afi.unida.gontor.ac.id – Saat ini pendidikan Islam telah memasuki era globalisasi di mana batas-batas geografis sudah bukan menjadi penghalang untuk mendapatkan berbagai akses informasi dengan mudah dan cepat. Sebagai konsekuensi dari lahirnya era baru ini adalah terbentukya budaya baru yang mengelobal dengan ciri-ciri modernisasi, gaya hidup yang sekuler, materialistis yang bersumber dari Barat. Tujuan utama dari globalisasi sebenarnya adalah transformasi masyarakat global, dimana Barat secara tidak langsung ingin menjadikan dunia yang sangat multikultural menjadi homogen dengan standar budaya mereka.

Inilah yang dimaksud dengan globalisasi sebagai westernisasi. Dalam konteks ini, Amer Al-Roubaie menjelaskan bahwa sifat alami yang homogen dari globalisasi adalah untuk menyatukan pemikiran dan memfokuskan pandangan masyarakat dunia untuk mengunakan kode etik dan nilai-nilai bersama yang bersumber dari Barat untuk memperkuat hegemoni intelektual mereka.[1]

Kajian-kajian yang dilakukan oleh Hamid Fahmy Zarkasyi menunjukan betapa arus westernisasi begitu kuat. Menurutnya, sekularisasi dan liberalisasi merupakan program utamanya. Program westernisasi tidak hanya menawarkan isu bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan, tetapi juga menawarkan konsep dalam bentuk wacana hidup (living discourse) yang mendominasi kalangan terpelajar di dunia Islam saat ini. Wacana hidup asing yang ada dalam pikiran orang Islam.[2]

Al-Attas mengatakan masalah umat  saat ini  adalah (the loss of adab) yaitu kehilangan adab, kaum Muslimin telah kehilangan adab. Kehilangan adab disini maksudnya kehilangan identitas sebagai seorang muslim. Identitas ilmu-ilmu keislaman dan identitas sebagai seorang Muslim. Ilmu pengetahuna di zaman globalisasi semakin jauh meninggalkan Tuhan. Globabalisasi (westernisasi) yang dibawa Barat memuat pandangan hidup sekuler (anti agama). Sistem yang berlaku sangat positivistik, menafikan agama dan nilai ketuhanan dalam kegiatan ilmu.

Inti pandangan hidup sekuler atau anti agama adalah, dikotomi ilmu, anti otoritas, humanisme, relativisme, desakralisasi, dan nihilisme. Ilmu yang terselimuti pandangan demikian disebut ilmu yang sekuler. Sehingga melahirkan paradigma pendidikan yang dikotomis, menafikan nilai ketuhanan dalam ilmu pengetahuan dan cenderung materialis.[3]

Fakta pengajaran ilmu pengetahuan di sekolah, sistem pendidikan saat ini yang masih dominan dengan sistem sekuler yaitu pendidikan anti agama, saat ini bukan lagi benar atau salah yang menjadi suatu patokan akan tetapi siap yang menjadi otoritas tertinggi itulah yang paling benar dan mirisnya lagi sistem pendidikan saat ini tidak lagi mengajarkan bagaimana untuk menghadapi realitas kehidupan yang bersifat jangka panjang.

Akan tetapi hanya sekedar mengajarkan bagaimana menjawab pertanyaan dan mendapatkan nilai yang besar, ketika orang tidak lagi berpatokan dengan wahyu maka orang tersebut hanya akan menghayal mengunakan akal seperti penemuan teori nenek moyang kita adalah kera dan ini salah, sejarah manusia yang sesungguhnya adalah Nabi Adam karena Nabi Adam sejatinya adalah manusia dan bukan bangsa kera yang berevolusi sebagai mana yang telah disampaikan oleh para ulama terdahulu.

Memahami Worldview Islam

Mengenai istilah worldview secara umum dapat diartikan sebagai serangkaian kepercayaan tentang aspek-aspek fundamental mengenai realitas yang mendasar dan berpengaruh terhadap perasaan, pemikiran, pengetahuan, dan tindakan seseorang. Worldview mengacu pada sebuah konsepsi umum tentang sifat dunia, terutama yang mengandung atau menyiratkan tentang sistem prinsip-prinsip nilai. Ada keterkaitan antara konsepsi umum manusia mengenai dunia dengan aktivitas praktisnya sebagai sebuah implikasi.[4]

Untuk memahami luas dan sempitnya spektrum makna worldview secara umum, Hamid Fahmy mengutip beberapa pendapat pakar. Di antaranya adalah Ninian Smart yang berpendapat bahwa worldview adalah kepercayaan, perasaan, dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.[5]

Definisi worldview Islam dapat kita peroleh dari beberapa tokoh ulama kontemporer. Sebab dalam tradisi Islam klasik terma khusus Islam tidak memiliki worlview. Para ulama abad 20 mengunakan term khusus untuk pengertian worldview ini yang berbeda antara satu dengan yang lain. Menurut al-Mauwdudi, worldview adalah Islami Nazariyat (Islamic Vision) yang berarti pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab syahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakanya dalam kehidupan secara menyeluruh.[6]

Sedangkan al-Attas menganti istilah worldview Islam dengan Ru’yah al-Islam li al-wujud yang berarti pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan menjelaskan hakikat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud, dan dalam penegasanya al-Attas memaknai worldview secara metafisik dan epistimologis sehingga menjadi cara pandang.[7]

Urgensi Worldview Islam Bagi Masyarakat Muslim

Di atas telah dijelaskan bahwa worldview berperan sebagai asas bagi sikap dan perilaku individu dan kelompok, motor bagi perubahan individu, sosial, bahkan aktivitas ilmiah. Sebab, pada dasarnya setiap individu maupun kelompok telah memiliki pandangan hidup sendiri yang terbentuk melalui akumulasi dari pengetahuan yang masuk dalam pikiranya. Oleh karena itu, worldview dapat memancar dalam keseluruhan aktivitas kehidupan individu maupun kelompok tersebut.

Berbicara urgensi worldview Islam bagi seorang muslim sebenarnya sama halnya dengan pentingnya Islam baginya. Sebab, sejatinya bagi seorang muslim memiliki pandagan yang berlandaskan ajaran Islam merupakan sebuah konsekuensi dari keyakinan dan kepercayaan yang dianutnya. Namun pemahaman dan pemikiran setiap individu terhadap agamanya sangat beragam. Hal ini tidak terlepas dari pengetahuan dan pengalaman yang masuk ke dalam pikiranya sepanjang hayatnya. Di sisi lain, arus pemikiran yang digencarkan asing, terutama Barat, menjadi tantangan tersendiri dalam bentuk pandangan hidupnya.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ruang globalisasi yang syarat dengan nilai-nilai sekuler-materialistik-hedonis yang bersumber dari Barat merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat muslim. Krisis sepiritual juga, menurut Mulyadhi Kartanegara, pada giliranya telah menibulkan “disorientasi” atau kekacauan kiblat pada manusia modern.

Ilmu-ilmu produk ilmuan Barat menimbulkan persoalan pelik yang tidak menguntungkan bagi pandangan Muslim. Persoalan utamanya adalah pergeseran paradigma Ilmu Epistimologi yang digunakan dalam proses mendapatkan ilmu adalah Epistimologi rasionalis-empiris membuang dimensi metafisif.

Al-Attas menyebut lima poin yang menjiwai budaya keilmuan barat. Yaitu mengandalkan akal untuk membimbing kehidupan manusia, mengunakan pendekatan dikotomis terhadap realita kebenaran, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler atau anti agama yang cenderung berpaham humanisme dan menjadikan tragedi sebagai faktor yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

Dengan pendekatan ini, ilmuan dipakasa untuk tidak memasukkan unsur-unsur metafisik atau penafsiran-penafsiran agama. Sehingga dalam hasil kajian ilmiah, ilmu pengetahuan tidak boleh bertemu dengan penafsiran agama.

Dengan demikian, jelas bahwa Islam telah memiliki standar tersendiri mengenai makna realitas dan nilai-nilai moralitas, sehingga menjadi sebuah keniscayaan bagi individu maupun masyarakat muslim untuk berpandangan yang berasaskan Islam. Muhammad Qutb dalam hal ini juga menguatkan tentang pentingnya memiliki worldview Islam bagi seorang muslim ataupun masyarakat muslim. Hal ini disebabkan beberapa alasan, antara lain.[8]

Pertama, orang muslim harus memiliki tafsiran yang menyeluruh tentang wujud yang menjadi asas baginya untuk berinteraksi dengan wujud itu. Ia harsus memiliki tafsiran yang memberinya pemahaman terhadap hakikat-hakikat terbesar dengan segala hubungan diantara semuanya, yaitu hakikat ketuhanan (haqiqah al-uluhiyyah) dan hakikat kehambaan (haqiqah al-ubudiyyah) yang meliputi hakikat alam, hakikat kehidupan, dan hakikat manusia.

Kedua, seorang muslim harus memiliki pengetahuan tentang pusat kedudukan manusia di dalam wujud alam ini dan tujuan wujud insaninnya. Dengan pengetahuan itu ia akan mengetahui dengan jelas peran manusia di dalam alam dan batas-batas kekhususanya, demikian pula batas-batas hubungannya dengan Penciptanya dan Pencipta alam semesta.

Ketiga, berdasarkan alasan pertama kedua, maka ia akan mengetahui dengan jelas jalan hidupnya (manhaj al-hayah) dan jenis tantangan yang akan merealisasikan jalan hidup itu. Sebab, jenis tatanan yang mengatur kehidupan manusia sangat tergantung pada tafsiran yang menyeluruh tersebut. Keempat, Islam datang untuk membangun suatu umat yang memiliki karakteristik tersendiri dan pada waktu yang sama umat yang lahir untuk memimpin umat manusia dan merealisasikan jalan yang digariskan oleh Allah di muka bumi.

Pengetahuan seorang muslim tentang wolrdview Islam dengan segala komponen dan karakteristiknya akan menjaminya untuk menjadi unsur yang baik di dalam membangun umat yang memiliki karakteristik tersendiri, di samping unsur yang mampu memimpin dan menyelamatkan umat manusia. Sebab, worldview dari sisi ideologisnya (i’tiqodi) merupakan sarana pemandu terbesar bagi aspek tatanan rill yang lahir dan berdasar padanya serta mencakup aktivitas individu dan masyarakat secara keseluruhan dalam segala lapangan aktifitas manusia.[9] Dengan kata lain, memahami worldview Islam secara komprehensif merupakan suatu keniscayaan bagi seorang muslim sebagai panduan bagi sikap dan perilakunya dalam kehidupan.

Peran Pendidikan Islam dalam Membangun dan Menguatkan Worldview Islam pada Masyarakat Muslim

Hubungan pendidikan dan worldview sesungguhnya sangat erat. Hal ini karena pendidikan merupakan upaya sadar dan serius yang dilakukan untuk menenamkan dan membangun worldview pada manusia didk. Untuk menanamkan worldview tentu saja pendidikan memiliki worldview-nya sendiri karena setiap aktivitas atau perilaku yang dilakukan manusia, baik individu maupun kelompok, bergerak berdasarkan pada pandangan hidupnya. Dengan kata lain, worldview dalam hal ini berfungsi sebagai asas pendidikan yang mempengaruhi corak pendidikan itu sendiri, dan pada akhirnya mentransmisikan worldview yang dimilikinya.

Pendidikan merupakan pusat pengembangan ilmu sekaligus sarana transformasi ilmu kepada manusia didik. Adian Husaini mengatakan bahwa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari ilmu. Di sinilah letak pentingnya konsep ilmu yang benar. Kekeliruan dalam pemahaman konsep ilmu akan berujung kepada kerusakan. Bahkan, dapat dikatakan, rusaknya suatu masyarakat, selalu berawal dari rusaknya ilmu. Sebaliknya, bangkitanya umat Islam dumulai dari tumbuhnya budaya ilmu di tengah umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam harus mampu menumbuhkan budaya ilmu dan meletakan ilmu pada tempatnya yang mulia.[10]

Model Pendidikan Islam, Dalam hal pendidikan, pentingnya untuk membangun pendidikan negara atau pendidikan keluarga harus ada model pendidikan yang bisa menjadi pendoman inti dalam sebuah pendidikan Islam contohnya adalah pendidikan ala Rosulullah. Perencanaan pendidikan pada periode awal dalam sejarah Islam ini wujud dalam ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah s.a.w dan pada Hadits-hadits Rasulullah s.a.w ketika beliau berbicara dengan sahabat-sahabatnya, dan mengajak manusia percaya kepada Allah s.w.t dan meninggalkan penyembahan berhala.

Jika berbicara tentang konsep pendidikan manusia yang paling ideal adalah kosep pendidikan Rasulullah yang mendirikan madrasah Darul Arqom, di tempat ini lah Rasulullah mentranformasikan nilai-nilai ketuhanan kepada para sahabat pada awal mula kerasulan untuk mengarahkan para manusia menganggap bahwa Allah adalah pusat segalanya dan menyampaikan bahwa manusia itu tidak bisa dibeli dengan materi bukan seperti hewan dan lain sebagainya.[11]

Dan denga itu, bila konsep ilmu yang benar yang diterima seseorang dapat mengantarkan kepada kebaikan, maka sebaliknya kebodohan juga dapat mengantarkan kepada kejahatan dan ketidakadilan. Al-Attas mengutip pernyataan Ibnu Mundzir dalam karnyanya Lisan al-Arab yang menjelaskan bahwa kebodohan terbagi ke dalam dua jenis. Pertama, kebodohan yang ringan, yaitu kurangnya ilmu mengenai apa yang seharusnya diketahui dan kedua,  kebodohan yang berat, yaitu keyakinan yang salah yang bertentangan dengan fakta dan realitas, meyakini sesuatu yang berbeda dari sesuatu itu sendiri, ataupun melakukan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda dari bagaimana seharusnya sesuatu itu dilakukan.[12]

Kebodohan ringan menurut Wan Daud lebih mudah diobati melalui pendidikan atau pengajaran biasa, namun kebodohan yang berat merupakan suatu yang sangat berbahaya dalam pembangunan keilmuan, keagamaan, dan moralitas individu dan masyarakat, sebab kebodohan jenis ini bersumber dari spiritualitas yang tidak sempurna, yang dinyatakan dengan sikap penolakan terhadap kebenaran.[13] Contoh pemikiran-pemikiran sebagaimana disebutkan di atas dapat dikategorikan sebagai kebodohan yang berat karena bersumber pada keyakinan yang keliru.

 Sumber utama pendidikan Islam ini bukanlah seperti pendidikan di zaman modern saat ini, tetapi pendidikan yang bercampur dengan pemikiran politik, ekonomi, sosial, sejarah dan peradaban yang keseluruhanya akan membentuk kerangka umum idiologi Islam.  Dengan kata lain, pemikiran pendidikan Islam dilihat dari segi al-Qur’an dan Sunnah, tidaklah muncul sebagai pemikiran pendidikan yang terputus sanantnya, tetapi suatu pemikiran yang hidup dinamis, berada dalam kerangka paradigma umum bagi masyarakat seperti yang dikehendaki oleh Islam, dari sini asas pemdidikan Islam yang kita lihat di dalam al-Qur’an dan Sunnah mendapatkan nilai ilmiahnya.

Dan juga, tugas utama pendidikan Islam adalah mewujudkan nilai-nilai Islam pada pribadi manusia, sehingga manjadi sosok yang berkepribadian muslim, beriman, bertakwa, berilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia. Semuanya berawal dari penanaman konsep ilmu yang benar yang mengantarkan pada keyakinan yang benar pula dan pada akhirnya dapat membangun dan menguatkan pandangan hidup yang berasaskan pada din Islam.

Worldview Islam jelas berbeda dengan agama, ideologi atau peradaban lain. Islam memiliki pandangan tersendiri yang berbeda dari yang lain mengenai konsep Tuhan, wahyu, penciptaan, manusia dan psikologi manusia, pengetahuan, agama, kebebasan, nilai dan kebajikan, serta kebahagiaan. Oleh karena itu, Islam memiliki perbedaan worldview dengan yang lain dalam memandang realitas dan kebenaran. Perbedaan inilah yang menjadikan setiap individu atau masyarakat muslim penting untuk memahami worldview Islam.

 Makna dan tujuan hidup, penentuan nilai-nilai moral, pandangan mengenai ada dan tiada dalam kehidupan harus mengacu kepada ajaran Islam sebagai pendoman dan standar hidup bagi setiap muslim. Untuk itu, tugas dan tanggungjawab pendidikan Islam adalah membangun dan menguatkan worldview Islam pada masyarakat muslim sebagai panduan dan sistem kontrol terhadap pemikiran dan nilai-nilai yang merusak identitas atau jati dirinya sebagai muslim. Sistem pendidikan harus mengacu kepada worldview Islam agar output yang dihasilkan adalah manusia-manusia sholeh yang senantiasa melandaskan sikap dan perilakunya berdasarkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Jika semua itu dapat terwujud, maka akan terbangun masyarakat islami yang merupakan ciri dari kebangkitan peradaban Islam.

Oleh: Nawang Lukman Priyonggo, S.Ag.
Mahasiswa Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor

Artikel Menarik Lainnya

Agama dan Manusia
Islam antara Toleransi dan Intoleransi
Peradaban Barat Hakikat dan Tantangan
kesetaraan Gender dalam Pandangan Islam


[1] Amer Al-Roubaie, Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam, (Islamia: Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, No. 4, Vol 1 2005) hlm. 18

[2] Hamid Fahmy Zarkasyi, Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi, (Jakarta: INSIST, 2012) Hlm. xiv-xv

[3] Khalili Hasib, Konsep Al-Attas Tentang Adab (Tawaran Paradigma Pendidikan), (ISLAMIA: Volume. IX, No.1, 2014) hlm. 56

[4] Muhammad Abdullah dan Muhammad Junaid Nadvi, Understanding the Principles of Islamic Worldview, (Jurnal The Dialogue: NO 3, Volume VI) hlm. 269

[5] Zarkasyi, Islam sebagai Worldview, (on Islamic Civilization) hlm. 98

[6] Hamid Fahmy Zarkasyi, Worldview Islam dan Kapitalisme Barat, (TSAQOFAH: Volume 9, Nomor 1, April 2013) hlm. 20

[7] Ibid…, hlm 20-21

[8] Aly, Arti Penting Worldview Pendidik dalam Pendidikan, hlm. 116

[9] Ibid…, hlm. 117

[10] Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2012) hlm. xiii

[11] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: PUSTAKA AL HUSNA BARU, 2003) hlm. 116

[12] Wan Mohd Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, terjemahan. Hamid Fahmy dkk. (Bandung: Mizan, 2003) hlm. 121

[13] Ibid…, hlm. 121

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *