Perbaiki Niat dengan mendekatkan diri kepada Allah

Perbaiki Niat dengan mendekatkan diri kepada Allah

afi.unida.gontor.ac.id – Al-Ustadz Hariyanto, M.Ag. mengajak mahasiswa untuk kembali memperbaiki niat dalam menjalani kegiatan perkuliahan pada semester baru. Ajakan ini diutarakan dalam sambutan beliau pada acara family gathering dan pembacaan ma’sturot bersama mahasiswa Program studi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor kampus Siman, Ponorogo di Hall gedung Central of Islamic Economy Studies (CIES)  (23/11/20).  Acara ini juga merupakan pembuka kegiatan Prodi untuk satu semester kedepan.

Dalam sambutannya, beliau memberikan langkah-langkah guna menjadi pribadi yang lebih baik kepada seluruh mahasiswa. Pertama-tama beliau memberikan penjelasan mengenai tujuan hidup manusia terkhusus manusia yang menyandang gelar mahasiswa “fahami dahulu apa sebenarnya esensi dari manusia, maka kita akan faham tujuan hidup kita. Begitupula menjadi mahasiswa, sebelum mengetahui tujuan hidup mahasiswa, kita harus tau esensi dari mahasiswa sendiri” tutur beliau dalam kata sambutannya pada acara tersebut.

Pernyataan yang diutarakan oleh ust. Hariyanto tersebut memancing seluruh mahasiswa untuk mencoba menyelami dan menghayati makna hakiki seorang mahasiswa. Dalam kehidupan mahasiswa dan juga sebagai seorang hamba Allah yang merupakan penuntut ilmu, sudah sepatutnya selalu menyibukkan diri dangan proses belajar demi kemajuan Bangsa dan Agama. Ketika hari-hari seorang mahasiswa hanya digunakan untuk bersantai dan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat, maka hilanglah esensi dari seorang mahasiswa. Jelas Ust. Hariyanto.

Setelah memahami tujuan hidup, langkah selanjutnya adalah memperbaiki niat. Niat yang sebelumnya dikira kurang tepat, harus mulai diperbaiki perlahan-lahan dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Ust Hariyanto menjelaskan, “Hanya Allah yang mempu memperbaiki niat seseorang, maka untuk mendapatkan perbaikan niat, dekatkan diri selalu kepada Allah”. Disamping itu beliau juga memberi pengibaratan untuk manusia yang hidup di  dunia ini bagaikan sedang berenang di tengah samudra yang tak bertepi dan hanya satu hal yang bisa menolongnya. Pertolongan Allah lah yang mampu menolong manusia dan mengangkatnya dari samudra yang tak bertepi tersebut. Oleh karena itu, pertolongan Allah menjadi hal yang sangat primer bagi manusia.

Manusia tidaklah lebih mengetahui daripada Allah, begitu pula dengan niat. Manusia tidak mengetahui niat mana yang tepat untuk ditempatkan sebagai landasan dalam berbuat tanpa ada petunjuk dari Allah, walaupun manusia yang diberi akal seharusnya mampu membedakan niat baik dan niat buruk. Tapi, terkadang niat baik yang direncanakan oleh manusia tidak sesuai dengan hasil yang didapat dari niat tersebut. Tak jarang niat baik manusia berakhir dengan hasil yang kurang baik. Maka, kedekatan seorang manusia kepada Allah sangat mempengaruhi ketepatan niat dan perilaku dalam melakukan sesuatu.  Hal ini dikarenakan kedekatan seorang hamba dengan Allah memiliki potensi untuk mendapat petunjuk mengenai niat mana yang baik sekaligus tepat untuk diterapkan.

“Acara pembacaan ma’sturot bersama dan ramah tamah seperti ini harus sering diselenggarakan. Selain untuk melanjutkan kebiasaan baik, juga sebagai ajang memperkuat ukhuwah antar mahasiswa, staf dan jajaran dosen. Kuatnya ukhuwah antara kita akan berimbas kepada semangat dalam perkuliahan dan terbentuknya rasa empati antara satu mahasiswa dengan yang llainnya” ujar Muhammad Husen, mahasiswa Aqidah dan Filsafar Islam semester 4 ketika dimintai komentar mengenai acara malam itu.            

Acarapun disambung dengan sholat maghrib berjama’ah dan ramah tamah antar mahasiswa, staf dan dosen. Perbincangan hangat tercipta dari lingkaran-lingkaran kecil yang di bentiuk oleh para mahasiswa dan dosen kala berlangsungnya ramah tamah. Perbincangan yang malhirkan tawa dan sorot mata ceria juga memperhangat family gathering malam itu di Hall gedung CIES.

Baca Juga:
Kematian: Ingatlah bahwa Ajal Akan Menjemputmu
Kunci Kebahagiaan Dalam Hidup Seorang Mukmin
Syariah dan Akhlaq Sebagai Asas Dalam Membangunan Peradaban

Oleh: Mawardi Dewantara
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Dasrussalam Gontor

One comment

  1. Pingback: Semarak Symposium DEMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *