Kurikulum Dan Metode Pendidikan

Kurikulum Dan Metode Pendidikan

afi.unida.gontor.ac.id – Kurikulum secara harfiah berarti lintasan, kurikulum berasal dari Bahasa Latin curriculum, yang mempunyai arti jalan atau lintasan.[1] Kurikulum ini dalam pengertian umum adalah seluruh aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan itu. Maka kurikulum pendidikan akan diasaskan dengan tujuan pendidikan dan segala prosesnya harus memperhitungkan kondisi guru, murid, dan proses pendidikan yang memungkinkan.

Tujuan atau goal inilah yang menjadikan pendidikan bukan sekedar mengajar atau transfer penegtahuan. Lebih dari itu, tujuan pendidikan harus menjadikan manusia itu baik. Syed Muhammad Naquib Al-Attas berpendapat bahwa: “tujuan pendidikan daripada tingkat rendah hingga tingkat yang paling tinggi seharusnya tidak ditujukan untuk menghasilkan warganegara yang sempurna (complete citizen), tetapi untuk melahirkan manusia yang baik”.[2]

Manusia dalam Psikologinya memiliki jiwa yang dapat memiliki tugas berbeda, (‘aql) intelek, jiwa (nafs/soul), hati (qolb/heart), dan roh (ruh/spirit). Keempat keadaaan ini terlibat dalam seluruh kegiatan manusia yang bersifat kognitif, empiris, intuitif dan spiritual.[3] Kempampuan ini saling terhubung, dan tidak ada dilotomi didalam proses dan hasil pengetahuan dari keempat jiwa ini.

Dalam pemahaman ini pula proses mengilmui sesuatu bukan lah gerak indra dan akal yang menjadi recipent dan pengolahnya, hal ini tentunya tidak akan memadai dalam proses mengilmui. Kedua terma tadi dalam pemahaman Al-Attas adalah sebagian kecil dari salah satu fakultas dari lima fakultas yang ada dalam manusia. Ketika common sense tidak dapat menyimpan data, tugas fakultas representatif (al-khayaliyyah) adalah menyimpan gambaran atau image, dan penilaian didalamnya didapat dari fakultas waham atau anggaran (al-wahmiyyah).[4]

Penilaian ini berdasarkan atas imaginatif dan naluri tanpa adanya  analisis intelektual dan ingatan (memory). Fakultas ingatan dan relokasi (al-hafidzah dan ad-dzakirah) inilah yang menyimpan dan mengumpulkan bentuk-bentuk dan makna agar faklutas estimasi bertindak. Fakultas yang kelima adalah fakultas imaginasi (al-mutakhayillah) yang memiliki dua fungsi, yaitu imaginasi indrawi (mutakhayyil) yang bertanggungjawab atas teknik dan artististik atau seni manusia. Dan yang kedua berfungsi sebagai imaginasi rasio (al-mufakkirah) yang bertanggungjawab atas semua kegiatan intelektual.[5]

Dalam mengkonsep psikologi manusia, ajaran Islam selalu melandaskan kepada wahyu, dan subjek paling penting dalam pengembangan psikologi dan akhlak menurut Islam bukanlah semata-mata dari kebenaran intelektual, melainkan berdsarkan hakikat kerohanian spiritual yang harus tercermin dan direalisasikan oleh kegiatan keagamaan dan akhlak serta latihan-latihan spiritual.

Menurut S.M.N Al-Attas kegiatan membaca, berfikir, berdiskusi, melakukan eksperimen, renungan dan berdoa adalah sengat berguna karena kegiatan ini adalah untuk pencapaian jiwa kepada makna sesuatu, dan secara serentak rahmat tuhan akan terbuka sehingga makna itu sampai kepada jiwa.[6] Maka tujuan yang ikhlas, kekuatan moral, perenungan atau berfikir adalah penting dalam prsoes meraih ilmu pengetahuan dan pemahaman yang benar.

Aspek indra dan akal harus diletakkan tepat pada tempatnya dan tidak ada pemisahan didalamnya. Akal dan indra tidaklah dapat berdiri sendiri dalam menghasilkan ilmu pengetahuan karena hasil pengetahuan adalah peleburan keduanya atau kesepaduan antara akli dan indrawi.[7] Jika salah satu tidak digunakan maka akan menghasilkan sesuatu yang kasar, liar dan tragis, bahkan akan ssangat berbahaya bagi pembentukan manusia dan peradabannya.

Akal dan Indra akan sangat terbantu dengan pengunaan metafora dan cerita seperti dalam Al-Qur’an yang banyak mengunakan kaedah ini sebagai perumpamaan dan permisalan. Kaedah ini bukan merupakan hiasan puitis saja namun pemaknaan didalamnya menyangkut penggambaran pemahaman akan metafisika dalam hubungannya antara kesatuan dengan keragaman atau reaiti mutlak dengan hal fenomenal. Sebagaimana komentar Izutsu dalam karyanya the Concept Reality and Existence.[8]            

Dalam pengunaan metafora ataupun cerita, irisan kebenaran dan realitas makna yang benar dapat dijangkau oleh manusia sebagaimana Al-Qur’an banyak menggunakan cerita dan metafora. Gambaran mengenai kebenaran melalui kaedah ini transfer ilmu akan bisa diterima dengan mudah, dan akan sangat membatu dalam proses mengilmui seuatu. Penjabaran dengan metafora dan cerita dalam Islam sudah terealisasikan dalam Al-Qur’an. Metafora dan cerita ini adalah bukti dari kesatuan antara intelek dan artistik ilmuwan muslim.

Hanif Maulana Rahman
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor


[1] Adian Husaini, Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Beradab, (Jakrta-Surabaya: Bina Qalam-INSIST, 2015), h. 298.

[2] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Preliminary Notes on the National Philosophy and Objectives of Education; dikirimkan kepada Tan Sri Ghazali Syafie pada September 1970. Surat bertaip, h. 2-3.

[3] Wan Mohd Nor Wan Daud, Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam S.M.N. Al-Attas, Satu Huraian Konsep Asli Islamisasi (Kuala Lumpur : Penerbit University Malaya, 2016), Cet. VII., h. 233.

[4] Wan Nor Mohd Wan Daud, Falsafah dan Amalan…, h. 234.

[5]  Wan Nor Mohd Wan Daud, Falsafah dan Amalan…, h. 234.

[6] Wan Nor Mohd Wan Daud, Falsafah dan Amalan…, h. 236.

[7] Wan Nor Mohd Wan Daud, Falsafah dan Amalan…, h. 242.

[8] Wan Nor Mohd Wan Daud, Falsafah dan Amalan…, h. 243.

One comment

  1. Pingback: Orientalisme dan Oksidentalisme (Mengenal Pemikiran Timur dan Barat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *