NGOPI “Ngobrol Pemikiran Islam” Prodi AFI

NGOPI “Ngobrol Pemikiran Islam” Prodi AFI

afi.unida.gontor.ac.id – Al-Hamdulillah pada kesempatan hari ini kita masih diberikan nikmat iman, nikmat islam, serta nikmat  kesehatan dan juga masih diberikan umur panjang untuk bisa terus beristiqomah dalam menjalankan amalan-amalan ibadah yang diberikan-Nya kepada umat manusia. Maka kita harus terus bermunasabah, mu’amalah ma’allah, serta bermunajat kepada Allah Tuhan semesa alam ini. Al-hamdulillah kami selaku mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam dapat sangat antusias dalam membangun peradaban diskusi islami yang meliputi pembahasan Filsafat, ilmu kalam, serta ilmu tasawuf. Alhamdulillah pada kajian pekanan ke-2 “NGOPI” ini dilaksanakan pada hari rabu tanggal 23/12/2020 M. Dan pada kajian pekanan ke-2 “NGOPI” ini kami mengundang kakak tingkat kita yaitu “Choirul Ahmad” selaku pemateri pada malam yang penuh barakah ini, beliau membahas yaitu tentang “kausalitanya Imam Abu Hamid Al-Ghazali”.

Pertama, ilmu pengetahuan berkesesuaian pikiran dengan realita. Kedua, indera sebagai satu-satunya supplier materi pada otak manusia, tapi otak bisa mendeduksinya di dunia nyata yang tidak dilakukan indera. Ketiga, otak manusia adalah instrumen yang didesain untuk memahami dunia nyata tapi akal bukan sebab utama ilmu pengetahuan, Tuhan adalah sebab utama ilmu pengetahuan. Keempat, penolakan Ghazali terhadap kausalitas di alam nyata bukan penolakan terhadap ilmu pengetahuan seperti yang dituduhkan Ibnu Rusyd. Kelima, Ibnu Rusyd salah paham terhadap Ghazali. Sebab Ghazali mengubah kausalitas menjadi sunnatullah. Keenam, teori kausalitas Ghazali dan ilmu pengetahuan sejalan dengan argumen teologis dan epistemologisnya. Wahyu dan susunan alam ini dapat dijelaskan. Tidak melulu empiristis.

Menurutnya, justru Ghazali mampu mengembalikan peran Tuhan dalam sains yang sebelumnya tersekularkan sebagaimana dipisahkannya peran Tuhan oleh ilmuan Barat saat ini. Al-Ghazali adalah intelektual Islam luar biasa karena karyanya setara dengan apa yang dicapai orang Barat selama lima abad. Ghazali belajar filsafat secara otodidak selama dua tahun di sela-sela kesibukannya mengajar. Kemudian diendapkan selama satu tahun hingga paham betul. Dalam realita, teori kausalitas ini menjadi satu bahan yang dituduhkan kepada Imam Ghazali bahwa yang membuat umat Islam mundur karena Ghazali menolak teori kausalitas. Orientalisme seperti Goldzhier menuduh Ghazali konservatif religius yang membuat mundur ilmu pengetahuan.

Pada kesempatan hangat ini ia juga meluruskan bahwa Imam Ghazali tidak memusuhi sains. Mengutip Camil Erdogan, bagaimana mungkin Ghazali sendirian mampu menolak sains. Kemudian setelahnya banyak juga lahir sains. Faktanya, Ghazali juga menyumbang perkembangan sains. Yang ditolak Imam Ghazali adalah para filsuf bukan kausalitasnya.

“Sebab-akibat pada realitas fisik adalah bagian metafisik. Bahasa lain, hukum sebab-akibat adalah bagian dari kekuasaan Allah. Sebab-akibat itu diciptakan Allah, tapi Allah tetap berperan. Salah satu ilmuan Barat yang terpengaruh dengan teori kausalitas Ghazali di antaranya David Hume. Dari framework ini mengakhiri perdebatan antara Ghazali dan Ibnu Rusyd. Kita tidak mengatakan Ibnu Rusyd salah, tapi salah paham,” ujar Budi.

Konsep sebab-akibat al-Ghazali menjadi popular karena ia merupakan bahagian (masalah ke-17) dalam Tahafut al-Falasifah. Di situ ia menyatakan bahwa “Apa yang selama ini dianggap hubungan sebab dan akibat bagi kami adalah tidak pasti (ghayr dharuri).” Karena penolakannya terhadap kepastian hukum sebab-akibat itu maka Ibn Rushd menuduhnya telah menolak ilmu pengetahuan, sebab katanya sumber ilmu pengetahuan adalah dari pada konsep sebab-akibat.

Kenyataannya, pemikiran al-Ghazali yang menyatakan bahwa hukum sebab-akibat itu tidak pasti, justeru diambil dan dikembangkan oleh Malebranche dan David Hume di Barat. Sedangkan metod skeptiknya serta prinsip-prinsip epistemologinya diubah suai oleh Descartes. Sementara itu pemikiran Ibn Rushd yang diambil Barat adalah teori kebenaran gandanya. Teorinya itu menurut teolog neo-Thomist, Etienne Gilson, menjadi akar rasionalisme di Barat. Tapi pada saat yang sama dipakai para deis untuk menentang wahyu, dan memberi sumbangan kepada lahirnya sekularisme.

Imam al-Ghazali membawa konsep integrasi fisika dan metafisika, sains dan teologi atau agama dan sains. Ini jika konsep al-Ghazzali itu difahami dengan ‘paradigma’ yang berbeda dari Ibn Rushd, tapi bukan dengan teori paradigma Thomas Kuhn. Paradigma atau framework untuk memahami konsep sebab-akibat al-Ghazzali teori worldview (pandangan hidup atau pandangan alam).

Framework ini telah diaplikasikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam konsep Islamisasinya atau oleh Prof. Alparslan Acikgenc dalam memahami konsep sains Islam. Di Barat, konsep ini digunakan Thomas F Wall untuk kajian falsafah, dan Ninian Smart untuk perbandingan agama. Iaitu dengan mengkaji suatu konsep dalam kaitannya dengan keseluruhan konsep yang terstruktur.

Dengan framework ini posisi al-Ghazali menjadi jelas, bahawa ia melihat sebab-akibat pada realiti fisik sebagai sebahagian daripada realiti metafizik. Bahkan realiti makhluk yang relatif itu tergantung kepada realiti metafisik yang mutlak. Al-Ghazali membela konsep Tuhan Maha Pencipta. Proses penciptaan-Nya tertuang dalam Asma al-Husna, iaitu al-Khaliq, al-Bari, al-Musawwir. Kerana itu sebab-akibat pada alam semesta ini, meskipun telah ditentukan sejak awal penciptaannya, ia tetap tergantung pada Kehendak Tuhan dan tidak berjalan sendiri secara alami. Ini berseberangan dengan para failasuf yang membela konsep limpahan, di mana hubungan Tuhan-makhluk bukan dengan perantaraan aksi (fi’il) Tuhan tapi melalui proses limpahan (emanation) yang pasti (necessary) dan hukum sebab-akibat pada fenomena alam inipun akhirnya berjalan sendiri secara pasti.

Baca Juga:
Pembukaan Kajian FOKSAA
Kajian Forum Komunikasi Studi Agama-Agama (FOKSAA): Berpikir Kritis ala Ibn Taimiyah
Kajian Pemikiran Muhammad Arkoun

Oleh: Kanda Naufal Jauhar Gani
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

One comment

  1. Pingback: Beda : Islamisasi dan Integrasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *