afi.unida.gontor.ac.id – Dalam kondisi Pandemi yang tidak stabil dan menentu saat ini mungkin banyak orang yang mempertanyakan akan kehadiran Tuhan bagi para makhlukNya, apakah Tuhan benar-benar ada dan mendengar semua rintihan dan penderitaan yang sedang dialami oleh para hambanNya? Dimanakah Tuhan jika demikian? Bukankah Tuhan seharusnya menolong dan memberikan bantuan kepada para hambaNya saat mereka membutuhkan? Persoalan semacam diatas memang bukan lagi perkara baru, dimana semenjak lampau ia telah menjadi ranah perbedatan para filsuf dan tokoh ulung dahulu.

Kesemuanya pada intinya mempertanyakan akan problem keadilan Tuhan (Theodicy), artinya jika Tuhan adalah sumber kebaikan, sehingga yang Dia kehendaki hanya kebaikan, namun kenapa para kenyataanya keburukan dalam berbagai bentuknya ada di dunia ini? Dalam contoh yang lebih sederhana lagi bukankah terlihat tidak adil, jika ada hewan memakan hewan lainnya, bahwa ada hewan yang berada di atas rantai makanan dan ada hewan yang berada di bawah dan hanya sebagai buruan dan korban? Apakah ini mungkin justru bukti bahwa Tuhan tidak ada? ataupun kalau tuhan ada ia tidak peduli?

Bagaimana kita menanggapi pernyataan tersebut?

Dalam menjawab pertanyaan ini, diantaranya Mulla Sadra yang telah merangkum berbagai argumen dari para tokoh dari generasi sebelumnya, terutama dari al-Ghazali yang melihat secara optimistis bahwa alam semesta sekarang yang ada dengan berbagai dinamika di dalamnya merupakan suatu kemestian, dimana tidak ada sesuatu yang mungkin terjadi di dunia ini yang lebih indah daripada yang ada saat ini (laysa fil imkan abda’ mimma kana).[1]

Dalam tersebut, keburukan yang ada dan terjadi hanyalah dianggap relatif saja. Keburukan secara ontologis memang ada yaitu yang diartikan dengan absennya kebaikan dari sesuatu atau tidak tercapainya suatu tujuan yang menjadi kecenderungannya[2], namun secara aksiologis ia harus dimaknai dalam konteks yang lebih luas bahwa sejatinya ia adalah suatu keharusan yang menjadi syarat dan pelengkap untuk mencapai suatu tujuan Ilahiah.[3]

Sederhanannya, jika tidak ada kemiskinan maka tidak akan ada kekayaan, jika tidak ada kejahatan tentu tidak akan ada kebajikan, jika tidak ada kematian tentu tidak akan ada kehidupan, kesementaraan keduanya memang diciptakan untuk suatu tujuan tertentu yaitu yang dalam konteks manusia dimaknai sebagai ujian untuk mengukur sejauhmana kualitas amal perbuatan mereka. Dalam pernyataan Sadra, tanpa kontradiksi maka tidak akan ada suatu generasi dan korupsi, dan tanpa generasi dan korupsi maka tidak akan ada jumlah entitas yang tidak terbatas. Interaksi antara oposisi merupakan suatu keharusan agar tercipta suatu kestabilan.

Maka, dunia memang harus demikian adanya, karena jika ia kurang atau lebih, niscaya kerusakan akan terjadi dan membuat rencana Ilahi gagal tercapai.[4] Bahkan karena secara ontologis kebaikan yang mutlak hanya ada pada Tuhan, sedangkan status makhluk hanyalah kontingen dan relatif, maka ukuran kebaikan mereka adalah diukur dari dekat jauhnya mereka dari Tuhan, sehingga tidak mungkin makhluk memiliki kebaikan yang mutlak, kecuali ia harus mempunyai keburukan, maka makhluk tidak akan menjadi makhluk jika tidak demikian.[5]   

Lebih jauh, Sadra juga menjelaskan bahwa kebaikan adalah apa yang segala yang dinginkan, yang segala sesuatu berkecenderungan kearahnya, dan dengan itu tujuan mereka untuk mencapai kesempurnaan apapun yang mungkin dicapai dalam jangkauan mereka tercapai. Maka, keburukan dari perzinaan misalnya bukanlah berasal murni dari zat perbuatan tersebut karena dorongan seksual sejatinya adalah hal positif, suatu perbuatan adalah keburukan ketika ia menyalahi rasional atau apa yang telah syari’at ajarkan.[6] Begitu juga dengan adanya berbagai macam cobaan atau suatu musibah yang ada, ia tidaklah bisa dimaknai dengan keburukan atau bahkan bukti akan ketidakhadiran Tuhan!

Apa yang bisa ditarik kesimpulan dari situasi saat ini?

Dalam konteks yang lebih luas kesemua itu adalah suatu rencana Tuhan untuk mecapai suatu hikmah tertentu, karena pada asalnya, ia tidak akan ada jika ia tidak disebabkan oleh suatu kesalahan yang menyalahi regulasi hukum alam atau sunnatullah yang berlaku entah itu disebabkan oleh mereka yang berkaitan atau tidak. Maka, suatu musibah sejatinya bukanlah keburukan jika ia disikapi sesuai dengan ajaran agama yang tentu saja tidak mungkin menyalahi akal sehat, bahkan disinilah sejatinya fungsi adanya agama yaitu sebagai manifestasi rencana ilahi yang Tuhan turunkan demi kemaslahatan para makhlukNya.

Dalam kasus yang lebih spesifik mungkin masih ada yang meragukan akan kepedulian Tuhan pada para makhlukNya, misalnya jika seseorang benar-benar membutuhkan pertolongan disaat suatu bahaya yang sedang mengancam nyawanya. Dalam menyikapi hal ini, tentu kita tidak bisa langsung berkesimpulan bahwa jika misalnya ia tidak tertolong maka Tuhan tidak ada, demikian karena Tuhan bertindak sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaanNya bukan mengikuti kondisi dan situasi hambaNya.

Mungkin saja Tuhan dapat langsung memberikan pertolonganNya seperti halnya pada kasus Mu’jizat yang terjadi pada para Nabi dan Rasul, namun saat Dia tidak menghendakinya pasti Dia telah menyiapkan rencana lain yang tidak terjangkau sebagaimana keterbatasan makhlukNya. Dengan kata lain, untuk mendengarkan suara Tuhan, manusia harus menggunakan kapasitas pendengaran metafisik dan spiritualnya, bukan dengan kedua daun telinganya.[7]

Oleh: Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester 7 Universitas Darussalam Gontor

Artikel Menarik Lainnya:
Pintar Dalam Menyikapi Covid-19
Pandangan Para Ilmuwan Mengenai Kemunculan Virus Corona dan Sikap Kita Sebagai Umat Muslim Dalam Menghadapinya


[1] Eric L. Ormsby, Theodicy in Islamic Thought, the Dispute over al Ghazali’s Best of All Possible Worlds (New Jersey: Princeton University Press, 1984), h.  259.

[2] Keburukan dalam klasifikasi tradisionalnya kemudian dibagi menjadi dua, yaitu yang natural seperti gempa atau banjir atau yang moral yang dilakukan oleh manusia seperti pencurian dan perzinaan. Dalam kasus yang pertama ia dikategorikan sebagai keburukan karena ia menyalahi regulasi alam seperti biasa, yaitu daratan stabil dan aliran sungai lancar, sedangkan dalam kasus keburukan moral, pencurian atau perzinaan dikategorikan dalam keburukan karena menyalahi standar moral baik yang ditentukan agama atau rasional. Lihat lebih jauh, dalam Ibn Sina, The Metaphysics of Healing, trans. Michael E. Marmura (Provo: Brigham Young University Press, 2005), h. IX.6.

[3] Ibrahim Kalin, Mulla Sadra on Theodicy and the Best of All Possible Worlds, dalam jurnal Islamic Studies, Oxford University, vol. 18: 2 (2007), 200; lihat juga oleh penulis yang sama, Why Do Animals Eat Other Animals? Mulla Sadra on Theodicy and the Best of All Possible Worlds, dalam jurnal Islam Arastirmalari Dergisi, vol. 24 (2004), h. 55-74. 

[4] Ibrahim Kalin, Mulla Sadra on Theodicy and the Best of All Possible Worlds, h. 197.

[5] Ibrahim Kalin, Mulla Sadra on Theodicy and the Best of All Possible Worlds, h. 196.

[6] Fakta terjadinya berbagai macam keburukan atau kejahatan moral ini tentu bukan berarti bahwa Islam membenarkan hal itu terjadi sehingga kemudian dapat dimaknai Islam membolehkannya, disini perlu kita tekankan bahwa dalam konteks ini Islam hanya membenarkannya secara ontologis bahwa hal itu memang sudah ditakdirkan Tuhan yang dikehendakiNya terjadi sesuai dengan hikmahNya, karena itu ia menjadi positif atau baik. Namun secara aksiologis dan etis fakta itu adalah hal negatif atau buruk yang harus dihindari karena tidak sesuai dengan ajaran dan standar agama.

[7] Mohammed Rustom, On Listening: Hearing God’s Voice in the Face of Suffering, dalam jurnal Sacred Web, vol. 45, h. 42.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *