Konsep Atomisme dalam Teologi Ash’ariyah

Konsep Atomisme dalam Teologi Ash’ariyah

afi.unida.gontor.ac.id – Ide mengenai atomisme telah mempunyai sejarah panjang baik di dunia Timur dan Barat, karena ia muncul dari berbagai cetakan filsosofis dan kultur dimana ide ini dipahami sepanjang sejarah, ia telah menimbulkan variasi luas mengenai formulasinya, yang tidak ada definisi yang cukup untuk mengekspresikannya. Dari teori atom klasik Yunani spekulatif filsosofis kepada atomisme abad ke lima sekte-sekte agama India, dari atomisme kalam di abad sembilan kepada abad Renaissance Eropa dan teori atom sains modern, satu ide fundamental dan hanya satu yang menyamakan semua teori-teori ini yaitu ide mengenai terbatasnya pembagian partikel-partikel yang menyusun dunia material. 

Filsafat alam atomistik adalah islami sejauh ia mempunyai basis qur’ani. Namun ia hanyalah sebuah dan bukan satu-satunya filsafat alam dalam Islam, karena ia tidak berbasis sepenuhnya dari seluruh ajaran qur’an mengenai alam, namun lebih kepada perspektif teologis spesifik yang terdapat dalam wahyu. Ada juga perspektif teologis lain dalam al qur’an yang dalam faktanya telah digunakan oleh kelompok intelektual lainnya untuk digunakan sebagai basis untuk menjelaskan filsafat-filsafat alam yang berbeda dengan tradisi kalam. Poin inilah yang penting untuk ditekankan. Secara konteks esensial, perdebatan antara tradisi kalam dan falsafah bukanlah debat antara dua pandangan alam, satu islami dan yang lain tidak islami atau kurang. Sebaliknya, ia adalah debat antara dua perspektif filosofis yang keduanya memenuhi kriteria fundamental keislaman sehingga setara untuk disebut islami.

Atomisme Muslim dalam Sejarah

Teori atomisme pertama kali dikembangkan dalam Islam oleh para teolog Mu’tazilah pada abad awal-awak abad ketiga. Bagaimanapun, adalah merupakans suatu keniscayaan bahwa saat pertengahan abad ketiga atomisme menjadi mapan dalam lingkaran teologi Islam sebagaimana ia ditujukan sebagai antitesis Aristotelianisme. Menurut penjelasan mengenai kalam  atomisme awal sebagaimana yang dijelaskan oleh  Abu al Hasan al Ash’ari dalam Maqalatnya, seperti tokoh mu’tazilah abad kesembilan Abu al Hudhail al ‘Allaf, al Iskafi, Mu’ammar ibn Sulami, Hisyam Fuwati dan Abbad ibn Sulaiman dimana semuanya menerima teori atom dalam satu bentuk atau berbeda.

Pembahasan atomisme ini mulai oleh teolog-teolog Mu’tazilah yang kemudian dibenahi dan dikembangkan secara ekstensif oleh kelompok Asya’irah, terutama al Baqillani yang diakui ketenarannya dengan filsafat alamnya. Setelah abad keempat maka atomisme kalam Asya’irahlah yang menyebar, yang didukung oleh beberapa tokoh terkenal seperti al Ghazali dan Fakh al Din al Razi. Bahkan, teori ini masih tetap dominan menjadi filsafat alam sampai hari ini dalam teologi sunni.

Jika asal mula kalam banyak bergantung pada faktor internal dalam komunitas Islam, maka perkembangannya banyak berhutang pada faktor eksternal. Faktor eksternal pertama adalah serangan teologis yang bertentangan dengan dasar ajaran Islam yang dibawa oleh grup-grup agama sepeti Yahudi, Kristen dan Manisean. Faktor lainnya adalah perkenalan ide-ide filosofis Yunani dalam komunitas Islam melalui penterjemahan karya-karya Yunani kedalam bahasa arab. Tantangan terhadap pemikiran Islam disebabkan oleh dua faktor ini telah terjadi semenjak awal-awal abad kedua. Ia kemudian menambah dimensi baru pada keseluruhan problem pemikiran yang harus diatasi oleh kalam yang baru lahir.

Sifat dari tantangan baru ini ada dua, satu yaitu metodologi dan yang lain doktrinal. Dalam level metodologi tantangan tersebut berkaitan dengan menemukan jawaban rasional terhadap problem fundamental hubungan antara wahyu dan akal. Sedangkan dalam level doktrinal  tantangan tersebut berkaitan dengan problem mengidentifikasi dan memformulasi kriteria autentik ortodoksi dan keislaman. Dalam menghadapi hal-hal ini muncullah dua kelompok yang mengambil sikap berseberangan disatu sisi ada Mu’tazilah yang berusaha merasionalisasikan iman yang selanjutnya mengarahkan mereka untuk menolak sifat ketuhanan, sedangkan disatu sisi ada juga kaum ekstrimis literalis yang secara diametral menolak usaha-usaha untuk merasionalisasikan keimanan.        

Prinsip-Prinsip Umum mengenai Teologi Ash’ariyah

Kalam Ash’ariyah muncul sebagai reaksi melawan dua kelompok pemikiran yang saling bercanggah ini. Yaitu suatu reaksi yang mengambil jalan tengah diantara dua garis yang bertentangan. Meskipun Ash’ariyah menerima keharusan untuk merasionalisasikan keimanan, mereka secara umum berlawanan dengan metodologi rasional dan spekulasi falasifah. Tanpa diragukan, maksud mereka tidak lain adalah untuk menjaga fundamentalitas dan supremasi wahyu diatas akal. Dalam satu sisi, kaum Ash’ariyah juga memiliki independensi dalam spekulasi intelektualnya. Tidak seperti para filsuf yang terikat dengan salah satu aliran flsafat Yunani. Inilah yang membuat mereka begitu tajam dalam mengkritik fisika Aristoteles. Sebagai konsequensi, mereka pun mampu dalam mengembangkan ide-ide baru mengenai ilmu-ilmu alam, khususnya dalam teori atomisme.

Atomisme Ash’ariyah dan Konsepsi Alam

Atomisme Ash’ariyah adalah buah dari aplikasi langsung dari perspektf teologis tertentu yang tertanam dalam wahyu dalam domain alam. Aplikasi ini melibatkan ide-ide dan konsep-konsep yang ditarik dari berbagai sumber disamping sumber Islam. Ide-ide dan konsep asing ini dengan mudahnya kemudian terintegrasi ke dalam perspektif teologis yang dimaksud. Keunikan perspektif teologis kalam berangkat dari fakta banyaknya nama dan sifat ketuhahan, kemudian ia memilih untuk fokus pada satu dari mereka dengan maksud untuk membangun worldview keagamaan. Kalam berusaha menggambarkan ketidakterbatasan kekuasaan Tuhan yang hampir pada titik mengabaikan semua sifat-sifat lain. Bagi Ash’ariyah maksud luarbiasa dari kehendak Tuhan adalah “apa yang Dia inginkan” dan “karena Dia ingin”.     

Saat konsep kehendak Tuhan ini diaplikasikan dalam alam, perspektif ini memunculkan suatu ide penting yang dikenal di Barat dengan “Occasionalism” yang didefinisikan sebagai kepercayaan terhadap kehendak eksklusif Tuhan yang mengintervensi langsung segala peristiwa di alam sebagai manifestasi dan kesempatan yang terbuka. Paham ini mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dan semua peristiwa di alam ini secara substansial pada hakikatnya adalah terputus-putus (discontinuous).

Dunia adalah domain dari entitas-entitas terpisah dan konkret yang independen satu sama lain. Maka, tidak ada koneksi apapun antara mereka, yang hanya terjadi saat dikehendaki oleh Tuhan. Jika A berhubungan dengan B, itu bukanlah karena hakikat mereka yang berhubungan tapi karena Tuhan menghendaki hal tersebut. Maka setiap akibat yang terjadi secara eksklusif disebabkan oleh Tuhan. Dengan demikian Occasionalism juga mengimplikasikan penolakan atas kausalitas dalam konteks yang dipahami oleh para filsuf dan saintis.

Secara umum, pendekatan Ash’ariyah kesuluruhan dalam hal Atomisme adalah dibingkai oleh pertimbangan-pertimbangan keagamaan. Pada awal mulanya mereka memformulasikan kerangka teoritis umum berdasarkan dua sumber utama Islam yaitu al Qur’an dan Hadits. Dalam kerangka umum inilah mereka berusaha menawarkan formulasi-formulasi konseptualnya yang berkaitan dengan Atomisme, begitu juga solusi-solusinya. Adapun secara detail, ada dua sumber kemungkinan atau jalan yang terbuka bagi mereka. Pertama yaitu karya-karya mengenai atomisme dari sumber non Islami yang mereka ketahui, jalan kedua yaitu melalui pikiran spekulatif mereka.

Sifat dan Karakteristik Atom Ash’ariyah[1]  

Kaum Ash’ariyah mempostulasikan adanya partikel-partikel yang tidak bisa dibagi atau yang disebut sebagai al juz’ alladhi la yatajazza’. Partikel-partikel ini adalah unit paling fundamental dari segala sesuatu dimana dengannya seluruh bagian alam semesta diciptakan. Alam semesta adalah sesuatu selain Tuhan, yang terdiri dari dua elemen yaitu atom-atom dan aksiden-aksiden. Atom adalah lokus dimana aksiden bertempat disana. Suatu aksiden tidaklah bisa eksis dalam aksiden lainnya, namun hanya dapat eksis dalam atom atau tubuh (jism) yang tersusun dari atom-atom tersebut. Sebaliknya, suatu tubuh tidaklah bisa dilepaskan dari aksiden-aksiden, baik positif atau negatif, sebagaimana warna, bau, hidup, ilmu atau lawannya.

Karakteristik pertama dari atom Ash’ariyah adalah ia tidak memiliki ukuran atau dimensi (kam), dan mereka semua adalah homogen. Dengan kata lain, mereka adalah entitas tanpa panjang dan kedalaman, adapun saat mereka terkombinasi untuk membentuk tubuh mereka memiliki dimensi. Maka, atom Ash’ariyah ini berbeda dengan atom Leucippus dan Democritus atau Epicurus dalam filsafat Yunani yang selalu dipresentasikan memiliki dimensi. Karakteristik utama kedua adalah mereka tertentu atau terbatas dalam jumlah. Sehinga berbeda dengan semua kelompok atomis Yunani yang percaya pada pembagian tidak terbatas materi dan yang menekankan bahwa jumlah atom tidaklah terbatas, disini kaum Ash’ariyah mengggunakan basis ayat al Qur’an dalam argumennya dimana Allah berfirman “wa ahsa kulla Syai’in ‘adada” (al Jin:28).

Adapun karakteristik ketiga dari atom Ash’ariyah adalah mereka secara alami adalah fana. Ash’ariyah menegaskan bahwa atom tidak dapat bertahan dalam dua momen waktu (la yabqa zamanain). Maka dalam setiap momen waktu atom ada dan musnah. Setiap durasi atom adalah seketika. Eksistensi sesaatnya hanya mungkin melalui kehendak Tuhan terhadap aksiden durasi yang sebagaimana aksiden lainnya yang fana. Kefanaan atom dan aksiden ini adalah konsekuensi langsung dari keyakinan teologis mereka bahwa Tuhan mengintervensi langsung tidak hanya menciptakan semula sesuatu tapi juga keutuhan wujud mereka dari satu instan kepada yang lain.  

Jika atom dan aksiden diciptakan dan dimusnahkan dalam setiap instan waktu, maka bagaimana kita menjelaskan fakta pengalaman biasa manusia yang menunjukkan bahwa ini adalah dunia yang sama yang berlangsung eksis. Mengenai hal ini al Attas telah meringkaskannya dengan baik:

“Alam semesta,  setelah awal pen[2]ciptaannya, tidaklah bertahan atau berlangsung eksis, namun musnah; ia berhenti eksis pada setiap momen waktu, dan apa yang kita observasi bahwa ia berlangsung eksis pada realitanya adalah pembaruan berkelanjutan yang serupa. Maka, pada setiap momen waktu dunia ini butuh eksistensi dan apa yang kita observasi dari dunia tersebut adalah bahwa ia selalu bergantung untuk eksistensinya pada Tuhan. Yang kehendak menciptaNya secara kekal menciptakan dunia yang serupa dari non-ekistensi kepada eksistensi. Dalam konteks ini, kita mengimajinasikan keberlangsungan dunia yang sama dalam eksistensi, dimana pada kenyataannya itu bukanlah kasusnya.”

Kehendak Tuhan menciptakan dunia yang serupa secara abadi dari non-eksistensi kepada eksistensi terjadi pada level atom dan mungkin dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketika Tuhan menciptakan atom suatu tubuh, Dia juga menciptakan didalamnya aksiden-aksiden yang membuatnya ada. pada momen atom ini musnah Dia menggantinya dengan atom yang sama dengan menciptakan didalamnya aksiden-aksiden yang sama, yaitu, aksiden-aksiden dari jenis yang sama sebagaimana yang ada pada atom sebelumnya, sepanjang selama Tuhan menginginkan tubuh yang sama itu untuk berlangsung eksis. Jika Dia menghendaki sebaliknya, maka Dia akan berhenti menciptakan aksiden-aksiden yang dimaksud.

Satu aspek lain dari atomisme Ash’ariyah adalah hakikat keatoman waktu dan gerak. Sesuai dengan keatoman tubuh adalah waktu yang juga bersifat atomik. Pandangan umum Ash’ariyah mengenai gerak dan jeda adalah bahwa keduanya merupakan mode dari substansi-substansi. Suatu substansi yang bergerak dari satu poin ruang kepada yang lain adalah jeda dalam relasinya dengan poin kedua, namun adalah  gerak dalam hubungannya dengan yang pertama. Hal ini karena gerak datang pada tubuh hanya setelah ia telah tuntas pada posisi keduanya. Karena pada level atomik kita tidak dapat membicarakan perpindahan atom yang sama dari satu poin ke poin yang lain. Sebaliknya, kita harus bicara mengenai penciptaan kembalinya pada poin kedua, karena ia musnah diantara keduanya. Konsekuensi lain dari teori gerak ini adalah afirmasi mengenai eksistensi ruang hampa atau kekosongan.             

Kausalitas dalam Perspektif Atomistik

Seperti yang telah kita lihat, kaum Ash’ariyah mengatomisasi materi, ruang dan waktu, sebagai hasilnya alam semesta menjadi domain entitas-entitas yang terpisah yang independen dari satu sama lain. Tidak ada hubungan antara satu momen eksistensi dengan setelahnya. Kaum Ash’ariyah dengan demikian menolak bahwa terdapat hubungan horizontal antara sesuatu. Dengan kata lain mereka menolak konsep kausalitas  Aristotelian. Bagaimana realitas yang terpotong, terbagi dan tidak bersambung ini menemukan koneksi dan kesatuannya?  Yaitu melalui kehendak Tuhan yang menciptakan segala sesuatu pada setiap momennya dan sebagai sebab langsung dan utama eksistensi dan kualitas mereka. Ada kesatuan dan harmoni dalam alam karena ia diwujudkan dan diatur oleh kehendak yang Maha Esa.

Ide Ash’ariyah mengenai Tuhan sebagai sebab utama segala sesuatu dan semua peristiwa menolak akan adanya peran sebab-sebab sekunder di alam. Tidak ada sesuatu yang diciptakan dan terbatas yang dapat menjadi sebab bagu sesuatu. Secara alami segala sesuatu tidak memiliki kekuatan kausal atau kualitas. Apa yang disebut sebagai kekuatan yang objek-objek natural termasuk manusia terlihat memilikinya bukanlah keuatan efektif karena ia hanya kekuatan yang terderivasi. 

Dalam penolakan terhadap ide Aristotelian mengenai kausalitas oleh pada teolog, penting disini kita tanyakan pada mereka apa itu hukum alam, yaitu hubungan regular, baik kualitatif atau kuantitatif yang ada antara segala sesuatu di alam sebagaiamana termanifestasikan dalam kesatuan urutan sebab dan akibat? Sebagaimana ilmu-ilmu kealaman bergubungan secara langsung dan tidak bisa dipisahkan dengan ide kausalitas. Disinilah penting kita pahami bahwa Ash’ariyah tidaklah menolak fakta bahwa fenomena alam menampilkan keseragamaan tersebut. Namun bagi mereka keseragaman ini hanyalah penampakan saja, tidak nyata, dalam arti ia tidak memiliki eksistensi objektif. Ia tidak lebih hanya sekedar konstruksi mental atau kebiasaan pikiran manusia yang selalu menghubungkan dua fenomena bersama antara sebab dan akibat, dalam bahasa yang lebih religius ia tidak lain dan tidak bukan adalah sunnatullah.[3]  

Disisi lain terdapat juga paham yang berseberangan dengan posisi Ash’ariyah ini, yaitu yang diwakili oleh para filsuf yang meyakini adanya hubungan pasti antara segala sesuatu. Mereka mengakui bahwa terdapat peran dari suatu ciptaan sebagai sebab horizontal dan sekunder dalam alam. Disinilah para filsuf kemudian membedakan antara empat jenis sebab. Yaitu material, formal, efisien dan final. Doktrin Aristotelian mengenai kausalitas yang dianut oleh mereka inilah yang diklaim mendasari hakikat segala sesuatu. Setiap benda dengan demikian memiliki hakikat spesifik yang menentukan fungsinya dalam tatanan kosmik.  

Disini kita mendapati adanya perjumpaan antara dua pikiran, dua perspektif dan dua filsafat dalam Islam. Setiap perspektif mempunyai fungsi positif untuk dimainkan dalam alam intelektual Islam, dan setiap perspektif memenuhi kebutuhan intelektual dari suatu sektor spesifik pemikiran orang-orang dalam komunitas Islam. bersama-sama keduanya mengayakan tradisi intelektual Islam. keduanya adalah perspektif yang hidup dengan makna dalam setiap zaman selalu ditemukan dua tipe pemikiran yaitu teologis dan saintifik.

Perspektif teologis terhadap kausalitas berusaha menjelaskan dunia dengan segala fenomena, natural dan supranatural atau mu’jizat dalam konteks kekuasaan Tuhan.[4] Untuk menjaga atau mengagungkan kekuasaan Tuhan, ia menolak realitas objektif dari kekuatan kausal dalam makhluk yang diberikan oleh Tuhan sebagai bagian dari hakikat mereka masing-masing. Dalam konteks ini sebab-sebab sekunder, horizontal dan langsung terlihat ditolak yang diarahkan secara penuh kepada sebab utama yang dipresentasikan sebagai sebab langsung dari segala fenomena yang dimaksud.

Diantara ayat al Qur’an yang mendukung argumen mereka ini adalah “lillahi ma fi al samawati wa al ardh wa ma fi hinna, wa huwa ‘ala kulli sya’iin qadir” (al Maidah: 120), “inna Allaha faliqu al habbi wa al nawa, yukhriju al hayya min al mayyiti wa mukhriju al mayyiti min al hayyi” (al An’am: 95), “wa huwa alladhi anzala min al sama’i ma’an” (al An’am: 99). “wa ma ramayta idh ramayta, walakin Allaha rama” (al Anfal: 17).

Adapun perspektif saintifik mengenai kausalitas berusaha menjelaskan dunia dan fenomena, termasuk mu’jizat dalam konteks sebab natural atau dengan menariknya kepada hakikat segala sesuatu yang diberikan bagi mereka oleh Tuhan. Para filsuf muslim tidak pernah menolak realitas Tuhan sebagai sebab utama segala sesuatu, atau mereka menolak kemungkinan kemungkinan mu’jizat sebagai yang dikatakan oleh musuh mereka. Namun sebagai saintis, mereka menekankan urgensi akan sebab-sebab sekunder dan langsung tanpa melupakan asal ketuhanannya.

Doktrin mereka mengenai rantai kausal vertikal, yang dimulai dari sebab-sebab fisik dan diakhiri dengan wajibul wujud (Tuhan) sebagai sebab pokok, nampak bagi para musuh mereka sebagai bentuk kompromi atas ide Tuhan sebagai determinasi dan kebebasan mutlak. Diantara ayat-ayat al Qur’an yang mendukung pendapat mereka adalah “alladhi khalaqa fa sawwa, walladhi qaddara fahada” (al A’la: 2-3), “Allahu alladhi khalaqa sab’a samawati wa min al ardhi mitslahunna yatanazzala al amru bainahunna” (al Dzariyat: 12).

Posisi dan Signifikasi Atomisme Ash’ariyah

Kalam atomisme dan Okasionalismenya mempunyai dampak yang besar terhadap Skolatisisme Latin sebagaimana juga terhadap filsafat Pasca-Renaissance dalam pemikiran Descartes, Malebrance dan Hume. Orang yang berperan dalam transmisi kalam pada Barat Latin adalah filsuf dan teolog Yahudi terkenal Musa bin Maimun atau yang dikenal dengan Moses Maimonides. Bukunya dalalat al ha’irin menyediakan penjelasan komprehensif mengenai Kalam yang telah diterjemahkan kepada bahasa Latin pada awal 1220 yang selanjutnya menjadi basis bagi Thomas Aquinas dalam mengkritik Okasionalisme Islam.

Atomisme Ash’ariyah juga memiliki signifikasi besar bagi filsuf dan sejarawan sains kontemporer. Hal ini karena ia memiliki banyak kesamaan dengan teori atom fisika modern. Salah satu konsekuensi penting dari hal ini adalah kita dituntut untuk menguji kembali asumsi-asumsi yang melandasi pandangan-pandangan yang terima akhir-akhir ini mengenai fondasi epistemologis dari metodologi dan teori-teori ilmiah yang ada. Karena Atomisme Ash’ariyah menyuguhkan kemungkinan lain bagi kita untuk melihat dan memahami alam, yang berbeda dengan apa yang diadopsi dalam sains modern, namun ia telah berhasil dalam memformulasikan kesatuan teori atom yang menyediakan fitur-fitur serupa dengan fisika kuantum kontemporer.[5] 

*Artikel ini disarikan secara bebas dari The History and Philsophy of Islamic Science (Cambridge: Islamic Text Society, 1999), oleh Osman Bakar, h. 77-101.

Oleh: Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor


[1] Lihat juga A. I. Sabra, The Simple Ontology of Kalam Atomism: An Outline, dalam jurnal Early Science and Medicine, Vol. 14 (2009), h.  68-78; Kalam Atomism as An Alternative to Hellenizing Falsafa dalam James E. Montgomery, ed., Arabic Theology, Arabic Philosophy: Essays in Celebration of Richard M. Frank (Leuven, 2006), h. 199-272.

[2] Syed Muhammad Naquib al Attas, A Commentary on The Hujjat al Siddiq of Nur al Din al Raniri (Kuala Lumpur: Ministry of Culture, Youth and Sports, 1986), h. 256. 

[3] Lihat Adi Setia, Atomism Versus Hylomorphism in the Kalam of al Fakhr al DIn al RazI: A Preliminary Survey of the Matalib al Aliyyah dalam jurnal Islam and Science, Vol. 4 (Winter 2006) No. 2, h. 138.

[4] Lihat lebih jauh, A I Sabra, Science and Philosophy in Medieval Islamic Theology dalam Muzaffar Iqbal, Studies in The Islam and Science Nexus, Vol. 4 (England: Ashgate, 2012), h. 373-7.  

[5] Lihat misalnya, Mehmet Bulgen, “Continuous Re-Creation: From Kalam Atomism to Contemporary Cosmology” dalam jurnal Kalam, h. 59-66; Mehdi Golshani, “Quantum Theory, Causality, and Islamic Thought”, dalam The Routledge Companion to Religion and Science, ed. James W. Haag, Gregory R. Peterson, and Michael L. Spezio (New York: Routledge, 2012), h. 179-99; K. Harding, “Causality Then and Now”, American Journal of Islamic Social Sciences 10, no. 2 (Summer 1993), h. 165-77.

One comment

  1. Pingback: Orientalisme dan Oksidentalisme (Mengenal Pemikiran Timur dan Barat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *