Islam dan Ateisme: Beberapa Kontensi

Islam dan Ateisme: Beberapa Kontensi

afi.unida.gontor.ac.id – Sampai hari ini isu ateisme terus menjadi fenomena umum diberbagai struktur masyarakat, entah itu yang datang dari kalangan saintis, artis, atau bahkan orang awam.  Secara epistemologis ada berbagai macam alasan yang kemudian menyebabkan suatu oknum secara sadar berpegang teguh dengan pendiriannya entah itu menolak bahwa tuhan tidak ada sehingga tidak dapat dibuktikan, yang disebut dengan ateis, atau yang berlawanan secara kontras dengan posisi ini bahwa eksistensi tuhan itu ada dan dapat diketahui, yang disebut dengan teis, dalam konteks ini posisi yang berada diantara keduanya adalah agnostik yaitu yang tidak yakin mengenai adanya tuhan atau tidak. Dari sini maka harus dibedakan antara posisi ontologis dan epistemologis mengenai ateisme, bahwa untuk menjadi ateis, seseorang harus mempunyai argumen bukan sekedar klaim amatiran tidak berdasar.[1]

Kasus yang paling jelas adalah fenomena ateisme yang menimpa para kosmologis dan fisikawan modern, diantara alasan yang menjadikan mereka secara sadar menolak eksistensi tuhan adalah karena  dengan pengetahuan dan sains yang mereka kuasai, mereka sudah bisa menjelaskan bagaimana alam ini bekerja, entah itu dari ranah paling kecil skala microskopik atau skala kosmik galaksi, bagi mereka sains modern sudahlah bisa menjawab berbagai misteri yang menyelubungi kehidupan manusia yang dalam sejarahnya manusia untuk menjawabnya hanya kembali pada mitos atau agama.[2]

Dengan perkembangan laju zaman, gerakan ateisme juga mempunyai ciri dan corak yang membedakannya dengan apa yang telah ada sebelumnya. Dalam sejarah misalnya ada istilah heretik atau zindiq/mulhid yaitu yang diberikan pada mereka yang menyimpang dari beberapa ajaran prinsip suatu agama atau menolak eksistensi tuhan, dari fenomena ini kemudian muncullah ateisme lokal yang hanya menolak tuhan dalam suatu agama tertentu, hingga muncul global ateisme yang menolak tuhan semua agama sebagaimana yang dipacu dengan fenomena globalisasi yang menjadikan dunia seakan tanpa sekat dan tembok. Dalam dekade terakhir ini muncul juga corak lain yang menandai perubahan gerakan ateisme, dalam pengamatannya William E. Emilson menyatakan bahwa, 

“What seems to distinguish it from earlier forms of atheism is the subtle (and sometimes not so subtle) ways it critiques and attacks Islam through its ‘scattergun’ critique of religion in general. For the New Atheists, their general condemna­tion of religion targets not only Islamic extremism but also Islam because, in the main, they admit to no meaningful distinction between moderate and extremist Islam…Islam in the New Atheist writings is consistently depicted as irrational, immoral and, in its purest form, violent.”[3]

Diantara mereka yang bersama-sama tergabung dalam gerakan ini, ada yang berasal dari non muslim seperti Sam Harris, Daniel Dennet, Richard Dawkins, Christopher Hitchens atau orang-orang yang murtad dari Islam seperti Ayaan Hirsi Ali, Ali Rizvi, Armin Navabi, Ibn Warraq. Kesemuanya setidaknya memiliki kesamaan pendapat mengenai kritisismenya terhadap Islam yang bisa dirangkum dalam tiga poin,  pertama yaitu  Islam is an inherently barbaric and evil religion, untuk menjustifikasi tuduhan ini, mereka melihat bahwa banyak ayat-ayat maupun hadits yang tidak sesuai dengan standar moral atau tidak rasional. Bahwa teks-teks agama tadi merepresentasikan akan sebuah peradaban yang regresif dan terbelakang. Muslim yang memegang Islam secara serius adalah ancaman dan tantangan bagi Barat sehingga keduanya tidak mungkin disatukan, kecuali Islam itu sendiri yang harus dihilangkan.

Kedua yaitu The Islamic scripture is outdated, bahwa sains modern telah menjadi andalan utama dalam menyediakan narasi penjelasan yang valid dimana teks-teks dan kitab suci hanya akan kehilangan relevansinya. Meski mungkin sains belum bisa menjawab beberapa pertanyaan namun suatu saat dengan perkembangannya ia pasti akan menemukannya. Dan yang terakhir yaitu There is no proof for the existence of God, bahwa semua argumen mengenai eksistensi tuhan dapat dibantah dan dibatalkan dengan logika atau dengan penjelasan alternatif lain yang diberikan oleh sains. [4]

Kontensi Saintifik (Scientific Contention)

  1. Evolusi:

Ateisme baru terlihat sangat terpengaruh oleh narasi Darwinian, sebagaimana mereka melihat agama darinya yang bersikukuh bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan secara natura. Hal ini dapat kita lihat dari maksud evolusi itu sendiri yang dimaknai sebagai suatu proses yang melewati beberapa seri dan tahap yang berbeda, suatu hubungan dialektika antara genetik dan faktor-faktor lingkungan yang mengarahkan ragam spesies kepada berbagai cabang, yang kemudian turut berkembang sesuai dengan keadaan zaman. Maka sebagaimana spesies ini berkembang lebih jauh, mereka mengadaptasi sesuai dengan lokalitasnya dan menjadi semakin berbeda, mereka pun menciptakan ragam genetik lebih yang pada saatnya akan membawa pada konteks alami terakhir, dimana manusia hanyalah dianggap sebagai satu dari seri paralel yang beragam.

Maka dalam pengertian ini manusia bukanlah berasal dari monyet sebagaimana banyak yang disangka, namun lebih jauh lagi, mereka hanya menyebarkan satu kesamaan asal saja, maka monyet adalah sebagai sepupu geneaologis, bukan awal mula.Maka agama dan tuhan bagi mereka hanyalah sekedar tidak lebih dari buah dari kegelisahan pikiran manusia, yang muncul akibat dorongan rasa lemah dan ketakberdayaan mereka dihadapan fenomena alam yang kemudian oleh beberapa oknum dipolitisasi menjadi sebuah doktrin untuk tujuan-tujuan tertentu. [5]

Kontensi Filosofis (Philosophical Contentions)

  1. Argumen Eksistensi Tuhan[6]

Beberapa variasi argumen mengenai Tuhan telah digunakan oleh para mutakallimin yang bahkan hingga kini masih relevan. Diantara argumen-argumen tersebut adalah argumen kosmologis (kalam cosmological argument, argumen dari design (argument from design), dan argumen moral (moral argument). Kesemuanya merupakan argumen berbasis silogisme yang dibuat melalui hukum logika berdasarkan kesimpulan-kesimpulan proposisional dari penalaran rasional atau empiris.

Sebagai contoh:

  • Kalam Cosmological Argument

Premis Pertama: Segala sesuatu yang ada mempunyai sebab.

Premis kedua: Alam ada.

Kesimpulan: Alam mempunyai sebab.

  • Argument from Design

Premis Pertama: Segala sesuatu yang teratur dan harmoni menujukkan adanya pembuatnya.

Premis Kedua:   Alam ini teratur dan harmoni.

Kesimpulan: Alam ini ada pembuatnya.

  • Moral Argument

Premis Pertama: Jika tuhan tidak ada maka moral objektif tidak akan ada.

Premis Kedua: Moral objektif ada.

Kesimpulan: Tuhan ada.

Namun, argumen-argumen ini sejatinya tidaklah cukup untuk mendeskripsikan Tuhan dalam Islam, dimana sejatinya ia juga dapat dibagi dengan beberapa agama teistik lainnya. Dengan kata lain ia hanya merujuk Tuhan sebagai Ilah bukan Rabb. Adapun untuk mengatasi ini pun muslim membutuhkan prinsip evaluatif ekstra yang sejatinya bisa kita rujuk langsung dari eksistensi wahyu meski terlihat tautologis. Yaitu bahwa jika kita meyakini al quran adalah firman Tuhan, sedangkan Quran mengatakan bahwa Tuhan ada, maka, Tuhan ada. Kekuatan argumen ini adalah bukan dari kesimpulannya yang memang terlihat tautologis, namun dalam arti bahwa al quran itu sendiri merupakan mukjizat atau keajaiban yang datang Tuhan, sebagaimana ia diturunkan dalam bahasa arab, ia pun mengandung keajaiban literasi (literacy miracle)  yang menantang siapapun untuk membuat semisalnya jika ia mampu.[7]

2. Saintisme (Scientism)

Saintisme adalah alat yang utama yang digunakan para ateis melawan agama, begitu juga saintismelah yang membentuk keseluruhan perspektif mereka. Saintisme merupakan kepercayaan bahwa semua disiplin ilmu haruslah menjadi subjek sains-sains alam (natural sciences) agar dapat mencapai ketepatan dalam menafsirkan realitas. Adapun saintisme sendiri bisa dibagi menjadi tiga, yaitu pertama saintisme epistemologis yang melihat bahwa metode yang paling valid untuk digunakan dalam memaknai realitas adalah melalui metode saintifik-positivistik. Kedua yaitu saintisme ontologis yaitu yang melihat realitas ini hanya terdiri dari sesuatu yang dapat diketahui melalui metode saintifik tadi. Adapun saintisme ekistensial adalah bentuk ekstrim dari saintisme kedua ini yaitu yang mempercayai bahwa semua realitas dapat direduksi kepada dan hanya dapat dijelaskan melalui elemen fisika termasuk kebebasan berkehandak (free will), pemikiran (thought), dan moralitas.[8]

Mengenai hal ini, Rupert Sheldrake dalam bukunya The Science Delusion (sebagai kritik atas buku Dawkins “The God Delusion”) telah menyeranaikan setidaknya 10 doktrin saintisme yang diterima semula jadi (take for granted) oleh para saintis modern:[9]

  1.  Everything is essentially mechanical. Dogs, for example, are complex mechanisms, rather than living organisms with goals of their own. Even people are machines, ‘lumbering robots’, in Richard Dawkins’s vivid phrase, with brains that are like genetically programmed computers.
  2. All matter is unconscious. It has no inner life or subjectivity or point of view. Even human consciousness is an illusion produced by the material activities of brains.
  3. The total amount of matter and energy is always the same (with the exception of the Big Bang, when all the matter and energy of the universe suddenly appeared).
  4. The laws of nature are fixed. They are the same today as they were at the beginning, and they will stay the same for ever.
  5. Nature is purposeless, and evolution has no goal or direction.
  6. All biological inheritance is material, carried in the genetic material, DNA, and in other material structures.
  7. Minds are inside heads and are nothing but the activities of brains. When you look at a tree, the image of the tree you are seeing is not ‘out there’, where it seems to be, but inside your brain.
  8. Memories are stored as material traces in brains and are wiped out at death.
  9. Unexplained phenomena like telepathy are illusory.
  10. Mechanistic medicine is the only kind that really works.

2. Fisika Kuantum dan Okasionalisme[10]

Munculnya paradigma baru dalam fisika kuantum yang menggugurkan teori deterministik terhadap alam dan membawa pada teori indeterministik dalam melihat kausalitas dengan kata lain, kausalitas tidaklah pasti. Hal ini pun nantinya berhubungan dengan bagaimana sebenarnya peran tuhan terhadap alam ini, dimana dalam pandangan lain alam dianggap ada dan independen melalui hukumnya sendiri (ateisme), atau yang hanya melihat tuhan sebagai sebab adanya alam ini sehingga tidak ada peran lagi setelah itu (aristotelian-neoplatonis). Dalam perspektif okasionalisme, alam yang dianggap sebagai sesuatu selain tuhan adalah kontingen yang bertempat dan mewaktu.

Segala sesuatu di alam ini terdiri dari unit-unit fundemantal. Unit atau partikel ini adalah atom atau jauhar yaitu entitas abstrak yang tidak berdimensi yang ia hanya dapat termanifestasi pada wujud konkret jika ia berkumpul dan terkombinasi dengan aksiden (‘arad) yang kemudian menjadi jism yang memiliki panjang, lebar dan kedalaman. Waktu pun dalam perspektif ini juga terbagi, dan karena tidak ada properti yang dapat mengisi dua momen secara instan, alam semesta ini adalah objek dari proses penciptaan secara kontinu dari ketiadaan kepada ada. Karena itu alam semesta dalam pandangan ini merupakan perbuatan dan kehendak Tuhan dimana berbagai kondisi potensial didalamnya semua kembali pada pengaturan-Nya hingga suatu keadaan dapat terjadi.

Kontensi Teologis (Theological Contentions)

  1. Hermenuetik dan Jurisprudensi[11]

Isu utama ateisme dalam ranah teologis adalah kurang familiarnya para tokoh yang berkenaan dengan prinsip-prinsip jurisprudensi dan hermeneutik (penafsiran). Dimana terutama problem tadi muncul dari atomisasi ayat atau hadits yang dikeluarkan dari tema kolektif, kebahasaan dan latar belakang historisnya. Maka, dalam pemaknaan sumber-sumber tadi tanpa dibekali oleh metodologi mapan (bahasa arab, ushul fiqh, ulumul quran, mushtalahul hadits) sebagaimana yang telah diterapkan oleh para ilmuwan muslim dahulu, hanya akan memunculkan pemahaman sepihak yang pada gilirannya hanya akan menimbulkan keselahpahaman terhadap Islam sendiri. Metodologi inilah yang sejatinya luput dari pertimbangan para ateis baru saat melihat Islam, sehingga memunculkan tendensi-tendensi buruk seperti ajaran Islam mengandung kejahatan (evil), atau kadaluarsa (out of date).

Bahkan hal ini pun masih diperburuk lagi dengan munculnya literalisme rigid (Pseudo Salafi) yang mereduksi dan menekan al quran dan hadits kepada gambar hitam dan putih dan telah menyebabkan kemunduran yang signifikan dalam kesarjanaan Islam modern. Dalam prakteknya disatu sisi memang tren ini terlihat begitu Islami, namun sayangnya sebenarnya juga tidak lepas dari pengaruh sekularisasi. Hal ini bisa kita nilai dari beberapa indikasi, yaitu penekanan mereka yang berlebihan pada aspek keakhiratan sehingga membuat mereka terjebak dalam pandangan dualisme yang secara ketat memisahkan urusan agama dengan dunia, inilah yang menyebabkan kelompok ini kesulitan dalam berinteraksi dengan dinamika sosial di masyarakat.

Disisi lain tren ini juga membawa pemikiran dikotomis yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dan umum. Pada prakteknya mereka hanya mengakui keabsahan ilmu-ilmu umum ini secara pragmatis saja, karena bagi mereka ilmu-ilmu ini tidak bisa dibandingkan dengan ilmu agama, konsep agama bagi mereka pun bukan dalam arti al-Din yang mencakup berbagai dimensi kehidupan baik intelektual, sosial, dan spiritual, namun hanya sebatas tataran normatif saja (fiqh) yang dibangun secara ketat melalui penafsiran tekstual.[12]

2. Spiritualitas  

Salah satu komponen dalam gerakan ateisme adalah menolak dimensi spiritual manusia  atau mereduksinya hanya sebagai reaksi-reaksi otak. Dengan demikian spiritualitas dianggap tidak memiliki kategori ontologis dan tidak dianggap sebagai kriteria valid dalam diskursus mereka. Disinilah sebagai muslim poin inilah yang harus diberikan titik tekan sebagai fitur utama dalam dialog antara ateis dan teis, bahkan sebagai muslim mereka seharusnya juga tidak lupa bahwa dimensi ini adalah aspek paling fundamental eksistensi manusia dalam framework Islam. Agama Islam dengan demikian bisa diklasifikasikan menjadi tiga dimensi yaitu syari’ah atau fiqh yang memfokuskan pada urusan fisik, legal dan praktis atau dalam istilah lain disebut Islam. Kemudian, dimensi kalam yang memfokuskan pada dimensi intelektual manusia yaitu pikirannya atau yang disebut juga dengan dimensi iman atau aqidah. Dan terakhir sufi yaitu yang memfokuskan pada dimensi spiritual manusia atau yang secara luas diistilahkan dengan dimensi ihsan.

Melalui framework ini, kita juga bisa menggunakannya dalam menilai sejauh apa relevansi dari gaung pembaharuan yang telah diinisiasi oleh berbagai kelompok muslim di era kontemporer ini tanpa meninggalkan dimensi yang luput (missing dimension) dari ketiganya, sehingga kita bisa menilai mana saja gerakan yang nantinya benar-benar berdampak positif bagi umat sebaliknya bukan malah menimbulkan berbagai ketimpangan dan problem negatif.[13]

Berdasarkan beberapa penjelasan mengenai tema-tema kontensi debat antara Islam dan ateisme, bisa kita tangkap bahwa semua klaim dan tuduhan yang para pengasong ateisme  tujukan tidaklah mempunyai basis valid dalam Islam. Sebaliknya, bahkan dalam konteks yang lebih luas banyak aspek-aspek dalam Islam yang sangat relevan dengan berbagai problem dan tantangan zaman. Hal ini menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan mereka sebenarnya tidak lebih dari sekedar klaim superfisial yang kebetulan menemukan momentumnya di zaman post-truth ini, yang sudah tentu ini tidak cukup untuk menjustifikasi akan adanya kekurangan dalam Islam. Dalam sejarahnya, Islam sebagai agama yang terus bertahan membesarkan sejarah dan peradaban dan bukannya dibesarkan oleh sejarah tentu bukan perkara remeh temeh, yang tidak lain dan tidak bukan adalah bukti akan kebenaran dan nilai universal dalam Islam.

Oleh: Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester 7 UNIDA Gontor


[1] Shoaib Ahmed Malik, “Defining Ateism dan the Burden of Proof”, dalam jurnal the Royal institute of philosophy, 93, 2018, h. 279-301. 

[2] Sean Carrol, “Why (Almost All) Cosmologists are Ateists”, dalam Faith and Philosophy, 22, No. 5, 2005, h. 622-635.

[3] William W. Emilsen, “The New Atheism and Islam”, Expository Times 123, no. 11 (2012), h. 524.

[4] Shoaib Ahmed Malik, Atheism and Islam: A Contemporary Discourse, (Abu Dhabi: Kalam Research and Media, 2018), h. 14.

[5] Shoaib Ahmed Malik, Atheism and Islam: A Contemporary Discourse, h. 15. 

[6] Lihat lebih jauh, Saiyad Fareed Ahmad & Saiyad Salahuddin Ahmad, God, Islam and The Skeptic Mind (Kuala Lumpur: Blue Nile Publishing, 2004); William Lane Craig (ed), The Blackwell Companion to Natural Theology (United Kingdom: Blackwell Publishing, 2009); Ayman Shihadeh, “The Existence of God” dalam Tim Winter, The Cambridge Companion to Classical Islamic Theeology (Cambridge: Cambridge University Press, 2008).

[7] Shoaib Ahmed Malik, Atheism and Islam: A Contemporary Discourse, h. 21-22. 

[8] Shoaib Ahmed Malik, Atheism and Islam: A Contemporary Discourse, h. 23.

[9] Rupert Sheldrake, The Science Delusion (London: Hodder & Stoughton, 2012), lihat Introduction.

[10] Lihat lebih jauh, K. Harding, Causality Then and Now: al-Ghazali and Quantum Theory in the American Journal of Islamic Social Sciences, 10:2, p. 165-177; Umit Yoksuloglu Devji, “Al-Ghazali and Quantum Physics: A Comparative Analysis of the Seventeenth Discussion of Tahafut al Falasifa and Quantum Theory”, Master Theses, (Canada: McGill University, 2003); M. Bashil Altaie, God, Nature and the Cause: Essays on Islam and Science, (USA: Kalam Research and Media, 2016); Mehdi Golshani, “Quantum Theory, Causality, and Islamic Thought”, in The Routledge Companion to Religion and Science, ed. James W. Haag, Gregory R. Peterson, and Michael L. Spezio (New York: Routledge, 2012), p. 179-190; Mehmet Bulgen, “Continuous Re-Creation: From Kalam Atomism to Contemporary Cosmology”, Kalam, journal of Islamic Theology, Vol. 1 (2018), p. 59-66.

[11] Shoaib Ahmed Malik, Atheism and Islam: A Contemporary Discourse, 27-28. 

[12] Jonathan A.C. Brown, “Is Islam Easy to Undestand or Not? Salafis, The Democratization of Interpretation and The Need for Ulema”, Journal of Islamic Studies (2014), h. 1- 28; Khalif Muammar Harris, “Pseudo Salafi, Ekstrimisme dan Keruntuhan Autoriti”, Makalah dibentangkan di dalam Seminar Pemikiran Islam Peringkat Kebangsaan II, anjuran Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Kuala Lumpur pada 20-22 Juli 2010.

[13] Shoaib Ahmed Malik, Atheism and Islam: A Contemporary Discourse, h. 28-29.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *