi-pribadi dari berbagai bangsa di dunia telah melakukan konseling dengannya dan diapun telah banyak menyembuhkan para penderita gangguan jiwa. Semua pasien yang pernah diobatinya yang usianya di atas tiga puluh lima tahun memiliki problem yang bersumberkan pada kebutuhan akan agama. Pasien tersebut telah kehilangan sesuatu yang diberikan oleh agama. Pasien tersebut baru sembuh setelah mereka kembali pada wawasan agama.[14]

Zakiah Daradjat menulis, “Keimanan adalah suatu proses kejiwaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa, perasaan dan pikiran sama-sama meyakininya. Apabila iman tidak sempurna, maka manfaatnya bagi kesehatan mentalnya kurang sempurna pula.[15] Selanjutnya Zakiah Daradjat menambahkan bahwa fungsi agama adalah: (1) memberi bimbingan dalam hidup, (2) menolong dalam menghadapi kesukaran, dan (3) menentramkan batin.

Dengan demikian, agama benar-benar dapat membantu orang dalam mengendalikan dirinya dan membimbingnya dalam segala tindakan. Begitu pula kesehatan jiwa dapat dipulihkan dengan cepat apabila keyakinan kepada Allah SWT dan ajaran-Nya dilakukan.

Mohammad Hotibul Umam
Staf Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Daftar Pustaka

Nata, Abuddin. 2010. Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Bahtiar, Amsal. 2012. Filsafat Agama Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Der Wij, P.A., van. 2018. Filsuf-Filsuf Besar tentang Manusia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Agama.

Jalaluddin dan Usman Said. 1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Ancok, Jamaludin. 1998. “Agama dan Psikologi”. IAIN SUKA: Jurnal Tarbiyah.

Joesef, Sou’yb. 1983. Agama-Agama Besar Di Dunia. Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Kartono, Kartini. Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Raja Gerindo Persada.

Najati. 1985. Al-Quran dan Ilmu Jiwa. Bandung: Pustaka.

Ramayulis. 2002. Psikologi Agama. Jakarta: PT. Kalam  Mulia.

Daradjat, Zakiah. 1983. Islam dan Kesehatan Mental. Jakarta: al-Husna.

Daradjat, Zakiah. Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental. Jakarta: Haji Masagung.


[1]  Ramayulis, Psikologi Agama  (Jakarta: PT. Kalam  Mulia, 2002) p. 225

[2] Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,  1994), p. 25-26.

[3] Der Wij, P.A., van. Filsuf-Filsuf Besar tentang Manusia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Agama, 2018) p. 1.

[4] Joesef Sou’yb, Agama-Agama Besar Di Dunia, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983), p. 16.

[5] Zakiah Daradjat, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: Haji Masagung, 1988), p. 10

[6] Zakih Daradjat,  Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental…, p. 31

[7] Kartini Kartono, Psikologi Sosial, (Jakarta: PT. Raja Gerindo Persada, 2003), p. 124

[8] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Kalam Mulia, 2002), p. 225

[9] Amsal Bahtiar, Filsafat Agama Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), p. 251-252.

[10] Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), p. 37.

[11] Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental…, p. 52

[12] Jamaludin Ancok, “Agama dan Psikologi”, (IAIN SUKA: Jurnal Tarbiyah, 1998), p. 63.

[13] Najati, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Pustaka, 1985), p. 287.

[14] Ibid. p. 287-288.

[15] Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, (Jakarta: al-Husna, 1983), p. 29.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *