Eco-Sufisme : Sebuah Tawaran Spiritual Atas Krisis Lingkungan

Eco-Sufisme : Sebuah Tawaran Spiritual Atas Krisis Lingkungan

Ada yang unik dengan kajian NGOPI pada rabu malam (30/12/20). Al-Ustadz Ishomuddin selaku pemateri membawakan nuansa baru bagi seluruh mahasiswa aqidah dan Filsafat Islam yang hadir pada kajian mingguan tersebut. Selain memberikan materi kajian, beliau menggalakkan pembacaan ma’sturot bersama sebelum dimulainya kajian dan sholat Hajad berjammah selesai penyampaian materi malam itu. Dalam kajian kali ini Al-Ustadz Ishomuddin menyampaikan materi mengenai kelansungan kehidupan alam sekitar dengan menerapkan worldview yang dibagun dari konsep tajali dalam kajian tassawuf.

Sholat Hajad Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gontor

            Manusia adalah makhluk yang selalu bergantung diri dengan kelestarian alam. Keberlangsungan kehidupan manusia tak bisa lepas dari eksplorasi alam sekitar. Namun sangat disayangkan eksplorasi alam untuk memenuhi kebutuhan manusia rupanya sudah berganti menjadi eksploitasi alam demi kepentingan dan kepuasan pribadi. Kebutuhan primer manusia bukan lagi menjadi tujuan utama dari eksplorasi alam. Keserakahan dan keegoisan orang-orang kayalah yang menjadi tujuan.

            Perlakuan terhadap alam tanpa mempertimbangkan kelangsungan hidup ekosistem didalamnya hanya akan mengakibatkan bencana terjadi dimana-mana. Dalam kajian NGOPI malam itu(30/12/20), Al-Ustadz Ishomuddin menjelaskan peranan cara pandang atau worldview islam terkhusus Tasawuf dalam memandang masalah eksploitasi alam yang sangat merugikan manusia sandiri. Beliau mengutarakan besarnya peran pola pandang dalam menentukan tindakan manusia terutama pada sector kelestarian alam. Menurut beliau eksploitasi alam yang terjadi tak lain merupakan dampak dari pola pandang kapitalis, positivis dan materialistis yang datang dari sistem kebudayaan dan worldview barat dan diadopsi oleh kebanyakan orang termasuk orang-orang islam sendiri.

            Pola pandang kapitalis beranggapan bahwa segala hal yang tidak memiliki nilai ekonomis bukanlah sesuatu yang bernialai atau meaningless dalam kajian filsafat. hal tersebut mengakibatkan setiap orang berpandangan bahwa alam sekitar haruslah memiliki nilai jual, dan berakhir dengan pemanfaatan alam secara berlebihan untuk membuat alam bernilai menurut para penganut worldview kapitalis.

            Begitupun yang terjadi dengan penganut materialisme dan positivisme. Dalam pandangan mereka, alam hanyalah sebatas barang yang hidup dan berjalan berdasarkan hukumnya tanpa mengaitkannya dengan unsur metafisik. Pandangan seperti itu pulalah yang menjadi cikal bakal eksploitasi besar-besaran terhadap alam oleh manusia yang tidak bertanggung jawab, karena manusia tak lagi memandang alam sekitas sebagai makhluk yang perlu dijaga kehidupannya sebagaimana Tuhan menciptakan alam untuk menjaga kehidupan manusia. Tapi hanya sebatas benda yang diamnfaatkan demi kepentingan manusia.

            Berbeda halnya dengan pola pandang atau worldview yang dibawa oleh peradaban islam. Dalam islam, setiap benda yang berada disekitar manusia memiliki kehidupan sendiri-sendiri. “Semua makhluk ciptaan Allah memiliki kehidupan walaupun kehidupan mereka bertingkat-tingkat” kata Al-Ustadz Ishomuddin pada kajian NGOPI malam itu . Selain itu, dalam kajian Tassawuf, dapat kita temui kata Tajalli yang berarti bahwa segala yang ada di dinia ini merupakan penampakan sifat dan nama-nama Allah, dimana manusia dapat mengenal Tuhannya. Dalam pandangan Tassawuf, alam sekitar memiliki derajat yang tinggi dan sangat dihargai.

            Cara pandang seperti yang diterapkan orang-orang tassawuf kiranya dapat menjadi jlan keluar dari permasalahan eksploitasi alam yang terjadi di masa ini. Dengan memandang alam sebagai perwujudan nama dan sifat Allah, akan membuat manusia menimbang ulang untuk melakukan eksploitasi yang sangat tidak menghargai alam.

            Rakyat Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat muslim, seharusnya lebih mampu dalam menjaga kelestarian alam sekitar. Tapi sayangnya merka sudah terperangkap dalam lingkaran yang dibawa orang-orang kapitalis, positivis dan materialis. Cara pandang mereka tak lagi berunsur islami dan menjadikan cara pandang barat sebagai pegangan hidup dan landasan dalam bertindak.

Baca Juga:
Forum Kajian tafsir (FASSIR) Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani
Peran Ilmu Dalalah dalam Prodi IQT UNIDA Gontor
Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan

Pen. Mawardi Dewantara

One comment

  1. Pingback: Semarak Symposium DEMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *