afi.unida.gontor.ac.id – Dalam rangka melaksanakan salah satu program pengembangan akademik dan untuk menambah wawasan keilmuan mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor mengadakan kajian kitab Munqidz min ad-Dhalal karya Imam al-Ghozali. Kajian ini didakan setiap pekan pada malam hari senin, yang bertempat di masjid Jami’ Unida. Para peserta kajian merupakan mahasiswa aktif dari prodi Aqidah dan Filsafat Islam.

Al-Ustadz M Shohibul Mujtaba, selaku pemateri dalam kajian tersebut membuka acara dengan menjelaskan tentang apa yang akan dibahas pada kitab al-Munqidz min ad-Dhalal karya al-Ghazali ini. Beliau juga memaparkan arti dari kitab ini yaitu “penyelamat dari kesesatan”. Buku tersebut disusun oleh al-Ghazali karena diminta oleh salah seorang saudara seagamanya, beliau diminta supaya beliau menyampaikan apa itu puncak dari segala ilmu dan rahasia di baliknya, termasuk sisi gelap dan tidak tersentuh dari madzhab-madzhab (aliran) yang ada pada zamannya.

“..فقد سألتني أيها الأخ في الدين، أن أبث إليك غاية العلوم وأسرارها، وغائلة المذاهب وأغوارها”

Al-Ghazali berniat untuk menggambarkan kesulitannya dalam memurnikan kebenaran dari pertikaian beberapa mazhab pemikiran yang bermunculan pada eranya. Melalui pengamatannya, ia mengklasifikasikan para pencari kebenaran menjadi empat golongan yaitu kaum teolog (al-Mutakallimun), kaum batiniyyah (Ahlu al-Ta’lim), kaum filosof (Ahlu al-Mantiq wa al-Burhan), dan kaum sufi (Ahlu al-Musyahadah wa al-Mukasyafah).

Kepada para mahasiswa, al-Ustadz Shohibul Mujtaba berpesan, “setiap mahasiswa minimal mempunya satu wirid bacaan kitab dari para ulama”. Dalam pesannya beliau berkata memulai kajian pertama kali ini dengan beberapa motifasi dan nasehat agar setiap mahasiswa memiliki “Wirid Kitab”. Wirid kitab merupakan kegiatan seorang pelajar untuk mengkaji dan menguasai satu kitab yang digunakan sebagai buku induk dalam perjalanan intelektualnya.

“Ulama kita dahulu pasti memilki satu kitab yang digunakan wirid, seperti halnya Ibnu Sina yang membaca dan mengkaji kitab yang ditulis Aristoteles puluhan kali hingga benar-benar paham mengenai kitab itu dan dijadikannya buku induk dalam setiap pemikirannya”. “mungkin Kitab ini jika dikaji secara serius bisa menjadi wirid kitab kalian.” Begitulah kiranya penjelasan yang dijabarkan Al-Ustadz Mujtaba’ pada senin malam itu.

Di tengah penjelasan mengenai wirid kitab, Mawardi, salah satu mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam semester 3 melontarkan pertanyaan yang membuat pembahasan mengenai wirid kitab semakin panjang dan hangat. “bagaimana jika kita mengambil satu kitab dari filsuf barat sebagai wirid kitab kita? Apakah akan memberikan dampak buruk?” tanyanya kepada Ustadz Mujtaba.

Dalam hal ‘wirid kitab”, sebaiknya seorang muslim menempatkan kitab karangan  para Ulama muslim sebagai buku induk dalam perjalanan intelektualnya. Hal ini dikarenakan ketika seorang muslim membaca dan memaknai dengan tekun suatu kitab karangan seorang ulama muslim hingga benar-benar menguasainya, maka si pengkaji kitab tersebut akan mendapat pengaruh dalam hal pola fikir, adab, cara berbahasa dari ulama tersebut hingga benar-benar melekat pada hati si pengkaji kitab dan ter-implementasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Begitupun sebaliknya, ketika kita membaca da mengkaji buku-buku yang dikarang oleh orang non islam, maka fikiran, kepribadian, dan sifat si penulis buku tersebut akan menempel pada si pembaca kitab, walaupun mungkin terdapat unsur-unsur yang berlawanan dengan islam.

Oleh sebab itu, untuk menghindari agar unsur-unsur yang berlawanan dengan islam tidak melekat pada diri kita, sebaiknya kita menggunakan kitab karangan Ulama Muslim sebagai wirid kitab. Begitulah kiranya jawab Al-Ustadz Mujtaba untuk pertanyaan yang dilontarkan oleh Mawardi.Oleh karena itu, sebagai mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, setidaknya memiliki stau kitab yang dijadikan wirid hingga karakter, fikiran, dan akhlak seorang ulama melekat pada hati setiap mahasiswa.

Acara ini sangatlah baik untuk memberikan wawasan mengenai khazanah pemikiran islam dari sumber primer dan guru yang kompeten dalam memberikan penjelasan mengenai buku atau kitab yang dirujuk tersebut. Hal ini dikarenakan kelemahan mahasiswa Ushuluddin terkhusus Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam adalah lemahnya pengetahuan yang dirujuk langsung dari referensi primer dan lebih memilih buku-buku yang merupakan hasil penelitian seseorang. Oleh sebab itu acara ini seharusnya terus diberi dukungan dari berbagai pihak termasuk dari para mahasiswa sebagai peserta.

Acara akhirnyapun ditutup dengan membaca bersama surat al-Fatihah yang ditujukan kepada para ulama-ulama yang telah menyumbangkan khazanah keilmuannya kepada kita walaupun sudah lama tiada.

Pen: Fiqhi Akbar Rafsanjani / AFI 5 dan Mawardi AFI 3
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *